Hanya Satu: Islam

0
605
K.H. Athian Ali M.Da'i, Lc. M.A./ist

Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, Lc.,M.A.*

Alloh SWT bukan hanya saja Waahid – satu- (Q.S. Al Baqaroh : 163; Al Kahfi : 110; Al Anbiyaa : 108; Al Haj : 34) tapi Wahid yang Ahad – satu yang tidak terdiri dari unsur-unsur (Q.S. Al Ikhlash)

Alloh yang Ahad mustahil menurunkan sekian Ad Dien (Agama), Dia hanya menurunkan satu Agama yakni Islam (Q.S. Ali Imraan : 19 ).

Islam, adakah nama yang ditetapkan langsung oleh Alloh SWT? Jika sebutan Muslim kepada ummat yang beriman kepada ajaran yang diturunkan Alloh SWT lewat para Rasul terdahulu baru sebatas sifat (Q.S. Al Baqaroh : 128, 133) maka pada masa Rasululloh SAW Islam tidak lagi hanya sebatas sifat tapi resmi ditetapkan Alloh SWT menjadi nama dari Agama yang diturunkan Alloh SWT (Q.S . Al Ma-idah : 3) yang ummatnya kemudian dijuluki muslim (Q.S. Al Haj : 78 )

Nama Islam, begitu pula ajarannya sudah sangat sempurna (Q.S Al Ma-idah : 3 ) yang karenanya bukan hanya tidak layak, bahkan tidak ada satu makhluk pun (Makaikat, jin dan manusia) yang berhak memberikan penambahan baik terhadap nama Islam terlebih ajarannya.

Kehadiran embel-embel setelah Islam, seperti Islam moderat, Islam radikal, Islam nusantara, begitu pula yang terjadi pada beberapa aliran-sesat seperti Islam syiah, Islam Ahmadiyah, Islam jamaah, Islam murni dan sebagainya, semua ini sengaja dibuat oleh sementara orang untuk memecah-belah ummat Islam, sekaligus sebagai bentuk upaya untuk menjauhkan ummat Islam dari agamanya.

Upaya tersebut sangat mudah terbaca ketika mereka berupaya menanamkan stigma negatif kepada yang mereka sebut sebagai Islam radikal yang menurut mereka bukan hanya saja patut diwaspadai bahkan harus dijadikan musuh bersama.

Aroma Islamophobia sangat nampak, ketika label Islam radikal tersebut mereka alamatkan kepada setiap muslim yang hakikatnya sedang berupaya optimal merefleksikan seruan Alloh SWT, untuk melaksanakan syariat Islam secara kaafah mencakup dari A sampai dengan Z kehidupan (Q.S. Al Baqaroh : 208).

Sementara julukan yang positif dialamatkan kepada yang mereka sebut sebagai Islam moderat yang mereka sematkan kepada setiap muslim, yang dengan sadar dan rela meninggalkan bahkan lantang menentang sebagian dari prinsip ajaran agamanya, dengan mengikuti pemikiran, pemahaman dan peradaban Barat.

Mereka pun tak segan-segan untuk menganugerahkan gelar cendekiawan muslim kepada beberapa tokoh Islam yang berfikiran liberal dan sekuler yang berjuang dengan gigih menjauhkan Agama khususnya dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ironisnya, ada pula tokoh muslim yang ikut terjebak ke dalam skenario ini, dimana dengan kulit yang berbeda namun isi yang nyaris sama , memunculkan embel-embel wasathan atau wasathiyyah di belakang Islam, sehingga terkesan Islami.

Padahal sebutan washatan atau wasathiyyah tidak pernah disematkan Alloh SWT kepada Agama Islam, tapi kepada ummat yang memilih Islam sebagai agamanya (Q.S. Al Baqaroh : 143) karena keberadaan ummat Islam washatan (pertengahan) dalam akidah antara yang atheis dan yang musyrik.

Pertengahan antara yang mengutamakan nilai-nilai materialisme dan mengabaikan nilai-nilai ruhaniyyah dan atau yang sebaliknya mengutamakan nilai ruhaniyyah semata dan mengabaikan segala yang berbau duniawi. Pertengahan antara faham komunisme dan faham kapitalisme (Syekh Mutawally Asy Sya’rawi ; Tafsir Asy Sya’rawy)

Penambahan di belakang nama Islam, sangat tidak layak dilakukan oleh seorang muslim apalagi oleh yang bukan muslim.
Penamaan-penamaan tersebut hanya akan menimbulkan kesan bagi orang awam dan juga yang bukan muslim, seakan-akan ada sekian Islam yang satu dengan lainnya berbeda.

Bila hal ini terus dibiarkan, maka diduga kuat akan terus menimbulkan perpecahan di kalangan ummat Islam sebagaimana yang dikehendaki oleh para islamophobia.

Hanya satu: Islam ! Yang meyakininya disebut mukmin, sementara yang tidak meyakininya disebut kafir. Yang taat melaksanakan syariatnya diberi gelar muslim, sementara yang tidak taat dijuluki dzalim atau fasik.

Hanya satu : Islam ! Ia hadir untuk merombak sistem kehidupan jahiliyaah agar sesuai dengan Islam, bukan sebaliknya Islam yang dipaksakan untuk menyesuaikan dengan budaya jahiliyyah pada berbagai zaman.

Islam, kapan pun dan dimana pun tidak boleh tunduk kepada budaya dan perkembangan zaman, tapi budaya dan perkembangan zamanlah yang harus tunduk kepada Islam

Hanya satu : Islam ! dan kita semua insya-a Alloh : Muslim tanpa embel-embel!

* Ketum Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) / Ketum ANNAS Pusat