Potret Tercabutnya Akar Kehidupan yang Hakiki

0
263
Abu Muas T., Pemerhati Masalah Sosial/ist

Oleh: Abu Muas T. (Pemerhati Masalah Sosial)

Akhir-akhir ini timbul polemik yang disebabkan ada salah seorang yang mengklaim bahwa dirinya memiliki kunci cara meredam paham radikalisme. Pemikiran sesat dan menyesatkan dari yang bersangkutan nyaris sama dengan tipu daya “iblis” yang pekerjaannya menjauhkan manusia dari aqidah yang benar dan lurus.

Waspadalah terhadap ajakan atau imbauan dari “siapa pun orangnya”, apa pun status jabatannya yang mengajak atau mengimbau agar kita tidak perlu terlalu sering memperdalam tentang aqidah dan syariah. Risikonya jika terlalu mendalam membicarakan soal aqidah dan syariah, maka berpotensi dapat meningkatkan paham radikalisme. Ini sungguh ajakan atau imbauan yang sesat dan menyesatkan.

Ajakan atau imbauan ini tentunya sangat berbahaya bagi kehidupan seorang mukmin. Karena aqidah bagi kehidupan seorang mukmin adalah hal yang sangat hakiki, paling mendasar dan berharga dalam meniti hakikat kehidupan ini.

Lalu bagaimana potret kehidupan seseorang yang telah tercabut akar kehidupannya? Potret kehidupan seseorang yang telah tercabut aqidahnya bak pohon yang telah tercabut akarnya. Bagaimana mungkin, pohon yang sudah tercabut akarnya dapat mempertahankan hidupnya? Tentang hal ini Allah SWT telah memberikan perumpamaan sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun”(QS. Ibrahim, 14:26).

Potret hidup orang-orang yang tidak beraqidah bak pohon yang tak berakar, seperti potret hidup orang-orang kafir, karena mereka termasuk: “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka “menyangka” bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”(QS.Al Kahfi,18:104).

Dalam menanggapi polemik soal yang satu ini, sengaja tidak disebutkan sosok yang bersangkutan karena memang penulis tidak ada urusan dengan dia. Yang dikhawatirkan, jika yang bersangkutan banyak dibicarakan orang, maka dia akan merasa besar kepala. Terlebih penulis pernah membaca hadits Nabi SAW., yang mengingatkan kita bersama dalam sebuah kisah.

Dikisahkan, salah seorang sahabat pernah membonceng Nabi SAW., kemudian ontanya terjatuh. Sahabat ini langsung mengatakan, Ta’isa as-Syaithan “Celaka setan”. Lalu Nabi SAW., mengingatkan, Jangan kamu mengucapkan ‘celaka setan’. Karena ketika kamu mengucapkan kalimat itu, maka setan akan membesar, hingga dia seperti seukuran rumah. Setan akan membanggakan dirinya, ‘Dia jatuh karena kekuatanku.’ Namun, ucapkanlah, ‘Bismillah’  ‘Bismillah’, karena jika kamu mengucapkan kalilmat ini, setan akan mengecil, hingga seperti lalat. (HR. Ahmad 21133, Abu Daud 4984, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Di balik pesan hadits di atas, bukankah mengandung makna bahwa jika ada salah seorang atau siapa pun orangnya yang mengajak dalam kesesatan maka tak ubahnya seperti setan tapi berbentuk manusia?

Waspadai dan tolak ajakan-ajakan sesat dan menyesatkan yang membahayakan terjadinya degradasi aqidah. Bisa saja kali ini dia mengajak untuk mengurangi bincang-bincang soal aqidah dan syariah, tak menutup kemungkinan lambat-laun yang bersangkutan akan berani mengusulkan untuk menghilangkan ayat atau surat dalam Al Qur’an yang terkait dengan aqidah. Na’udzubillahi min dzalik!

Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan, semoga ibadah Ramadhan tahun ini menjadi ibadah terbaik di sisi-Nya.