Pikiran dan Kekuatan Gagasan Kritis

0
385
Hendrajit Direktur Eksekutif Global Future Institute/ist

OLEH HENDRAJIT *)

Yang berbahaya di mata oligarki adalah kemungkinan munculnya pikiran dan kekuatan gagasan kritis, bukannya radikalisme. Kritis lebih berbahaya daripada radikalisme atau radikal.

Kasus pelaporan terhadap Bang Din justru mau membangun kesan bahwa radikal itu lebih berbahaya daripada kritis.

Oligarki mapan saat ini takut pada pikiran kritis yang berpotensi mengilhami lahirnya cara pandang dan kesadaran baru dalam menyingkap sistem semu dan tersamar saat ini, dan potensi lahirnya pikiran dan gagasan alternatif untuk mengubah keadaan.

Kedua, pikiran dan pandangan kritis saat ini dengan sengaja dibaurkian dengna oposisi baik yang ada di dalam parlemen maupun di luar parlemen.

Padahal yang katanya oposisi baik di dalam maupun luar parlemen itu, menurut saya banyak yang nggak punya pikiran dan gagasan kritis sebagai alternatif untuk mengubah keadaan.

Para oposan dalam dan luar parlemen itu, cuma ingin menyerupai kekuasaan. Atau cuma ingin diajak gabung dalam oligarki.

Maka dari itu buat saya poin sentral terkait Bang Din, bukan apakah beliau radikal atau tidak. Sebab kalaupun benar beliau radikal, nggak penting juga toh buat saya radikal itu bukan hal yang membahayakan.

Justru hal yang lebih substansial wajib kita pertanyakan pada beliau, benarkah Bang Din bisa digolongkan orang-orang kritis sepertin dua kriteria yang saya maksud tadi?

Saya pribadi cenderung memandang bang Din belum punya sebuah pandangan kritis yang utuh dan mampu menguak akar soal krisis bangsa kita saat ini, apalagi menawarkan sebuah kontra skema mengubah rancang bangun sistem sekarang yang menciptakan jurang lebar antara rakyat dan oligarki.

Jadi kesimpulannya, memperkarakan Bang Din yang belum masuk kategori kritis dan namun melabel beliau jadi radikal, jelas mengada-ada dan kerjaan sia-sia belaka.***

*)Pengamat politik Global Future Institute (GFI)