‘BLBI’ Jilid Berikutnya

0
311
Demo Skandal BLBI/ist

DALAM skala yang lebih kecil, sebenarnya sama saja, ini juga kayak ‘BLBI’.

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung itu, dulu katanya hanya 86 trilyun. Eehh, bengkak deh, jadi 114 trilyun.

Begitulah, dulu yang penting setuju, jalan semua. MAKSA! Bahkan saat menteri perhubungan Jonan waktu itu tdk setuju. Yang lain tetap maksa. Lobi2 kelas tinggi dilakukan. Setelah mulai dibangun, bengkak anggarannya. Saya sih tidak kaget. Memang itu strateginya. Kasih data kecil dulu, besok2 baru bengkak. Utang ke China sudah menggunung, proyek belum kelihatan kapan selesai dan beroperasinya (jika tdk ditalangi).

BUMN yg bikin mulai megap-megap. Keuangannya semaput. Bayar bunga utang ke China saja mereka pusing tujuh keliling. Yes! Lobi2 dilakukan, dan si pemaksa2 ini berhasil. Presiden menjilat ludah sendiri. Dengan begitu terang2an. Mereka siap mengucurkan dana APBN membantu proyek ini.

Sorry, bukankah ini mirip dengan BLBI dulu? Terjadi masalah yang mengancam. Lantas ditalangi, dibantu. Sama atau tidak? Kamu tdak bisa melihatnya? Yes! Proyek ini sama saja dengan Formula E. Maksaaa banget. Pokoknya harus jadi. Peduli setan uang rakyat dipakai.

Dan beban keuangan ini akan terus ditanggung APBN. Jika kereta cepat ini jadi, berapa tiketnya nanti? 1 juta? Biasanya sih, disubsidi pemerintah. Kalau lihat MRT Jakarta, dll tiket bisa disubsidi sampai 80%. Mantab! Orang2 kaya disubsidi naik kereta cepat. Setiap tahun ratusan milyar berikutnya digelontorkan buat subsidi. Siapa yg diuntungkan, yg tinggal di perumahan2 elit di jalur kereta ini.

Karena kalau kamu jual itu tiket 1 juta, bahkan orang2 kaya ini juga malas naiknya. Jarak cuma 120 km, pakai mobil cuma 2,5 jam. Ngapain pula naik kereta yg nanti repot saat tiba di stasiun yg jauh dari mana2.

Jujur sajalah, Kawan. Sejak awal, proyek ini tidak layak secara ekonomi, ini teh cuma soal ambisi! Dan enaknya kamu para politisi, jika terdesak, proyek2 ini bisa pakai duit rakyat. Bukan duit nenek kamu. Dan jika proyek ini nanti sepi penumpang dll, gampang, tinggal salahkan orang lain.

Utang menjulang 4.000 trilyun lebih. Untuk mendanai proyek2 super mahal. Setiap hari utang bertambah 3 trilyun. Siapa yg akan bayar utang ini? Ehem, tentu saja yang rajin bayar pajak dan lapor SPT! Kamu bayar dan lapor tidak? Atau pajak kamu ditanggung negara? Atau kamu malah yg sebaliknya, bancakan uang negara?

*Tere Liye, penulis ‘Negeri Para Bedebah’