Waspadai Politisi ‘Ikan Lele’ di Tengah Pandemi

0
58
Professor Abdul Mu'ti/IST

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengingatkan perlunya mewaspadai manuver politisi ‘ikan lele’ di tengah pandemi Covid-19. Menurut dia, buruknya penanganan pandemi tidak hanya disebabkan oleh dampak sosial dan ekonomi semata, tapi juga karena ulah mereka.

Mu’ti menjelaskan, istilah politisi ikan lele ini dipinjamnya dari ungkapan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif untuk menunjuk mereka yang senang tampil memperkeruh suasana dan mengadu domba.

“Saya menyebut politisi ini tidak selalu mereka yang menjadi pengurus partai politik, tetapi orang yang pikirannya selalu mengaitkan berbagai keadaan itu dengan politik, berbagai persoalan dipolitisasi,” jelas Mu’ti dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis (5/8/2021).

Mu’ti menjelaskan, politisi ikan lele itu adalah mereka yang menikmati kehidupannya di tengah keruhnya air. “Sehingga karena itu sekarang ini banyak sekali orang yang berusaha memancing di air keruh dan banyak orang yang tidak sekadar memancing di air keruh tapi juga memperkeruh suasana,” tambahnya.

Mu’ti melanjutkan, umumnya politisi ikan lele adalah mereka yang bersikap partisan dan menggunakan popularitasnya sebagai pendengung. Di setiap kelompok partisan, ia menengarai selalu ada beberapa orang yang mengambil peran sebagai politisi ikan lele.

“Misalnya banyak yang mengaitkan dengan teori-teori konspirasi yang mengatakan bahwa Covid ini adalah buatan Cina, dan ini adalah cara Cina melumpuhkan Indonesia dan sebagainya. Saya kira pandangan-pandangan spekulatif itu tidak dapat kita benarkan tapi itu juga berseliweran di masyarakat sehingga dalam keadaan yang serba sulit seperti sekarang ini ada kelompok-kelompok tertentu yang saya pinjam istilahnya Buya Syafii Ma’arif itu seperti politisi ikan lele,” terangnya.

Muhammadiyah, menurut Mu’ti, tidak ingin masyarakat Indonesia tereret arus ulah tidak bertanggungjawab para politisi ikan lele tersebut. “Muhammadiyah tidak ingin keadaan negeri kita ini semakin terpuruk dan Muhammadiyah juga tidak ingin pandemi Covid-19 ini menjadikan kita sebagai bangsa yang sakit, baik sakit secara jasmani maupun sakit secara sosial,” kata Mu’ti.

“Bangsa yang sakit secara sosial itu adalah bangsa yang masyarakatnya tidak percaya satu dengan yang lainnya. Di mana masyarakatnya saling mencurigai satu dengan yang lainnya dan itu kita juga melihat tanda-tandanya sebagian ada yang berusaha memancing-mancing dan kemudian menumbuhkan rasa saling tidak percaya,” tutup Mu’ti. (JAKSAT/RED)