JENDERAL ‘PERANG TOTAL’ GAGAL TOTAL ‘KUDETA’ MAYOR

Buah dari kegagalan jenderal yang kalah strategi dari seorang mayor berefek domino. Bakal kena reshuffle jilid dua dan karir politik meredup? Mulai ada saling serang antara jenderal dengan LBP.

0
10857

by Tarmidzi Yusuf
Pegiat Dakwah dan Sosial

Gagalnya jenderal istana mengambil ‘paksa’ Partai Demokrat yang dikomandoi seorang mayor menjadi perbincangan publik. Mungkin dia lupa dibelakang seorang mayor, ada seorang jenderal yang pernah menjadi Presiden Republik Indonesia.

Jenderal istana yang ketika Pilpres 2019 lantang bersuara ‘perang total’, ‘dipermalukan’, itu pun kalau si jenderal masih punya rasa malu, oleh seorang mayor.

Rencana ambil paksa Ketua Umum Partai Demokrat oleh sang jenderal diungkap ke publik oleh mayor. Rencana pun ambyar. Publik pun menuntut sang jenderal dipecat sebagai KSP. Mungkin juga ada konspirasi orang-orang istana dan anggota kabinet untuk ‘mempermalukan’ jenderal. Indikasi adanya persaingan politik di lingkaran istana dan kabinet?

Buah dari kegagalan jenderal yang kalah strategi dari seorang mayor berefek domino. Bakal kena reshuffle jilid dua dan karir politik meredup? Mulai ada saling serang antara jenderal dengan LBP.

Hikmah dari ‘kudeta’ gagal si jenderal membuka borok istana. Aib ‘Kakak Pembina’ yang sering mengobok-obok partai dan ormas Islam terungkap.

Publik curiga, kegaduhan Indonesia yang terjadi akhir-akhir ini bukan oleh HTI dan FPI seperti yang dipropagandakan oleh ‘Kakak Pembina’ dan jaringan buzzernya yang konon kabarnya dibiayai oleh APBN puluhan triliun. Indonesia gaduh oleh ulah ‘Kakak Pembina’ dan buzzer binaannya. Kesimpulan itulah yang kita dapat dari komentar publik di media sosial.

Bagi Tommy Soeharto dan Priyo Budi Santoso kasus kegagalan ‘kudeta’ Partai Demokrat membawa angin segar. Borok istana makin menyebar.

Kemarin, Sekjen Partai Berkarya kubu Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, Priyo Budi Santoso mengklaim Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly akan mengembalikan legalitas kepengurusan yang sah di bawah kepemimpinan Tommy Soeharto. (CNN Indonesia, 5/2/21)

Menariknya lagi, Partai Berkarya hasil pengambilan paksa, bergejolak. Dilanda konflik internal. Kubu Badaruddin Andi Picunang versus Pensiunan AD, Syamsu Djalal.

Akankah borok-borok istana makin terbuka, terutama skandal intervensi partai, pembubaran HTI dan FPI termasuk penguntitan HRS yang berbuntut terbunuhnya enam laskar FPI oleh kepolisian?. Rumor pun merebak, bakal digesernya Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran dan beberapa Kapolda. Termasuk Kapolda Jawa Barat, Irjen Ahmad Dofiri diproyeksikan bakal menjabat Kabareskrim.

Mungkin juga pertanda bakal ada gelombang lanjutan sebagai efek dari persaingan internal lingkaran istana dan kabinet menjelang tahun 2024 dengan menggunakan HTI dan FPI sebagai propaganda politik hitam?

Wallahua’alam bish-shawab.

Bandung, 24 Jumadil Tsani 1442/6 Februari 2021