Diplomat Tangguh Indonesia Yang Menghentak Dunia

0
142

Beliau diplomat tangguh yang patut diteladani generasi muda yang mulai kehilangan sosok pahlawan di masa kini.

Melalui perjuangannya, Indonesia berhasil dikukuhkan sebagai Negara Kepulauan di panggung dunia internasional. Nama Indonesia menjadi harum dan makin diperhitungkan suaranya dalam pergaulan internasional. Ahli hukum internasional ini lahir di Jakarta pada 17 April 1929.

Pernah menjadi Menteri Kehakiman (1974-1978) dan Menteri Luar Negeri (1978-1988) pada masa Orde Baru dan berperan banyak dalam perumusan konsep Wawasan Nusantara, terutama dalam menetapkan batas laut teritorial, batas darat, dan batas landas kontinen Indonesia.

Memulai karier diplomasinya pada usia 29 tahun, dengan memimpin delegasi Indonesia pada Konferensi Hukum Laut di Jenewa pada 1958 atas penugasan PM Juanda.
Namun mendapat tentangan keras dari dunia dan gagal pada waktu itu.

Beliau lanjutkan perjuangannya sebagai diplomat dan pengajar dalam mewujudkan Wawasan Nusantara dalam Konferensi Hukum Laut Internasional di Kolombo dan Tokyo pada 1961. Gagal lagi.

Di sela-sela perjuangannya dalam kancah perundingan internasional, ia diberhentikan dari jabatannya sebagai Guru Besar di Universitas Padjadjaran pada 1962 karena dianggap berseberangan dengan garis politik Orde Lama.

Dengan gaya mengkritik yang lugas dia bahkan menyebut Bung Karno sebagai, ‘Sosialis musiman’.

Sukarno saat itu sedang di Jepang. Ia mendapatkan laporan yang membuat telinganya merah. Saat itu juga sikap otoriternya keluar.

Ia mengirim telegram kepada Menteri Pendidikan Prof Dr Tojib Hadiwidjaja pada 16 November 1962 untuk memberhentikan Mochtar sebagai dekan.

Usai dipecat, Mochtar ditampung di Seskoad, Bandung. Lembaga pendidikan tertinggi Angkatan Darat. Kampus perwira untuk menjadi calon kolonel. Ia mengajar ilmu hukum bagi mayor senior dan letnan kolonel junior. Para calon pemimpin Angkatan Darat.

Walau dikebiri Orde lama, dia tak pernah putus asa. Dia tetap teguh dengan gagasan Wawasan Nusantaranya.

Tahun 1969, konsep ini dia kemukakan lagi pada pertemuan Konsorsium Ilmu Hukum yang dipimpinnya.

Dia kemudian menjadi ketua delegasi Indonesia pada Sidang PBB mengenai Hukum Laut di Jenewa dan New York bersama Hasyim Jalal dan 7 orang diplomat Indonesia lainnya. Pada Konferensi III Hukum Laut Internasional PBB tahun 1982 itu, dia diuji kemampuannya untuk meyakinkan pihak yang menentang konsepnya. Ternyata, hasilnya sangat monumental.

Pada 1982, lahirlah Konvensi II PBB tentang Hukum Laut (2nd United Nations Convention on the Law of the Sea, UNCLOS) yang mengakui konsep negara kepulauan, sekaligus mengakui konsep Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang diperjuangkan oleh Chili dan negara-negara Amerika Latin lainnya.

Dengan Konvensi ini, Indonesia diakui dunia sebagai Negara Kepulauan yang kemudian diratifikasi dalam UU No. 17/1985.

Setelah Konvensi ini, Indonesia mendapat pengakuan dunia atas tambahan wilayah nasional seluas 3,1 juta kilometer persegi wilayah perairan dari hanya 100.000 kilometer persegi warisan Hindia Belanda, ditambah dengan 2,7 juta kilometer persegi Zona Ekonomi Eksklusif, yaitu bagian perairan internasional di mana Indonesia mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam termasuk yang ada di dasar laut dan di bawahnya.

Dengan demikian, Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki luas laut 5,8 juta kilometer persegi; terdiri dari laut teritorial dengan luas 0.8 juta kilometer persegi, laut Nusantara 2,3 juta kilometer persegi, dan Zona Ekonomi Eksklusif 2,7 juta kilometer persegi.

Di samping itu, Indonesia memiliki pulau sebanyak 17.480 pulau dan garis pantai sepanjang 95.181 kilometer.

Setelah itu masih butuh waktu lebih dari 10 tahun sejak konferensi itu untuk melihat pengesahan Hukum Laut 1982 berlaku secara efektif.

Keberhasilan mencapai puncaknya ketika UNCLOS diratifikasi 60 negara dan kemudian resmi berlaku sejak 16 November 1994.

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (S1), Sekolah Hukum Universitas Yale (S2), dan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (S3) itu, dalam berbagai perundingan internasional, memang dikenal sebagai orang yang cepat berpikir dan lugas berbicara namun piawai dalam mencairkan suasana perundingan yang amat serius dan menegangkan. Bagi generasi muda, apa yang bisa dipelajari dari beliau sebenarnya?

Paket komplit. Tak ragu bicara salah atau benar walau resiko pertaruhan jabatan. Merah Putih ada dalam nadi mengalir di darahnya.

Pemerintah bisa saja bersikap buruk padanya, namun kecintaannya pada negara tak pernah sirna sedikitpun. Baginya itu dua hal berbeda.

Prestasinya jelas, Akademisi sekaligus Diplomat ulung yang berhasil membalikan pendapat dunia yang bisa menjadi suri tauladan dari banyak tokoh Indonesia yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia.

Banyak orang bisa jadi pejabat karena kedekatan hubungan atau popularitas. Namun belum tentu punya kapabilitas cukup dan punya prestasi nyata membanggakan bagi keberlangsungan hidup bangsanya.

Keburukan seperti itu tidak berlaku pada hidup beliau, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmaja SH LLM.

Ahirnya semoga di masa depan, makin banyak tumbuh tunas tunas bangsa seperti beliau di masa depan.

Sekian

Adi Ketu