Peringatan Hari Pahlawan “Ibu Pertiwi Sedang Menangis”, KAMI BENTANGKAN SPANDUK JOKOWI MUDUUURR

0
861

JAKARTASATU.COM – Peringatan Hari Pahlawan yang diselenggarakan oleh Aliansi Masyarakat Peduli 10 Nopember di Bandung. Penanggung Acara Harri Mulyana bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kelancaran acara di depan Gedung Sate Bandung. Sejak pagi hari kami telah menerima kehadiran dari perwakilan berbagai ormas dari daerah di Jabar seperti dari Cimahi, Garut, Sukabumi, Karawang dan lainnya. Demikian disampaikan oleh Harri Mulyana sebagai PIC acara di Gedung Sate dalam rilisnya yang diterima Redaksi, 10 Nov 2021.

Secara semangat dan ikhlas membiayai sendiri untuk mengikuti acara secara tertib. Berpakaian sesuai ormas mereka, ada ibu-ibu yang hadir dengan berpakaian indah. Semua bersemangat mengacungkan poster kritik terhadap kekuasaan diantaranya berbunyi ; Presiden Suka Berbohong, Negeri Tergadai Hutang, TKA China di Sayang, Buruh RI di Buang, Pejabat dan Pengusaha Berbisnis di Balik Bencana Memeras Rakyat, menunjukan kepedulian mereka terhadap bangsa. Sesuai tema acara peringatan hari Pahlawan “Ibu Pertiwi Sedang Menangis” dan KAMI KARAWANG Bentangkan spanduk JOKOWI MUDUUURR

Kehadiran beberapa orator Doktor Tri Erniyati, Ummi Fallah dan , KH. Qohar Al Qudsy. QOHAR AL-QUDSY L.c YUDI menyampaikan kondisi bangsa saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja, masyarakat perlu membangkitkan jiwa kepahlawanan meneladani nilai nilai kejuangan dan pengorbanan para pejuang dan patriot bangsa dalam segala upaya mereka memerdekakan bangsa dan negara dari segala bentuk belenggu penjajahan. Dalam kondisi Ibu Pertiwi Sedang Menangis, solusinya rakyat harus bersatu padu mengawasi dan mengkritisi secara terus menerus rezim ini, rakyat harus melawan kebijakan yang merugikan dan membahayakan negara.

Kalangan milineal bernama Denida membacakan puisi karangan Adhie Massardi berjudul “Anak-anak Revolusi” dengan penggalan puisi sbb;
Sebagai anak revolusi, Mereka
jalankan tanggungjawab sosial dan
moral,Membangunkan rakyat
dari mimpi buruk karena mereka tertidur
dalam kegelapan
akibat penindasan segelintir bromocorah
di pusat-pusat kekuasaan
yang nyembunyikan matahari kebenaran.

Dilanjutkan dengan puisi berjudul “Sajak Mosi Tidak Percaya juga dari Adhie Massardi dengan penggalan sbb;
tahukah kamu rezim yang basi?
itulah rezim
yang kalau berkata selalu dusta
kalau berjanji tak pernah terbukti
kalau diberi amanat malah khianat
maka kepada rezim para buaya
aku nyatakan: mosi tidak percaya

Seorang aktivis Mahasiswa dari Bandung Yudi Muhammad juga tidak mau kalah dengan lantang menyampaikan puisi AMM berjudul “Sajak Pengantar Pergantian Kekuasaan”
sebelum ayam berkokok
dan langit timur mandi cahaya jingga
aku dengar suara “gubrak!”
kekuasaan
yang dibangun dari puing-puing kebohongan
yang tiang-tiangnya keropos dimangsa rayap
tumbang!
maka setelah adzan subuh
tak ada lagi orang yang gaduh
mereka kian percaya apa kata ulama
“do’a orang tertindas
akan dikabulkan Tuhan dengan lekas!”
dilanjutkan dengan puisi Adhie M Massardi yang sudah sangat terkenal “ Negeri Sang Bedebah”

Setelah Longmarch dari Gedung Sate ke TMP Cikutra Bandung, Upacara di TMP Cikutra sesuai kesepakatan dengan pengelola TMP diikuti terbatas oleh 70 orang, wakil satu orang dari setiap ormas, sedangkan yang lain menunggu dipelataran luar TMP.

“Sebagai penanggung jawab acara Brigjen Purn Kun Pritomo menyampaikan walaupun dalam keadaan hujan upacara dengan Inspektur Upacara Letjen Purn. Yayat Sudrajat mantan Kabais, berjalan khidmat dan tertib walaupun mungkin beberapa dari peserta upacara dari berbagai komunitas/ormas baru kali ini mengikuti jalannya nya upacara sesuai SOP penghormatan hari Pahlawan,”tandas Harri Mulyana. (RED/JKS)