Bukan Babi Ngepet Lagi, Tapi Kera Ngepet

0
96
Abu Muas T., Pemerhati Masalah Sosial/ist

Oleh Abu Muas T. (Pemerhati Masalah Sosial)

Mungkin masih hangat dalam ingatan kita, belum genap sebulan lalu heboh soal “babi ngepet” yang terjadi di Depok. Kini seiring memanasnya perseteruan Palestina – Israel muncul bukan mitos babi ngepet lagi, tapi malah muncul istilah “kera ngepet”.

Jika mitos “babi ngepet” konon manusia bisa berubah menjadi babi, maka sebutan “kera ngepet” ini lebih buruk lagi karena patut diduga sosoknya manusia tapi berkarakter yahudi atau kera. Manusia-manusia berkarakter kera ini serakah dan sering membuat keonaran, pola pikir dan lisannya selalu nyinyir terhadap perjuangan bangsa Palestina, sebaliknya malah memuji dan bersahabat dengan bangsa yahudi yang direpresentasikan oleh negara teroris Israel.

Jika bangsa Yahudi dapat dikatakan memiliki karakter kera yang memang karakteristik dasarnya serakah dan selalu membuat keonaran, wajarlah. Hingga muncul anekdot bagi orang-orang yang selalu berbuat serakah dan sering membuat keonaran kadang dijuluki “dasar si yahudi”. Yang tak wajar adalah, kenapa dengan memanasnya perseteruan antara Palestina – Israel malah muncul fenomena baru sosok-sosok manusia yahudi partikelir sebagai pembela Israel sekaligus nyinyir pada pembela Palestina. Jika si yahudi diidentikkan dengan kera, maka patutkah jika para penyinyir ini kita juluki dengan “kera ngepet?”

Sejak memanasnya perseteruan Palestina – Israel akhir-akhir ini, telah ada memang yang menggarisbawahi bahwa masalah Palestina-Israel hanya bisa dilihat dengan kaca mata kemanusiaan. Dalam arti, masalah Palestina – Israel ini hanya bisa dirasakan oleh manusia yang masih memiliki rasa atau empati kemanusiaan atas penjajahan negera teroris Israel terhadap bangsa Palestina.

Kini, tak dapat dinafikan mulailah bermunculan sosok-sosok jenis “kera ngepet” di antaranya mereka mengatakan, soal perseteruan Palestina – Israel itu urusan bangsa Arab dan Yahudi. Urusan kita sendiri masih banyak untuk mempersiapkan generasi muda kita agar jangan sampai terpapar radikalisme. Si kera ngepet yang satu ini juga “seolah-olah” menjadi orang paling bijak dengan memberi nasihat untuk kebaikan generasi muda kita ke depan. Si kera ngepet yang satu ini rupanya belum tahu adanya sindiran, soal Palestina ini memang hanya menjadi urusan manusia, sosok manusia yang tak punya empati kemanusiaan hendaknya tak ikut berbicara, berbicaralah dalam komunitas “kera ngepet” saja.

Kini diindikasikan tidak sedikit para nyinyirin yang tergolong jenis “kera ngepet” mulai bermunculan. Si kera ngepet ini nyinyir jika ada orang-orang yang mengajak boikot produk Yahudi dan Amerika. Ada lagi golongan si “kera ngepet” ini secara diam-diam mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh Yahudi di negeri Teroris Israel, bahkan akhir-akhir ini viral kembali jabat tangan keakraban antara si tokoh “kera ngepet” dengan tokoh teroris yahudi. Ada juga yang mengatakan, bangsa Palestina harus introspeksi kenapa Israel menyerang Al Aqsho dan Gaza.

Patut diduga gencarnya virus pro-Israel yang disebarkan oleh para nyinyirin si “kera ngepet” ini didukung oleh sebagian media. Bagi para pejuang dan pembela bangsa Palestina kini tiba saatnya untuk bersatu, jadilah “sapu lidi” yang terikat dalam satu ukhuwah Islamiyyah. Janganlah menjadi lidi-lidi yang terpisah antara satu dengan yang lainnya.