Mengenang Mbak Rachamawati Soeknarno Putri

0
63
Rachmawati: Jangan Tuduh Saya Lakukan Makar!/medita
JAKARTASATU.COM – Menjalin persahabatan dan hubungan kerja saya dengan almarhumah Mbak Rachma, belum sampai 10 tahun. Namun saya merasa sudah berkawan lama dengan beliau. Jalan cerita awal bisa menjalin persahatan dan membangun tim kerja yang solid bersama beliau dan beberapa staf pengajar UBK pun unik dan tidak lazim.
Mau tahu sekilas gimana ceritanya? Inilah bukti nyata hidup manusia selain berurusan sama ruang dan waktu, yang tak kalah penting adalah probablitas. Membuka peluang terjadinya suatu peristiwa yang tidak biasa-biasa saja.
Sekitar 2015 atau 2016, saya agak lupa persisnya, produser TV One mas Teuku Reza, tiba-tiba menelpon saya, minta dengan sangat agar saya mau jadi salah satu narsum di Acara ILC nya bang Karni Ilyas. Waktu itu topik bahasan adalah mengupas kepulangan salah satu konglomerat hitam Samadikun Hartono. Waktu itu Teuku Reza yang tahu betul aktivitas saya, meminta saya khusus mengupas dari segi gepolitik dan politik luar negeri.
Entah kenapa, awalnya saya rada ogah-ogahan, kayak merasa kurang sreg aja topiknya, dan lagi saya merasa bakal lain sendiri cara pandangnya dibanding misalnya Prof Salim Said, Abdurrahman Saleh, apalagi Boy Rafli dan Fuad Bawazir. Tapi tentu saja saya sungkan berterus terang sama mas Reza, sehingga nyari alasan kalau lagi dikejar deadline lah, lagi nulis lah dan sebagainya.
Tapi sementara mas Reza gigih membujuk saya terus, sementara itu saya minta second opinion teman2 dekat saya, termasuk teman sejawat kerja saya Mas Arief Pranoto, mas Rusman, dan banyak lainnya. Ringkasnya mereka senada dan seirma: “Udah mas, kapan lagi bisa tayang di acara sepenting ILC.”
Akhirnya meski masih setengah hati, saya kabulkan bujukan mas Reza. Siap jadi narsum di ILC. Untuk selebihnya, saya nggak usah menceritakan lagi, karena banyak dari kawan2 sudah melihatnya secara langsung. Bahkan mungkin rekamannnnya pun masih ada. Yang Alhamdullilah semua puas. Saya pun selesai acara, terheran heran sendiri, meski merasa melawan arus pandangan lainnya, namun saya merasa sudah menyatakan pandangan saya. Dan narsum lainnya pun meski berbeda dengan saya, mereka oke-oke saja.
Nah sekarang, cerita setelah tayangan ILC itu berlalu. Beberapa hari kemudian secara tiba-tiba telpon masuk lewat ponsel saya. Waktu itu HP saya masih nokia model jadul yang cuma muncul nomor telp-nya saja. Pas saya angkat, ternyata Dr Ristanto, belakangan saya tahu beliau adalah wakil rektor UBK bidang kemahasiwaan, dan salah seorang tangan kanan dan orang kepercayaan Mbak Rachma.
“Pak Hendrajit, perkenalkan saya Ristanto, staf Ibu Rachmawati. Ibu Rachmawati menyaksikan acara ILC dan sangat senang sekali dengan ulasan Pak Hen, Bu Rachma kirim salam dan mengucapkan selamat atas ulasan bapak. Selain itu, bu Rachma bertanya kiranya pak Hen kapan ada waktu luang, beliau ingin ngobrol.”
Itulah awal mula saya menjalin komunikasi dengan Mbak Rachmawati yang sebelumnya saya hanya mengikuti beliau dari kejauhan. Saat kali pertama bertemu beliau, di ruang ruang pribadinya yang cukup luas di UBK yang berlokasi di seberang stasiun Cikini, atau bersebelahan dengan bioskop Metropole.
Rupanya pertemuan perdana itu bukan sekadar ngobrol2 lepas ke sana ke mari. Mbak Rachma dan orang2 dekatnya seperti Mas Ristanto, Mas Eko, dan Prof Ryass Rashid, rupanya sedang menyiapkan sebuah modul dan kurikulum untuk Kursus dan Latihan Kepemimpinan di bawah asuhan lembaga baru, Institut Kepemimpinan Sukarno (IKS).
“Kami sudah merancang ini beberapa kali sesi pertemuan Pak Hendrajit. Saya dengar Pak Hen mendalami geopolitik, saya berharap sekali anda yang mengisi dan menangani materi tersebut. Mau ya pak?” Kontan saya jawab dengan segala senang hati, dan merupakan suatu kehormatan dipercaya ikut menggarap dalam proyek yang terkait dengan sosok yang saya kagumi sejak remaja, Bung Karno, ayahanda Mbak Rachma.
