Gegara Gelar Lomba, BPIP Bikin Gaduh Lagi

0
210
Abu Muas T., Pemerhati Masalah Sosial/ist

Oleh: Tardjono Abu Muas (Pemerhati Masalah Sosial)

KITA semua mungkin masih ingat gebrakan pertama Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Yudian Wahyudi tak lama usai dilantik sekitaran Februari 2020 lalu sebelum pandemi covid melanda negeri ini, yang bersangkutan telah membuat pernyataan yang cukup kontroversial bahwa “musuh utama Pancasila adalah agama”.

Tak urung pernyataan Yudian ini menjadi bola panas yang menggelinding ke berbagai arah, walaupun akhirnya seperti biasanya ada klarifikasi dari yang bersangkutan setelah berbagai pihak mengecamnya. Klarifikasi tetap saja tak dapat meredam kegaduhan yang terjadi. Kegaduhan sedikit mereda karena tak lama kemudian, tepat pada awal Maret 2020 pandemi covid sudah merambah ke negeri ini.

Pandemi Covid-19 yang telah memasuki bulan ke-17 melanda negeri ini, dan hingga kini belum juga dapat diprediksi kapan berakhirnya, kini BPIP membuat kegaduhan baru berkenaan dengan perayaan Hari Santri Nasional menggelar lomba Penulisan Artikel Tingkat Nasional dengan tema: “Hormat Bendera Menurut Hukum Islam” dan “Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam”

Tak urung pula, ide lomba ini akhirnya mendapat kecaman dari berbagai pihak hingga kecaman paling keras ada yang menyatakan, “bubarkan saja BPIP”. Patut diduga, seperti biasanya lontaran ide lomba ini hanya sebagai Test The Water belaka, jika banyak kecaman dan penolakan maka ujung-ujungnya menghilang tanpa bekas.

Terlepas ide tersebut hanya sebagai Test The Water belaka, namun patut diduga memang sejak awal dilantik mainstream pemikiran yang bersangkutan sudah menilai bahwa agama menjadi musuh utama Pancasila. Tak akan jauh lagi, ide lomba kali ini pun patut diduga ingin membenturkan faham agama dengan nasionalis. Para santri sebagai para peserta penulisan artikel digiring untuk mengungkapkan pendapatnya.

Sepaham dengan berbagai pihak yang mempertanyakan kinerja BPIP selama ini dalam kontribusinya ikut membangun kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Alih-alih dapat ikut memberikan ketenteraman dan kenyamanan, malah sebaliknya BPIP membuat kegaduhan baru dengan ide menggelar penulisan artikel yang membenturkan agama dengan nasionalis. Menyikapi kondisi ini, layak timbul pertanyaan, masih patutkah keberadaan BPIP dipertahankan? ***