MEMAKNAI MTQ V KORPRI : MOMENTUM ILAHIAH MOMENTUM WATHONIYAH

0
676

Oleh : Herujatmiko *)

KORPRI yang dibentuk pertama kali dengan Keputusan Presiden Nomor 72 Tahun 1971 akan genap berusia 50 Tahun pada 29 November 2021. Dalam usianya yang akan memasuki setengah abad, beberapa persiapan telah dilakukan untuk menyemarakkan ulang tahun emas tersebut. Beberapa kegiatan secara nasional yang telah direncanakan antara lain : Ziarah di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Doa Bersama, Pemilihan Duta KORPRI dan Pemberian KORPRI Award, Bakti Sosial, serta MTQ V KORPRI.

​Sejauh ini, MTQ KORPRI telah diselenggarakan 5 kali. MTQ kali ini merupakan MTQ KORPRI kelima sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2012 di Makassar (Sulawesi Selatan) kemudian berturut-turut tahun 2014 di Banda Aceh (Aceh), tahun 2016 di Samarinda (Kalimantan Timur), tahun 2018 di DKI Jakarta dan tahun 2021 ini di Kendari (Sulawesi Tenggara). Di samping itu pada saat pandemi Covid-19 tahun 2020 dimana kegiatan luar ruangan menjadi sangat dibatasi maka KORPRI membuat inovasi dengan melaksanakan MTQ KORPRI secara Virtual.

MTQ akan memusabaqahkan 9 cabang dengan 25 kategori. MTQ saat ini diikuti oleh 66 kafilah terdiri atas kafilah dari 34 dan 32 kafilah dari Kementerian dan Lembaga. Keseluruhan peserta dan official yang dating ke Kendari lebih dari 700 orang yang didukung oleh 100 orang lebih Dewan Hakim, Dewan Pengawas, Panitera, dan Sekretariat Panitia Pusat dan daerah

Khusus untuk MTQ KORPRI tampaknya patut dicermati karena waktunya hanya berselang 1  bulan dari STQ Nasional. Jika STQ Nasional diselenggarakan di Sofifi, Maluku Utara sedangkan MTQ KORPRI akan diselenggarakan mulai tanggal 14 sampai 20 November 2021 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Sebuah perhelatan yang diselenggarakan di tempat yang cukup jauh dari ibukota Negara.

Momentum Ilahiah : Niat dan Pengawasan

MTQ KORPRI bertujuan meningkatkan keimanan dan membina insan anggota KORPRI yang bertaqwa kepada ALLAH SWT. Seperti diketahui bersama bahwa PNS (anggota KORPRI) merupakan abdi negara dan pelayan masyarakat sehingga dibutuhkan SDM PNS yang memiliki karakter kuat dan beriman kepada Tuhan YME.

Hal tersebut menjadi penting dalam upaya mewujudkan birokrasi yang efektif unsur ketergodaan melakukan tindak kejahatan (baca: dosa) menjadi berkurang. Jika mengacu pada teori kejahatan dimana kejahatan dapat terjadi karena unsur niat, kesempatan, dan pengawasan, maka ketaqwaan setidaknya menyumbang dua unsur internal humanity yaitu mereduksi niat dan mempermudah pengawasan. Ini adalah hal yang strategis dalam kontek mewujudkan good governance dan clean government.

Unsur Niat

Niat adalah unsur pokok pencegahan sebuah kejahatan. Dalam hal ini Islam telah memberikan pedoman yang tegas. Melalui hadist Qudsi dalam HR.Bukhari nomor 6491, dan HR Muslim nomor 131, diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas RA bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah (menugaskan Malaikat untuk) mencatat kebaikan dan kejahatan setiap orang. Selanjutnya, siapa yang berniat akan melakukan suatu kebaikan namun tidak dilakukannya, maka ALLAH mencatat satu kebaikan penuh untuknya. Jika seseorang berniat akan melaksanakan suatu kebaikan kemudian dilaksanakannya, maka ALLAH mencatat sepuluh hingga seratus kebaikan untuknya atau dengan kelipatan lebih banyak lagi. Siapa yang berniat akan melakukan suatu kejahatan namun tidak dilaksanakannya, maka ALLAH mencatat untuknya satu kebaikan penuh. Jika seseorang berniat akan melaksanakan suatu kejahatan kemudian benar-benar dilaksanakannya, maka ALLAH mencatat untuknya satu kejahatan”.

Bagi orang yang beriman, hadits itu menjadi guidance yang terang benderang, tidak ada keraguan di dalamnya (la royba fiihi) dalam bersikap, bertindak, dan berperilaku akhlakul karimah menjauhi segala hal terkait tindak kejahatan/dosa.

