INDONESIA NGERTI, GAK SIH ?

0
1081
M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan. (Foto Ajie Sukma-JAKSAT)

by M Rizal Fadillah

Menteri Agama Yaqut Khalil Qaumas mengumumkan bahwa Pemerintah Saudi tidak memberi izin jama’ah Indonesia untuk melaksanakan ibadah umroh meski sudah disuntik vaksin. Vaksin Sinovac yang tidak masuk standar WHO. Wajah Menag tentu pucat, betapa buruk nasib bangsa ini.

Coba direnungkan lebih dalam benarkah tingkat kesulitan melaksanakan ibadah umroh ini hanya disebabkan faktor vaksin ? Sepertinya banyak faktor sehingga Pemerintah Saudi cenderung mempersulit walau tentu tak akan terungkap secara eksplisit.

Pertama, Indonesia di masa Pemerintahan Jokowi ini kebijakan politiknya cenderung Anti Arab. Lewat Islam Nusantara memusuhi hal berbau Arab, para buzzer istana terus memojokkan dengan ustilah Kadrun lah persis masa PKI.

Kedua, Menteri Agama bukan prototipe seorang memahami agama secara mendalam, apalagi ulama. Anti Wahabi dan Salafi yang tentu menyakitkan Saudi. Koboy sinkretisme dari faham keagamaan. Dari jaga gereja hingga doa campur-campur.

Ketiga, Pemerintah Indonesia membantai ulama. Kasus HRS tidak lepas dari pemantauan Saudi. HRS yang dihormati di Saudi ternyata dinistakan di Indonesia. Bahkan enam pengawalnya dibunuh sadis oleh aparat negara.

Keempat, gonjang ganjing calon Dubes Saudi yang ditunjuk Jokowi adalah Zuhairi Misrawi, tokoh yang mengecam Saudi atas “pemerasan” devisa. Tokoh anti umroh dan menganjurkan pilihan ziarah kubur daripada umroh ke Saudi Arabia.

Kelima, dalam konteks global Saudi Arabia lebih dekat dan bersahabat dengan Amerika ketimbang Cina. Sedangkan Indonesia sedang akrab dan bermain-main dengan Cina. Vaksin pun dari Cina, Sinovac yang dianggap masih rentan bagi penularan Covid 19. Kualitas Sinovac yang diragukan dan bermutu rendah.

Keenam, di samping HRS dan pimpinan FPI keturunan Arab yang dihabisi secara politik, Gubernur DKI Anies Baswedan pun terus menerus dimusuhi dan ditekan oleh Pemerintah Jokowi. Potensi untuk maju pada Pilpres ke depan dihalangi secara masif.

Semestinya Indonesia mengerti bahwa jamaah umroh telah menjadi korban. Sejak awal lobby Indonesia terhadap Saudi selalu lemah, apalagi kini di era Covid 19 yang terasa semakin babak belur. Harus ada perubahan kebijakan politik jika hendak membantu umat Islam agar dapat melaksanakan ibadah umroh dan haji ke Saudi Arabia.

*) Pemerhati Politik dan Keagamaan

Bandung, 13 April 2021