MUSIBAH TNI-KU, MUSIBAH REFORMASI 1998, MUSIBAH KITA SEMUA

0
1194
Tarmidzi Yusuf Pengamat Politik dan Sosial/dok pribadi olahan JAKSAT

by Tarmidzi Yusuf
Pegiat Dakwah dan Sosial

Kru KRI Nanggala 402 sebanyak 53 orang gugur dalam menjalankan tugas negara. Mereka putera terbaik TNI AL. Berbagai spekulasi berkembang dibalik isu KRI Nanggala 402.

Bagi Perwira dan prajurit muslim yang gugur, kita doakan semoga Allah Ta’ala memberikan pahala syahid untuk mereka, Aamiin

Belum tuntas kesedihan kita karena gugurnya 53 pahlawan laut TNI AL. Kemarin datang lagi musibah. Perwira tinggi TNI AD Brigjen I Gusti Putu Danny NK meninggal dunia. Korban kebrutalan dan kekejaman kelompok teroris dan radikal. Sayang sekali banyak pemimpin negeri ini yang tutup mata. Standar ganda dalam memperlakukan sesama anak bangsa.

Kita, ummat Islam yang membela Pancasila, UUD 1945 Asli dan NKRI dilabeli dengan teroris dan radikal. Sementara gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari NKRI justru dibiarkan, malah disupply senjata secara ilegal.

Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Papua, Brigjen I Gusti Putu Danny seperti dilansir CNN Indonesia (25/4) meninggal dunia saat baku tembak dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Dambet, Distrik Boega, Kabupaten Puncak, Papua, pada Ahad (25/4) pukul 15.50 WIT.

Musibah datang bertubi-tubi. TNI berduka. Dalam hitungan jam, 54 putra terbaik bangsa meninggal dunia. 53 perwira dan prajurit TNI AL serta seorang Pati TNI AD.

Ada apa dengan TNI-ku? Zaman orde baru engkau begitu gagah, disegani oleh kawan dan ditakuti oleh musuh. Namun, sejak reformasi engkau ‘dikerdilkan’ dan ‘dimarjinalkan’ dengan bungkus back to barrack. Peranmu sebagai dwi fungsi TNI secara sistematis dan masif ‘diambil’ oleh institusi lain atas nama reformasi.

Inilah musibah terbesar bangsa Indonesia. Eufhoria reformasi telah meninabobokan kita semua. Reformasi yang diagung-agungkan ternyata ditunggangi oleh kelompok sekuler kiri radikal yang dekat dengan etnis tertentu.

Namun kita ambil hikmahnya. Tak perlu menyesali dan meratapi. Qadarullah sudah terjadi. Ambil hikmah sebagai pelajaran agar tidak terulang kembali. Tidak terjebak dan dijebak oleh permainan kelompok sekuler kiri radikal dan etnis tertentu.

Hal yang perlu kita pahami, beragam musibah dan bencana, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang tampak maupun yang tidak, tidaklah terjadi melainkan karena perbuatan dosa kita sebagai bagian dari anak bangsa.

Pengaruhnya akan tampak bagi orang yang paham dan merenungkan keadaan. Secara umum, manusia lebih tahu tentang dirinya sendiri daripada orang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفۡسِكَۚ

“Apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. an-Nisa: 79)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan darinya segala kesalahan dan dosa, hingga duri yang menusuknya juga menjadi penghapus dosa.” (HR. al-Bukhari no. 5318)

Musibah KRI Nanggala 402 dan terbunuhnya Kabinda Papua, warning bagi rezim yang berkuasa dan bagi orang-orang yang berakal.

وَمَا نُرۡسِلُ بِٱلۡأٓيَٰتِ إِلَّا تَخۡوِيفًا

“Dan Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.” (QS. al-Isra’: 59)

Qatadah rahimahullah menerangkan ayat di atas, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menakut-nakuti manusia dengan tanda-tanda apa pun (bencana, petaka) yang Dia kehendaki. Mudah-mudahan mereka mengambil pelajaran, menjadi ingat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian kembali kepada-Nya.”

Selain warning bagi kita, khususnya rezim yang berkuasa. Musibah ini bisa juga sebagai hukuman kepada kita dari Allah Ta’ala akibat salah dalam memilih pemimpin dan dosa yang kita perbuat.

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rum: 41)

As-Sa’di rahimahullah berkata,

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, maksudnya mata pencaharian mereka rusak dan berkurang serta terjadi bencana alam. Diri mereka juga terserang penyakit, wabah, dan yang lainnya.

Semua itu terjadi karena kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), berupa perbuatan yang rusak dan merusak. Hal ini supaya mereka mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala membalas amal perbuatan dan membuat pelajaran bagi mereka atas balasan amal mereka di dunia agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Bandung, 14 Ramadhan 1442/26 April 2021