BEGAL POLITIK DAN BEGAL HUKUM YANG DIAKUI NEGARA?

0
741
Tarmidzi Yusuf Pengamat Politik dan Sosial/dok pribadi olahan JAKSAT

by Tarmidzi Yusuf
Pegiat Dakwah dan Sosial

Situasi internal Partai Demokrat mulai memanas. AHY konsolidasi. Partai Demokrat Jakarta cap jempol darah. Lebih beringas lagi, Partai Demokrat Papua siap perang lawan Moeldoko. Lengkap dengan senjata panahan khas Papua. Gertak sambal atau serius, kita lihat pekan ini. Disahkan, diulur atau dipetieskan?

Moeldoko merasa di atas angin. Diamnya Jokowi dan komentar Mahfud MD mengindikasikan adanya ‘restu’ dari istana?

Posisi Moeldoko sebagai Kepala Staf Presiden, berkantor di istana. Susah menepis kecurigaan publik. Soal adanya kesan pembiaran dari istana untuk mengambil alih Partai Demokrat secara ugal-ugalan. Diam tanda setuju atau diam ‘main mata’?

Tak heran bila publik berasumsi, begal politik tumbuh subur di era Jokowi. Kasus Partai Demokrat bukan kasus pertama. Sebelumnya, Partai Berkarya mengalami hal yang sama.

Kasus Moeldoko cs bila disahkan oleh Kemenkumham membuat cemas partai politik lain. Dibajak orang luar. Khususnya, partai oposisi. Mungkin PKS menjadi target selanjutnya untuk dihabisi.

Tidak menutup kemungkinan begal politik ini akan membuat partai politik ‘membebek’ ke penguasa. Takut di ‘Partai Demokratkan’ dan di ‘Partai Berkaryakan’.

Memang ada yang aneh dengan KLB Sibolangit Deli Serdang. Kongres partai super kilat. Bak kongres-kongresan. Aromanya kental sekali.

Pekan ini menjadi pekan yang sangat menentukan. Akan terungkap apa yang sebenarnya terjadi dengan Partai Demokrat. Akankah seperti drama Korea?

Yang jelas, gonjang-gonjing Moeldoko dan Partai Demokrat, TIDAK BOLEH melupakan kita dari tragedi KM 50. Pembantaian dan pembunuhan enam laskar FPI, yang mengarah terjadinya pembegalan hukum. Cuci tangan aktor intelektualnya.

Keenam laskar FPI yang berada di alam kubur, sempat menjadi tersangka walaupun besoknya status tersebut dicabut kembali.

Mulai ada yang gagap dan salah langkah. Pertanda akan terbongkarnya kejahatan? Wallahua’lam.

Bandung, 24 Rajab 1442/8 Maret 2021