VAKSIN NUSANTARA PROGRAM TNI, BUKAN URUSAN BPOM

0
1581
Penyuntikan vaksin/ FOTO BUDI YANTO -MEPRINDO

Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, uji coba klinis fase II Vaksin Nusantara, merupakan Program Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, bukan urusan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Bisa dilihat dari pernyataan Peneliti Utama Vaksin Nusantara dari RSPAD Gatot Subroto, Kolonel Corps Kesehatan Militer (CPM) dr Jonny, bahwa ujicoba fase II Vaksin Nusantara tetap menjaga reputasi kelembagaan TNI dan Negara.

Hal itu dikemukakan Dahlan Iskan dalam disway.id, Jumat siang, 16 April 2021, menanggapi tudingan ujicoba fase II Vaksin Nusantara di RSPAD bersifat illegal karena tidak mengantongi izin dari BPOM.

Salah satunya terkait vaksin Nusantara yang buatan Amerika Serikat, Dahlan Iskan menulis, “Memang teknologi Amerika Serikat. Tapi di Amerika Serikat sendiri belum dikembangkan.”

Pengembangan pertama, dilakukan di Indonesia. Dengan peralatan sepenuhnya buatan Indonesia.

Menurut Dahlan Iskan, orang yang pertama kali memperkenalkan cikal bakal Vaksin Nusantara, bernama Haryono Winarta (biasa dipanggil Miing), warga Tionghoa, asli Surabaya.

Miing pertama kali mendampingi Dokter Terawan Agus Putranto. Mertua Ming memang punya pabrik obat besar di Surabaya. Yang selama ini juga memproduksi obat-obat resep dokter untuk pasien Corona Virus Disease-19 (Covid-19).
Ayah Miing adalah kontraktor drilling minyak mentah. Maka Miing bisa langsung meneruskan kuliah di Amerika Serikat. Miing ambil studi ekonomi dan marketing, sampai Strata-3 (Ph.D).

Teman-teman sekolah Miing di Amerika Serikat, kita sudah kenal semua: Erick Thohir (Menteri Badan Usaha Milik Negara), Sandiaga Uno (Menteri Periwisata dan Ekonomi Kreatif), Moh Luthfi (Menteri Perdagangan), dan Rosan Roeslani.
Jaringan Amerika Serikat itulah yang membuat Miing bisa dipercaya mengembangkan vaksin itu di Indonesia.

Amerika Serikat sangat percaya dengan kemampuan Dokter Terawan. Apalagi Terawan sendiri yang memimpin Tim Vaksin Nusantara.

“Kalau Vaksin Nusantara bisa menjadi kenyataan saya pun berani bilang: Terawan memang hanya sebentar menjadi Menteri Kesehatan, tapi jejak yang ditinggalkannya sangat panjang bagi bangsa ini,” ujar Dahlan Iskan.

Tentu ada nama lain yang disebut: Prof Dr Taruna Ikrar. Taruna Ikrar orang Indonesia. Tapi menjadi dosen di Universty of California Irvine. Kampusnya sekitar 1,5 jam dari Los Angeles.

Aslinya Prof Taruna Ikrar dari Makassar. Masih kerabat dengan Kepala Polisi Daerah Metropolitan Jakarta Raya, Inspektur Jenderal Polisi Fadil Imran.
Setelah menjadi dokter dari Universitas Indonesia, Taruna Ikrar pernah bertugas di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Jakarta Selatan. Juga di beberapa daerah lainnya. Lalu ke Amerika Serikat.

Ketika Dokter Terawan menjadi Menteri Kesehatan, Prof Taruna Ikrar diangkat menjadi Ketua Konsil Kedokteran Indonesia. Itulah badan yang sangat menentukan dalam meregristasi dokter.

Baik lulusan dalam maupun luar negeri. Lalu memperbarui regristasi itu tiap lima tahun. Bukan cuma terkait tudingan Vaksin Nusantara berasal dari Amerika. Dahlan Iskan juga memberi pendapat soal serangan serangan BPOM ke Vaksin Nusantara.

Menurut Dahlan Iskan, keputusan Tim Vaksin Nusantara untuk tetap melanjutkan penelitian hingga ke tahap II sudah tidak perlu dicampuri lagi oleh BPOM. Karena tidak ada hubungan apa apa lagi.

Jika misalnya penelitian tersebut terbukti, barulah diserahkan ke pihak berwenang apakah diterima atau tetap ditolak.

“Mengapa BPOM menyerang Vaksin Nusantara? Memang salah satu tugasnya adalah itu. BPOM harus begitu. Mungkin Vaksin Nusantara dianggap menantang-nantang.”
“Dengan cara tetap melakukan uji coba lanjutan Vaksin Nusantara. Padahal izin uji coba fase II tidak ada. Sudah ditolak. Bahkan, kalau mau, Vaksin Nusantara harus memulai lagi dari 0. Dari uji coba di binatang,” tulis Dahlan Iskan.

Dengan demikian bisa saja apa yang dilakukan tim Vaksin Nusantara di RS Gatot Subroto itu dianggap ilegal. Bahkan itu tadi: menantang.

Dahlan Iskan mencoba berkepala dingin. Dahlan Iskan ambil pikiran positif dulu. Mengapa dokter Letnan Jenderal TNI Dr dr Terawan Agus Putranto, tetap melakukan uji coba Vaksin Nusantara?

Kalau tidak bocor ke media sebenarnya tidak ada kesan menantang itu. Terawan melakukan itu dengan sunyi. Tapi media sosial langsung ramai. Mereka, para relawan itu, yang memasang foto diri saat dilakukan pengambilan darah. Dengan rasa bangga. Nasionalis. Bela bangsa.

