๐—ฅ๐—”๐—–๐—›๐— ๐—”๐—ช๐—”๐—ง๐—œ ๐—ฆ๐—ข๐—˜๐—ž๐—”๐—ฅ๐—ก๐—ข๐—ฃ๐—จ๐—ง๐—ฅ๐—œ

0
37
OLEH ๐—ง๐—ฎ๐—ฟ๐—น๐—ถ ๐—ก๐˜‚๐—ด๐—ฟ๐—ผ๐—ต๐—ผ
Selasa siang, 10 Desember 2016, sesudah berbicara agak panjang lebar mengenai kasusnya di ruang rapat Pimpinan DPR, suara perempuan yang pernah belajar di Fakultas Hukum UI ini tiba-tiba tercekat, untuk kemudian meraung tertahan. Nadanya getir dan benar-benar terluka.
“Saya tahu betul apa itu makar…” ujarnya, terbata-bata. “Tahun 1965, pasukan yang tak dikenal masuk ke dalam Istana, dan mereka mencari-cari presiden. ‘Mana Presiden, mana Presiden’…” ia tak kuasa membendung raungannya.
Saya, yang hari itu duduk persis di belakangnya tak luput jadi tertunduk. Semua orang, kecuali para jurnalis yang harus tetap awas, juga tertunduk dengan muka nanar.
Luka perempuan berbaju hitam yang duduk di atas kursi roda itu memang bisa dipahami. Ia puteri seorang Bapak Bangsa, yang menguasai dan mewarisi ajaran-ajaran ideologis bapaknya, yang terus bersetia dengan ajaran itu sehingga harus berselisih paham sangat jauh dengan kakaknya yang belakangan pernah menjadi presiden itu, namun kini ia dijadikan pesakitan oleh aparat negerinya dengan tuduhan hendak berbuat makar. Itu tuduhan yang menghina sekali.
Tak ada aktivis yang jirih dengan penjara dan pengadilan. Namun, tak ada yang lebih menghina dan menyakitkan, selain menggelikan tentunya, daripada menjadikan aktivis politik yang juga puteri seorang Proklamator sebagai tersangka kasus makar.
“Rencana aksi tanggal 2 Desember 2016 itu direncanakan sejak lama, sudah diketahui aparat, diketahui oleh pimpinan MPR, dan tidak ada kaitannya dengan Aksi Bela Islam III. Justru Aksi Bela Islam III itu yang berubah pelaksanaannya, dari semula direncanakan tanggal 25 November, kemudian mundur menjadi 2 Desember. Jadi, tuduhan menunggangi itu mengada-ada dan tidak sesuai fakta,” paparnya.
Kita tahu, kasus yang dituduhkan kepada Rachmawati dan sejumlah tokoh lainnya itu kemudian menguap begitu saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Bayangkan, betapa brengseknya tuduhan itu.
Bung Karno selama hidupnya memang memiliki banyak anak. Namun, hanya dua anak Bung Karno yang pernah menulis tentang bapaknya, yaitu Guntur dan Rachmawati. Sejak muda, kita tahu Guntur teguh tidak pernah mau masuk ke dunia politik. Sementara Rachma, sejak 1981 dia tak pernah sudah berusaha membesarkan Universitas Bung Karno. Tak perlu diragukan, di antara anak-anak Bung Besar, Rachmawati sangat menguasai pemikiran dan idealisme ayahnya.
Pagi tadi, Sabtu, 3 Juli 2021, putri Sang Proklamator itu telah berpulang. Sugeng tindak, Bu Rachma.
Inalillahi wa inna ilaihi rajiun.