Kibarkan Bendera Keadilan dan Kebenaran

0
242
Tardjono Abu Muas, Pemerhati Masalah Sosial

Oleh: Abu Muas T.(Pemerhati Masalah Sosial)

Dirasakan atau tidak, diakui atau tidak, kini kita sedang hidup dalam lingkungan kehidupan yang sudah tidak pantas lagi untuk dilihat, dirasakan dan dinikmati di mana perlakuan ketidakadilan dengan kasat mata telah dipertontonkan oleh sosok-sosok manusia yang telah tercabut urat malunya.

Menyikapi kondisi seperti di atas, layak kiranya penulis mengajak sidang pembaca untuk membuka kembali lembaran sejarah tentang bagaimana metoda yang diterapkan dalam menghadapi permasalahan yang sedang terjadi yakni kondisi ketidaknyamanan atas perlakuan ketidakadilan.

Berbicara soal ketidakadilan ini, sidang pembaca tentu sudah tak asing lagi dengan sosok insan mulia yang diperankan oleh Khalifah Umar bin Abdul Azis yang kita kenal sebagai salah seorang pemimpin yang telah memberikan pelajaran berharga bagi kita tentang perlunya kita mengibarkan bendera keadilan dan kebenaran.

Alkisah, suatu hari Khalifah Umar menerima surat dari salah seorang gubernurnya, yang isi suratnya meminta izin untuk menggunakan kekerasan terhadap penduduk yang dipimpinnya. Dalam isi surat disebutkan: “Mereka tidak dapat diperbaiki selain dengan pedang dan cambuk!”

Jawab Umar: “Anda dusta!” Yang dapat memperbaiki mereka adalah ‘keadilan dan kebenaran’. Oleh karenanya, ciptakanlah di kalangan mereka suasana seperti itu. Dan, ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan memberikan kebaikan pada amal mereka yang berbuat kerusakan!

Tentu suatu hal yang tidak mudah dan tidak ringan, dalam proses pengibaran bendera keadilan dan kebenaran di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang sedang disuguhi perlakuan ketidakadilan dari para perekayasa yang sudah tercabut urat malunya.

Menghadapi situasi yang tidak mudah dan tidak ringan ini, tentu sangat diperlukan sebuah komitmen yang kuat demi tegaknya keadilan dan kebenaran dari para pejuangnya.

Kembali dalam hal ini Khalifah Umar memberikan resep kepada kita semangat untuk bangkit menegakkan keadilan dan kebenaran dengan kata-kata berikut ini yang akan menggetarkan hati dan menembus anak telinga orang-orang yang melawan dan golongan penentang yang telah tercabut urat malunya.

Kata-kata yang dilisankannya: “Demi Allah, seandainya menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan itu tidak dapat dilakukan kecuali dengan mengorbankan seluruh persendian dan anggota tubuhku untuk dipotong-potong dan dicabik-cabik, maka aku akan tetap melakukannya. Dan, aku akan bahagia dengan itu! Demi Allah, kalau aku diberi umur lima puluh tahun untuk hidup bersama kamu sekalian, maka keinginanku tiada lain hanyalah menegakkan keadilan! Tegas, Umar.

Tulisan ini dicuplik dari buku berjudul: Mengenal Pola Kepemimpinan Ummat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah, penerbit CV. Diponegoro Bandung 1994.