PUBLIK HARUS KELUAR DARI ‘ZONA NYAMAN’ JOKOWI

0
565
Tarmidzi Yusuf Pengamat Politik dan Sosial/dok pribadi olahan JAKSAT

by Tarmidzi Yusuf
Pegiat Dakwah dan Sosial

Publik negeri ini mudah terbawa arus ‘zona nyaman’ Jokowi.

Ramai sebentar satu skandal, tiba-tiba hilang. Terbawa angin lalu ‘zona nyaman’ Jokowi.

Dulu, sebelum dan sesudah tahun 1998, sampai bosan kita mendengar isu KKN keluarga Soeharto. Saban hari muncul di media mainstream.

Konsisten dengan isu yang diangkat, KKN. Tidak mudah ‘terjebak’ dan ‘tergiring’ oleh permainan isu rezim yang berkuasa.

Lah sekarang….?
Publik terbawa angin segar yang ternyata angin lalu yang dihembuskan Jokowi dan kroni-kroninya. Isu utama seperti; korupsi, pelanggaran HAM dan masuknya TKA China komunis. Timbul tenggelam oleh ‘zona nyaman’ Jokowi.

Kita sibuk dengan ‘zona nyaman’ Jokowi, yang beralih dari satu isu ke isu lain untuk menutupi ‘zona tidak nyaman’ Jokowi.

Mega skandal perampokan Jiwasraya dan Asabri yang konon melibatkan lingkaran istana bernilai puluhan triliun, ‘hilang ditelan’ zona nyaman. Mulai dari ribut-ribut soal Laut China Selatan hingga terbongkarnya skandal baru Harun Masiku yang diduga melibatkan elite PDIP.

Belum selesai mega skandal Jiwasraya, Asabri dan Harun Masiku. Terkuak skandal baru. Perampokan BPJS Ketenagakerjaan bernilai puluhan triliun. BUMN yang lain menunggu giliran skandalnya terbuka.

Lagi-lagi publik terbawa ‘zona nyaman’ Jokowi. Mega skandal korupsi tidak terungkap dan tertangkap aktor utamanya. Yang duduk di kursi ‘pesakitan’ hanyalah pion-pion yang tak menyentuh aktor utama.

Masih segar dalam ingatan publik, beberapa aktivis KAMI ditangkap dengan tuduhan UU ITE.

KAMI dan oposisi dapat ‘vitamin’ manjur. HRS pulang ke Indonesia. Jutaan manusia sepanjang Soekarno Hatta Internasional Airport hingga ke Maskaz Syariah di Petamburan menyambut kepulangan HRS. Ada harapan dan semangat baru dari pulangnya HRS.

‘Zona tidak nyaman’ Jokowi terusik dengan kepulangan HRS ke tanah air. Hingga terjadilah tragedi berdarah, 7 Desember 2020. Enam laskar FPI yang mengawal HRS dibunuh.

Tidak selesai disitu. HRS beserta pentolan teras FPI ditangkap dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan pelanggaran protokol kesehatan dan pembubaran ormas FPI tanpa proses peradilan.

Lagi-lagi untuk kesekian kalinya, publik terbawa angin segar yang ternyata angin lalu. Wacana revisi UU ITE. Konon, untuk menyelamatkan buzzeRp seperti Abu Jongos dan kawan-kawan.

Jokowi tetap berada di ‘zona nyaman’ karena ‘zona tidak nyaman’ Jokowi seperti skandal perampokan Jiwasraya, Asabri, Harun Masiku hingga terbunuhnya enam laskar FPI serta dipenjaranya HRS bersama pengurus FPI ‘ditutupi’ oleh pengalihan isu dari ‘zona tidak nyaman’ ke ‘zona nyaman’.

Publik sekarang tidak konsisten ‘bermain’ di isu ‘zona tidak nyaman’ Jokowi. Mudah goyah oleh isu-isu baru. Padahal, media sosial sedang booming. Modal bagi rakyat. Apalagi media mainstream sekarang tidak independen.

Seharusnya ‘zona tidak nyaman’ Jokowi inilah yang harus digembar gemborkan seperti isu KKN Soeharto pada 1998 . Tidak mudah dialihkan oleh angin segar yang ternyata angin lalu seperti wacana revisi UU ITE dan RUU Pemilu.

Bandung, 8 Rajab 1442/20 Februari 2021