TALIBAN

0
1174
Hendrajit Direktur Eksekutif Global Future Institute/ist

OLEH HENDRAJIT, Direktur Eksekutif Global Future Institute,Wartawan Senior

DALAM acara webinar yang diadakan Satu Pena pimpinan Denny JA, ada pertanyaan menggelitik apakah penarikan mundur tentara AS dari Afghanistan itu pura-pura atau karena ada mainan baru?

Saya bilang, AS memang salah perhitungan dalam membuat rencana bertahap penarikan mundur tentaranya dari Afghanistan, hanya saja pada akhirnya tidak sesuai dengan skenario hasil pertemuan AS dan Taliban di Qatar semasa kepresidenan Donald Trump.

Memang akan ada penarikan mundur pasukan AS jelang September 2021, tapi tidak menyangka skemanya seperti saat Taliban masuk Kabul tempo hari. Intelijen Barat tidak bisa merangkai kepingan2 informasi yang sebelumnya, yang sebenarnya amat berharga, bahwa kedekatan Pakistan dan China dalam bidang ekonomi maupun pembangunan jalur pipa gas, sejatinya bukan karena semata kerjasama ekonomi, misi tersiratnya adalah menggalang kerjasama mengawal lokasi geografis Jalur Sutra dari jalur Utara maupun Selatan.

Alhasil, komunitas intelijen Barat tidak mampu membayangkan efek domino ke arah kerjasama China-Rusia-Iran yang kian solid, membawa efek terciptanya kekompakan di dalam konstelasi politik dalam negeri Afghanistan. Yaitu menyatunya tiga sjuku besar Afghanistan Pastun-Tajik-Hazara, yang otomatis menyatunya Suni-Syia, karena adanya kerjasama tiga negara tersebut.

Inilah yang mendasari keterkejutan dunia internasional tak terkecuali AS, ketika Taliban tibat-tiba tanpa sarana bersenjata berhasil melancarkan tekanan diplomatik sehingga semua elemen terkait invasi AS ke Afghanistan pada 2001, keluar dari peredaran.
Satu lagi catatan yang saya sampaikan dalam Webinar Satupena, banyak kalagan pemerhati hubungan internasional sama sekali tidak punya penjelasan yang cukup jelas, apa motivasi tidak kasatmata semakin solidnya beberapa negara Islam seperti Iran dan Pakistan dengan China.

Pertama, negara-negara Islam baik di Timur-Tengah maupun Asia Tengah dan Selatan, mulai menghayati kembali kemesraan hubungan negara-negara Islam dengan China, khususnya pada masa kejayaan maritim di masa kekaisaran Dinasti Ming di abad ke-15. Bukan saja telah terjadi kontak dagang melainkan juga kontak budaya.

Kedua, negara-negara Islam dan China, sejatinya punya satu cara pandang dalam memandang dunia yang relatif sama, memandang dirinya sebagai negara peradaban ketimbang negara-bangsa. Maka success story China yang dirintis sejak era Deng Xioping pada 1978 hingga kini, China bukan saja berhasil bangkit dari keterpurukan, bahkan semakin menyamai kedigdayaan negara-negara adikuasa lainnya. Namun China ketika sekarang maju tetap berhasil mempertahnakan saripati identitas China-nya. Maka akan banyak negara-negara Islam lainnya yang mulai mempelajari keberhasilan China sebagai negara maju, tapi tidak kehilangan identitas.

Dengan begitu saya katakan, kerjasama China dan beberapa negara Islam yang dirintis Iran dan Pakistan, punya efek domino yang kian meluas skala dan lingkupnya di Asia Tengah dan Asia Selatan.

Apalagi sejak 2001, China dan Rusia mulai menjalin aliansi strategis di bawah payung Shanghai Cooperation Organization (SCO). Yang kalau kita cermati agenda tersuratnya memang hanya sebatas kerjasama ekonomi-perdagangan dan menangkal kontra terorisme. Namun misu tersiratnya adalah mengawal kawasan Asia Tengah.()