Lalu ramai. Keluarlah balasan yang sangat keras dari BPOM itu. Dahlan Iskan menduga begini: dengan ditolaknya permintaan izin uji coba fase II oleh BPOM, tim Vaksin Nusantara menganggap urusan tim itu dengan BPOM sudah selesai.

Tidak ada hubungan apa-apa lagi: tim Vaksin Nusantara, sudah di luar BPOM dan BPOM sudah di luar tim Vaksin Nusantara.

“Kecuali tim Vaksin Nusantara menyatakan akan menuruti keinginan BPOM tersebut. Maka tim Vaksin Nusantara harus terus berada di jalur BPOM,” tulis Dahlan Iskan.
Menurut Dahlan Iskan, Vaksin Nusantara dikembangkan di RSPAD Gatot Subroto itu, ibarat bayi yang bapaknya adalah Ilmuwan dari Amerika Serikat.

“Kini sang ‘ayah’ sudah pulang ke Amerika Serikat. Tidak ada lagi uji coba fase II –ala BPOM. Bayi itu harus digugurkan.

Tapi sang ibu tidak mau menggugurkannya. Dia mencari sendiri tempat melahirkan.
Tentu tidak bisa lagi melahirkan di rumah sakit umum. Di situ akan ditanya: mana izin melahirkannya.

“Sang ibu punya rumah sakit sendiri: RSPAD Gatot Subroto. Di situlah dia bisa melahirkan. Izinnya tentu datang dari pimpinan RSPAD itu sendiri –dan itu adalah dokter Terawan sendiri,” tulis Dahlan Iskan.

Dahlan Iskan pun yakin uji coba Vaksin Nusantara itu akan terus berlanjut karena mendapat izin dari pimpinan TNI AD.

“Dari surat itu saya yakin uji coba lanjutan VakNus akan berlanjut di RSPAD. Di luar birokrasi BPOM. Targetnya bukan lagi untuk masuk program vaksinasi nasional. Targetnya adalah ”Purwodadi kuthane….”.

Setelah terbukti kelak, barulah terserah, mau diapakan bayi yang terbukti bisa tumbuh baik itu –kalau terbukti bisa tumbuh.

Perkiraan Dahlan Iskan: TNI AD berkepentingan dengan penelitian ini. Itu menyangkut ketahanan nasional yang sangat mendasar.

Di banyak negara, militer turun tangan. Pun di China. Vaksin Sinovac dan CanSino lahir dari militer. Yang prosedurnya dipercepat. Yang relawan awalnya adalah anggota tentara.
Pimpinan tertinggi laboratorium militer di Wuhan, Mayor Jenderal Chen Wei, wanita, ahli virus, menjadi relawan pertama disuntik beneran.

“Chen Wei sampai pamit ke putri tunggalnya untuk menerima risiko terberat. Tapi sang putri percaya ibunya adalah ahli virus. Dan lagi ibunya itu tentara. Begitulah cara harus mengabdi ke negeri,” tulisnya lagi.

Karena itu, menurut Dahlan Iskan, uji coba fase II Vaksin Nusantara di RSPAD sekarang ini, mestinya, bukanlah uji coba fase II di bawah BPOM. Itu adalah fase II uji coba Vaksin Nusantara di luar jangkauan BPOM. Atau apalah namanya.

Kata ‘vaksin’ di situ jangan-jangan juga bukan ‘vaksin’ dalam pengertian definisi BPOM. Mestinya sikap BPOM, maksimal, adalah ‘tidak tahu menahu uji coba’ tersebut. Selesai. Tidak harus serang sana-sini.

Vaksin Nusantara sendiri kelihatannya akan tetap lahir dari kandungan ibunya tanpa ditunggui ayahnya. Tentu sepanjang ada relawan yang sama-sama ikut berjuang.
Tokoh nasional yang memahami duduk permasalahan kelahiran Vaksin Nasional dan sangat percaya akan reputasi Letjen TNI Dr dr Terawan Agus Putranto, kemudian mendaftarkan diri menjadi relawan.

Di antaranya Jenderal Purnawirawan Abdullah Mahmud Hendropriyono (mantan Kepala Badan Intelijen Negara), Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo (mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia).

Ada Dr dr Siti Fadilah Supari (mantan Menteri Kesehatan), Letnan Jenderal Purnawirawan Sudi Silalahi (mantan Menteri Sekretaris Kebinet), Aburizal Bakrie (mantan Menteri Koordinator Perekonomian), dan sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) berusia di bawah 60 tahun.

Laporan dari RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, banyak sekali warga yang mendaftar untuk menjadi relawan, sebagai bentuk kecintaan terhadap produk dalam negeri. Jenderal Sudi Silalahi, malah mau menjadi relawaan Vaksin Nusantara, karena merespons himbauan Presiden Joko Widodo, untuk mencintai produk dalam negeri.

“Jangan-jangan, berkat jasa relawan, Vaksin Nusantara pada saatnya nanti akan melanjutkan lagi uji coba fase III. Dengan relawan sampai 6.000. Lalu uji coba lagi fase IV, dengan relawan 30.000. Lalu fase V, 120.000. Dan seterusnya: 1.500.000,” tulis Dahlan Iskan.

Karena Vaksin Nusantara merupakan Program TNI, maka nantinya sasaran Vaksin Nusantara adalah diprioritaskan kepada Keluarga Besar TNI dan Polisi Republik Indonesia (Polri).

Dokter Terawan, sendiri, sepertinya jauh-jauh hari sudah sangat paham akan gerakan yang bakal muncul, dengan memindahkan pusat penelitian Vaksin Nusantara dari Rumah Sakit Karyadi Semarang ke RSPAD Gatot Subroto, milik TNI AD.

Sumber: disway.id.