Unsur Pengawasan

MTQ sebagai upaya membina keetaqwaan juga berkait erat dengan salah satu fungsi manajemen yaitu pengawasan. Henry Fayol mengartikan pengawasaan sebagai sebuah proses pengujian untuk memastikan apakah perencanaan sudah dilaksanakan sesuai perintah dan aturan yang ditetapkan sebelumnya. Kejahatan biasanya dilakukan dengan menabrak aturan atau mencari celah, mempermainkan aturan untuk dikelabui demi mencari keuntungan diri sendiri. Secara sistem, dalam pengawasan dikenal konsep WASKAT atau pengawasan melekat.

Pengawasan melekat dapat didefinisikan sebagai salah satu upaya pengendalian aparat disetiap instansi pemerintah dan satuan organisasi dalam meningkatkan mutu kinerja didalam lingkungan tugasnya masing-masing agar tujuan instansi/organisasi tersebut dapat tercapai secara efektif dan efisien. Dalam pengawasan melekat maka atasan menjadi orang yang berperan langsung mengawasi perilaku anak buahnya.

Secara ilaihiah WASKAT dapat dimaknai sebagai pengawasan malaikat. Artinya setiap ucapan dan tindak tanduk kita selalu dalam kerangka kesadaran bahwa kita sedang dicatat oleh malaikat. Tidak saja tindakan yang nyata (jahar), namun juga hal-hal yang selembut atom (zarah).

​Upaya menjadi birokrasi yang bersih hanya dapat diwujudkan apabila yang mengawasi (baca: birokrat) merasa diawasi tidak hanya oleh atasan atau masyarakat, namun terlebih lagi merasa di awasi oleh Yang Maha Pengawas, ALLAH SWT yang Maha Lembut dan Maha Detail dalam setiap pengawasan.

Momentum Wathoniyah

MTQ KORPRI menjadi ajang silaturahim antar PNS dan kafilah seluruh Indonesia yaitu 34 Provinsi serta Kementerian/Lembaga sehingga MTQ juga menjadi sarana mewujudkan soliditas dan solidaritas anggota KORPRI. Hal ini menjadi awal mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.  Sebagai bangsa majemuk dengan berbagai macam etnis, bahasa, dan agama, bangsa Indonesia dikenal memiliki cultural diversity. Kendatipun demikian, kemajemukan tidak harus menjadi alasan perpecahan karena kemajemukan merupakan awal potensi untuk saling mengenal.

Asl-Qur’an sendiri telah menyatakan “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al Quran Surat Al-Hujurat ayat 13)

Khawarij

Namun seperti diketahui bahwa dalam dekade terakhir telah berlangsung pemikiran-pemikiran ekstrim dalam beragama terutama pemikiran khawarij yang melakukan perbuatan-perbuatan kekarasan. Dalam konteks saat ini khawarijisme telah bermetaformosa bersama perubahan jaman dalam bentuk aksi-aksi pemboman bunuh diri dan upaya mengganggu sendi-sendi keamanan masyarakat. Pemikiran ekstrim ini menjadi sangat berbahaya karena selalu memakai label agama seperti nomenklatur  jihad yang dimaknai secara serampangan. Untuk itu penting kiranya mengaplikasikan moderasi beragama.

Moderasi Beragama

Moderasi beragam merupakan konsep yang soft dalam beragama yang tidak mengedepankan ekstremitas. Moderasi dimaksudkan sebagai adil artinya tidak copndong ke kiri dan tidak pula condong ke kanan. Dalam aplikasi beragama, tidak meremehkan namun juga tidak berlebihan. Dalam konteks Islam, moderasi ini adalah jalan tengah (washith). Dengan paradigma adil dan wasith inilah diharapkan terjadi deradikalisasi.

Sebenarnya konsep moderasi beragama bukan barang baru dalam sejarah Islam. Sebagai agama paripurna, Islam telah menerapkan hal tersebut dalam bentuk Piagam Madinah yang tidak meminggirkan agama-agama lain dalam diametral yang saling berbenturan. Mungkin secara aqidah dan ibadah berbeda, namun dalam bermuamalah tetap merasa sebagai satu kesatuan masyarakat yang utuh.

Akhirnya, sebagai organisasi yang telah malang melintang melempaui beberapa rezim, nampaknya KORPRI terus berbenah diri. MTQ KORPRI V dapat menjadi salah satu pijakan kuat bagi KORPRI untuk men-chast secara rohani (ilahiah) serta untuk mulai bangkit berperan dalam kehidupan berbangsa dan  bernegara (wathoniyah). Momentum MTQ V KORPRI harus dapat dimaknai secara lebih dalam demi kepentingan yang jauh lebih luas. Selamat bermusabaqah, selamat berfastabiqul khairat.

(Herujatmiko adalah alumni PPRA 62 Lemhannas, saat ini menjabat sebagai Kepala Biro Humas KORPRI Pusat dan Pengurus Ikatan Alumni Lemhannas PPRA 62 bidang kajian politik dan ideologi)