COVID-19 SEBAGAI ALAT POLITIK REZIM MEMBUNGKAM OPOSISI?

0
766
Tarmidzi Yusuf Pengamat Politik dan Sosial/dok pribadi olahan JAKSAT

by Tarmidzi Yusuf
Pegiat Dakwah dan Sosial

Ribuan kerumunan massa pendukung Donald Trump demo berakhir rusuh saat hari pengesahan kemenangan presiden terpilih Joe Biden oleh Kongres di Gedung Capitol pada Rabu (6/1/2021). Kita tidak mendengar ada cluster Capitol Hill yang terpapar covid-19.

Sebelumnya, ribuan massa berkerumun memprotes kematian George Floyd oleh polisi pada 25 Mei 2020. Bandingkan dengan pembantaian dan pembunuhan enam laskar FPI oleh polisi. Tidak ada protes dan demo turun ke jalan. Padahal, sama-sama masa pandemi covid-19. Ada apa? Rakyat takut turun ke jalan karena polisi represif?

Demonstrasi memprotes tindakan polisi terhadap George Floyd meluas tidak hanya terjadi di seantaro AS, bahkan terjadi pula di beberapa negara. Kita pun menyaksikan hal yang sama. Tidak ada laporan massa terpapar covid-19.

Sejak kudeta militer di Myanmar 1 Februari 2021, ribuan bahkan jutaan rakyat Myanmar turun ke jalan. Berkerumun memprotes kudeta oleh junta militer. Sampai detik ini pun belum ada laporan massa demo terpapar covid-19.

BBC seperti dilansir Kompas (26/2/21), mewartakan pengakuan saksi mata di lapangan, yakni beberapa massa pro-militer yang dipersenjatai dengan pisau, pentungan, pipa, dan ketapel untuk melempar batu.

Sekitar 1.000 pendukung militer terjun ke jalanan di pusat kota, untuk melawan massa anti-kudeta Myanmar.

Massa tandingan pro militer Myanmar, mengingatkan kita pada peristiwa aksi damai depan gedung Bawaslu 21-23 Mei 2019. Menjelang maghrib, ada massa tandingan yang menyerang polisi dan peserta aksi damai. Anehnya, massa aksi damai yang dikejar-kejar dan digebukin.

Sama halnya yang terjadi di Indonesia. Kerumunan HRS baik di Soekarno Hatta, Petamburan, Tebet dan Mega Mendung belum ada laporan massa terpapar covid-19. Semua baik-baik saja.

Kerumunan Waterboom Lippo Cikarang juga demikian. Kerumunan Ahok dan Raffi Ahmad sama. Terakhir, kerumunan Jokowi di Maumere NTT, hingga hari ini belum ada laporan massa kerumunan Jokowi terpapar covid-19.

Dari serangkaian peristiwa kerumunan dan demonstrasi massa ribuan bahkan jutaan orang, tidak ada yang terpapar covid-19.

Ini menguatkan kecurigaan publik bahwa covid-19 telah dijadikan alat politik oleh rezim untuk membungkam oposisi dan pihak yang berseberangan secara politik.

Meminjam meme akal sehat yang viral. Kerumunan HRS dicari-cari kesalahannya. Kerumunan Jokowi dicari-cari pembenarannya.

Kerumunan HRS berakhir di penjara. Kerumunan Jokowi bebas sebebas-bebasnya. Pertanda ketidakadilan makin nyata.

Bandung, 15 Rajab 1442/27 Februari 2021