Larangan Mudik Versus Penerbangan Wuhan-Jakarta PP

0
1010
Abu Muas T., Pemerhati Masalah Sosial/ist

Oleh: Abu Muas T. (Pemerhati Masalah Sosial)

Menelisik kebijakan larangan mudik jilid II tahun ini yang akan diberlakukan tanggal 6-17 Mei 2021, bila dicermati terasa sangat menggelitik karena seiring hari-hari akan diberlakukannya larangan mudik jilid II malah penerbangan Jakarta-Wuhan PP dibuka. Bukankah Wuhan China merupakan titik pusat penyebaran virus yang menghebohkan dunia?

Sangat kontradiktif jika kita mau menyimak pemberitaan TV. Di satu sisi pemberlakuan larangan mudik terlihat sangat ketat hingga banyak titik-titik penyekatan didirikan untuk mencegat para pemudik yang notabene mereka warga negara kita, tapi di sisi lain WNA China dari Wuhan dibukakan pintu lebar-lebar untuk memasuki wilayah Indonesia dengan diberikan fasilitas penerbangan Wuhan-Jakarta PP.

Betapa sangat terasa ada perlakuan diskriminatif antara WNI dan WNA khususnya dari China. Padahal munculnya kebijakan larangan mudik dengan dalih menahan laju penyebaran covid. Dengan dalih menahan laju penularan virus, maka WNI yang akan mudik ke kampung halaman di negerinya sendiri harus menghadapi penyekatan-penyekatan yang cukup ketat, sementara WNA yang notabene warga asing diberikan berbagai fasilitas kemudahan.

Pertanyaannya, adakah yang dapat menjamin WNA yang masuk ke negeri ini tidak akan menambah penyebaran virus terlebih WNA yang berasal dari sumber munculnya wabah virus?Sampai kapan kebijakan-kebijakan yang kontradiktif semacam ini dipertontonkan kepada anak bangsa ini? Apakah virus covid ini akan tambah menyebar hanya gegara arus mudik warga dari kota ke kampung halaman, sedangkan warga asing dari luar negeri dijamin tidak akan menambah penularan virus? Sungguh ironis.

Menelisik kebijakan antara larangan mudik dengan dibukanya penerbangan Wuhan-Jakarta PP, rasa-rasanya tak masuk akal sehat jika yang menjadi kekhawatiran adalah hanya bertambahnya penyebaran virus. Patut diduga ada faktor lain yang menjadikan dikeluarkannya kebijakan yang kontradiktif, satu sisi mudik dilarang pada waktu yang sama di sisi lain tamu asing dipersilakan datang.

Sungguh miris hati ini melihat kondisi negeriku saat ini, jelang mulainya pelarangan mudik para petugas di lapangan sudah mulai memasang sekat-sekat di titik-titik jalan raya yang sudah ditetentukan. Sementara di Bandara disiapkan karpet merah bagi pendatang warga asing? Tragis, ironis, dan miris.***