POLITIK ADU DOMBA ISTANA

0
580
Tarmidzi Yusuf Pengamat Politik dan Sosial/dok pribadi olahan JAKSAT

by Tarmidzi Yusuf
Pegiat Dakwah dan Sosial

Istana tampaknya paling getol adu domba. Politik belah bambu. Satu diangkat, satunya lagi diinjak.

Politik warisan Belanda diadopsi mentah-mentah oleh lingkaran istana. Beda-beda tipis dengan rezim China komunis. Sistem multi partai beraroma partai tunggal.

Era Jokowi paling banyak partai mengalami kisruh. Hampir semua partai di Indonesia ‘diobok-obok’ kecuali partai penguasa, PDIP. NasDem dan PKB aman karena sejak awal satu gerbong dengan Jokowi.

PPP ‘dibajak’ dari Suryadharma Ali melalui Romahurmuzziy. Tragisnya, menjelang Pilpres 2019 Romahurmuzziy ‘dikorbankan’. Mendekam dibalik jeruji besi.

Golkar kepengurusan kembar. Aburizal Bakrie dan Agung Laksono.

Hanura ‘diobok-obok’. Oesman Sapta Odang berhasil menjadi Ketua Umum. Wiranto terpental dari Hanura. Hasilnya, 2019 Hanura tidak lolos ke senayan.

Selanjutnya, PAN. Partai yang didirikan Bapak Reformasi, Prof. Amien Rais terbelah. Zulkifli Hasan ‘tersandera’ kasus. Cari aman, merapat ke istana. Sementara Amien Rais bikin partai baru, Partai Ummat.

PKS sempat diobok-obok melalui perseteruan Shohibul Iman dan Fahri Hamzah. Gagal total. Anies Matta dan kawan-kawan hengkang dari PKS, bikin partai baru bersama Fahri Hamzah, Partai Gelora.

Tahun 2019 dan awal 2020, Partai Demokrat sempat ‘diobok-obok’ melalui senior dan pendiri Partai Demokrat yang diduga melibatkan orang Istana, Luhut Binsar Panjaitan. Hasilnya, bisa kita lihat hari ini, AHY kokoh di pucuk pimpinan Partai Demokrat.

Belajar dari kesuksesan ‘kudeta’ di Partai Berkarya. Moeldoko bermain api dengan menggaet mantan politisi Partai Demokrat, koruptor kasus Wisma Atlet Nazaruddin Syamsuddin.

Pergerakan politik Nazaruddin dan kawan-kawan tercium oleh AHY dan SBY.

AHY bertindak cepat. Konperensi pers. Melemparkan isu kudeta Partai Demokrat oleh lingkaran istana, Moeldoko yang disebut-disebut direstui Jokowi.

Spekulasi banyak berkembang. Terutama arahnya untuk 2024. Ada rumor, lingkaran istana menyiapkan skenario Jokowi tiga periode. Dengan ‘dibajaknya’ Partai Demokrat otomatis 2/3 suara MPR sudah terpenuhi untuk amandemen UUD 1945 pasal 7 tentang pembatasan masa jabatan presiden.

Rumor lainnya, menjegal calon presiden potensial seperti Anies Baswedan dan AHY di Pilpres 2024. Ada kemungkinan calon tunggal Pilpres 2024. Calon yang direstui istana

Otoriter mana, Jokowi atau Soeharto? Silahkan simpulkan sendiri. Cuma ada bedanya. Bedanya, Soeharto anti PKI. Jokowi terkesan memberi angin bangkitnya PKI.

Jakarta, 20 Jumadil Tsani 1442/2 Februari 2020