Renungan Di Balik Bencana

0
759

Oleh: Abu Muas T. (Pemerhati Masalah Sosisal)

Di tengah-tengah suasana penyebaran wabah virus covid-19 yang hingga kini belum juga dapat diprediksi kapan akan berakhirnya, di sela-sela ikhtiar, doa dan tawakal yang sedang kita coba pula bangun dan upayakan. Dan, di tengah-tengah kekhusyuan kita beribadah untuk mengharap keridhaan Allah SWT, ternyata tidak sedikit pula rasa khawatir yang hadir di dalam hati kita tentunya, karena kita tahu persis mungkin telah puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kali Allah telah menurunkan berbagai bencana/azab kepada kita.

Bencana yang satu belum juga teratasi tak lama kemudian disusul terjadinya bencana yang lainnya. Sehingga dirasakan seolah-olah negeri kita ini sangat akrab dengan yang namanya bencana. Atas terjadinya bencana yang saling menyusul ini, tak menutup kemungkinan di antara kita ada yang tergugah dengan azab Allah tersebut, atau mungkin di antara kita ada pula yang sama sekali tidak pernah tergugah atau tidak pernah merasa terusik bahkan tidak pernah bergeming oleh azab yang Allah anugerahkan kepada kita. Sehingga Allah SWT menganugerahkan azab secara global dan nasional yang kini bisa kita rasakan bersama saat ini.

Hal ini selayaknya menjadi pertanyaan sekaligus renungan dalam diri kita, sudahkah di relung-relung hati kita yang paling dalam masih memiliki atau bersemayan rasa keterbukaan dan kepekaan untuk bisa menerima sinyal-sinyal peringatan dari Allah sehingga mampu menghadirkan rahmat dan hidayah-Nya bagi kita? Diakui atau tidak, keterbukaan atau kepekaan untuk bisa menerima sinyal-sinyal peringatan dari Allah, tentu hanya dimiliki oleh sosok insan-insan muttaqien.

Ataukah sinyal-sinyal dari Allah baik dalam bentuk peringatan, teguran, maupun bencana/azab dibiarkan terus berlalu tanpa makna? Jika jawabannya, iya, sangat mungkin bisa terjadi dikarenakan diri kita sedang mengalami krisis atau degradasi keimanan. Sehingga pada gilirannya telah membawa diri kita ke dalam kondisi bisu, buta dan tuli mata hatinya, serta hawa nafsunya telah dijadikan tuhannya. Na’udzubillahi min dzalik.***