Melalui program Latihan Kepemimpinan besutan IKS inilah, saya secara intens meski hanya berkala, menjalin komunikasi cukup dekat dengan Mbak Rachma,dan belakangan juga para akademisi dan pimpinan UBK lainnya.
Selain ikut aktif menangani program yang tentunya menuntut keseriusan, namun di sela-sela itu saya jadi berkesempatan ngobrol2 santai yang sifatnya kekeluargaan dan pertemanan. Malah di sela-sela pertemuan dengan beliau dan para staf dekatnya tiba2 entah gimana ceritanya, terus nyentil kakaknya yang di Teuku Umar itu, tiba-tiba saja mbak Rachma terus ngelirik ke saya sembari senyum-senyum dan berkata “Yah begitu lah pak Hen, kita ini selalu beda mahzab.” Saya pun sambil tersenyum-senyum menimpali “Iya mbak, saya juga ngerti kok.”
Setelah program IKS angkatan I berakhir dan sempat dilantik bersamaan dengan wisuda lulusan UBK, saya sempat tidak tahu lagi gimana perkembangan selanjutnya. Mungkin karena ada program lainnya yang lebih meminta perhatian, nampaknya pada sesi berikutnya belum sempat dilanjutkan ke Angkatan ke II.
Pada 2020 awal, lagi-lagi saya dikontak orang dekat Mbak Rachma. Kali ini UBK secara langsung akan menyelenggarakan Program Pendidikan Bela Negara dengan fokus pada pendidikan Soft Power untuk menghadapi Penjajahan Asing secara non-militer.
“Untuk kali ini, Ibu Rachma sangat berharap bergabung dalam proyek ini Pak Hendrajit. Karena menurut Ibu Pak Hendrajit lah yang tahu betul isi kepala Bung Karno soal Geopolitik, begitu pesan singkat staf dekat mbak Rachma menyampaikan amanat beliau ke saya.”
Dalam hati saya, waduh apa nggak berlebihan kali ini. Malah selain minta gabung,. di di program ini pun, saya selain menangani materi geopolitik, juga diminta jadi Ketua Tim Penyusunan Kurikulum. Setelah bersusah payan menolak jabatan ketua, namun akhirnya saya setuju dengan syarat ini merupakan kepemimpinan bersama.
Maka setelah vakum karena program latihan kepemimpinan IKS belum berlanjut, maka kembali pertemuan berkala mingguan bersama mbak Rachma dan para akademisi UBK lainya, kembali berjalan secara intens. Sehingga pertukaran pikiran dan pandangan saya dengan mbak Rachma pun semakin mendorong hubungan kerja juga semakin solid dan saling memahami satu sama lain. Sampai akhirnya penyusunan kurikulum dan modul Pelatihan Bela Negara tuntas sudah.
Saat pagi tadi saya mendengar kabar duka mbak Rachma telah tiada, yang terbersit pertama kali mengetahui kabar itu, saya teringat acara ILC nya Bang Karni Ilyas. Betapa dahsyatnya yang namanya probabilitas.
Andaikan saya waktu itu mengikuti ego saya menolak ikutan acara ILC yang sebenarnya topiknya saya kurang sreg, dan mas Teuku Reza sang produser tidak cukup gigih membujuk saya agar mau ikut, mungkin saya tidak cukup beruntung berkenalan dan menjalin persahabatan akrab dengan putri ideologis Bung Karno, mbak Rachmawati. Bahkan hanya bertemu beberapa kali, diserahi kepercayaan dan dengan beban tanggungjawab yang besar.
Semoga kebaikan dan konsistensi perjuangan mbak Rachma untuk membangkitkan kembali kejayaan bangsa dan keselamatan negara kita, bisa menjadi wasilah bagi almarhumah untuk mendapatkan tempat yang terbaik di sisiNYA. Aamiin Allahumma
Aamin.
HENDRAJIT
May be an image of 1 person and text that says 'PENDIDIKAN மம் PAA C000 1 5 00000 CIVITAS ACADEMIKA UNIVERSITAS BUNG KARNO Turut berduka cita Inna lillahi wa inna ilaihi raji'uun I Belasungkawa atas wafatnya Ibu Hj. Dr.(HC) Rachmawati Soekarnoputri SH., ΜΗ. Pada hari Sabtu,3 Pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno Universitas Bung Karno mulia'
You, Lucky Lukmanul Hakim, Vivi Riani and 199 others
44 Comments
4 Shares
Like

 

Comment
Share