#NGOPIMALAM: APA SUSAHNYA JUJUR TENTANG PCR

0
430

JAKARTASATU.COM – PCR atawa Polymerase Chain Reaction begitu panas mengelinding. Ini jadi bola liar, tapi nampaknya kini makin saling lempar. Jika saja Luhut Binsar Pandjaitan dan Eric Thohir (keduanya menteri penting) di Kabinet Joko Widodo Ma’ruf mau jujur dan tak blunder mungkin kasus ini akan segera lenyap dari bola panas yang makin liar. Sebenarnya pahit manis Jujurnya tidak seperti saat ini, pelan-pelan ngakunya. Tapi itulah yang terjadi.

Pengamat Politik, Direktur Eksekutif Global Future Institute dan juga wartawan Senior, Hendrajit mengungkapkan bahwa, “Secara hukum dalam praktek sistem kayak sekarang, memang keduanya akan selamat dan tidak tersentuh hukum, tapi secara sosial keduanya suah habis baik dia akui atau tidak. Reputasinya sekarang bangkrut sudah,” ujar Hendrajit Selasa, 9 November 2021 di media ini.
Kalau dipikir-pikir, orang itu ingin kaya atau berkuasa itu kenapa sih? Kan supaya reputasinya dikenang orang meski telah tiada, lanjut Hendrajit.  Semua umat beragama apalagi muslim, doa untuk ditinggikan derajat mendahului harapan dapat rejeki yang tentunya dibayangkan bersifat material. “Nggak ada cerita kaya dulu baru dapat derajat,” ungkapnya tegas.

Agustinus Eddy Kristanto menulis dengan tegas soal kecurigaan publik terhadap adanya bisnis PCR yang diduga melibatkan Menteri BUMN Erick Thohir (ET) dan Menko Marives Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) kemungkinan besar sudah tiba di depan pintu kamar Presiden Jokowi.  Agus mengatakan Bola salju meluncur deras: apakah Jokowi bergeming mempertahankan keduanya dalam kabinet.

Ada laporan ke KPK yang digalang oleh sejumlah pihak. Direspons oleh Ketua KPK Firli Bahuri melalui Twitter. Katanya, “Terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi termasuk dugaan korupsi Formula-E dan tes PCR, kami sedang bekerja. Prinsipnya, kami sungguh mendengar harapan rakyat bahwa Indonesia harus bersih dari korupsi.”
Saya lihat komandan Kuningan itu sedang memainkan politiknya sendiri. Memancing kubu Anies Baswedan bereaksi via kasus Formula E, kubu ET dan LBP via kasus bisnis PCR, tulisa Agus lagi.
Insting paling awam pun akan menangkap aroma politik menjadi panglima. Penegakan hukum dipengaruhi angin politik.
Ancaman ketidakpercayaan publik yang makin meluas terhadap kredibilitas pemerintahannya akibat dugaan skandal PCR yang sama dipandangi Hendrajit pun mencuat. Tapi sampai kapan Jokwi akan bicara dan komentar soal PCR?
Lagi-lagi soal kejujuran, karena ini yang dirindukan. Bagusnya dalam komunikasi politik yang baik dan elegan bahkan membawa reputasi pada masa kekuasaannya adalah Jokowi dan menteri yang disebut-sebut terlibat PCSR baiknya melakukan klarifikasi bersama ini akan lebih asyik, dari pada selalu tampil dalam memperpanjang PPKM yang berlevel-level itu. Kasus PCR sampai kini tetap jadi bola liar PCR ini akan kemana-mana karena publik dalam hal ini yang sangat kuat menyoroti tajam makin tak percaya jika selalu menghindar dan sepotong-sepotong klarifikasi dari yang disebut namanya dalam bisnis PCR PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI) itu.

Bola liar PCR ini juga tak mampu dibendung bahkan dengan munculnya issu teroris pun kasus PCR lanjut kembali bergulir. Sebenarnya dalam kejujuran akan terbuka semua, jika tak mau mundur atau minta maaf dan mengaku salah baiknya jujujur saja ke publik rakyat Indonesia. Apa sih susahnya jujur?

Terkuat panjang dari kasus PCR ini pun membuka saiap saja yang bermain antara Adaro, Indika, dan Northstar yang masuk ke PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI) sebagai yayasan dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) yang masuk melalui dua anak perusahaannya yang berbadan hukum PT. “Jika yayasan, itu tidak masalah, karena nanti keuntungan dari GSI akan kembali ke yayasan dan digunakan untuk tujuan sosial, kemanusiaan, dan pendidikan juga,”kata Agustinus.
GSI adalah PT, yang apapun argumennya tetap didirikan atas tujuan mencari laba, apapun istilahnya—mau itu kewirausahaan sosial atau apapun, terlepas dari pemegang sahamnya yayasan atau PT.
Agus juga memaparkan jangan tutupi fakta adanya relasi kekuasaan yang berpotensi konflik kepentingan. LBP adalah pendiri dan pemegang 10% saham TOBA sekaligus terlibat dalam pembentukan kebijakan Covid-19 dan PEN. ET adalah saudara Boy Thohir, Presiden Direktur ADRO sekaligus pemegang 6,1% saham. Boy juga Dewan Pembina dan Director in charge Yayasan Adaro Indonesia.
“Beberapa menuding saya telah membuat pengusaha (orang-orang kaya yang baik) akan jadi takut menyumbang untuk mengatasi Covid-19 karena khawatir diobok-obok. Saya pikir, menyumbang, ya, menyumbang saja (apalagi tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR) itu sebetulnya merupakan hal yang diwajibkan oleh undang-undang bagi perusahaan pertambangan/sumber daya alam seperti Adaro dan Indika),”bebernya.
Mengapa tidak langsung saja yayasan-yayasan itu menyumbang tanpa perlu bersekutu modal dalam PT? Mengapa menyumbang memerlukan penerbitan surat utang Rp77,5 miliar melalui kendaraan PT GSI? Mengapa untuk menyumbang perlu mengajak penyelenggara negara membentuk PT yang sifatnya swasta tertutup? Apa yang Anda semua rencanakan?
Apa sikap Anda, Presiden Jokowi? Apakah konflik kepentingan seperti itu bisa dimaklumi? Apakah tak ada tindakan apapun terhadap pembantu Anda yang terlibat?
Soal PCR M Rizal Fadillah bertanya bahwa  apalagi jika didukung oleh rasa aman penggunaan dana APBN akibat berlakunya UU No 2 tahun 2020 yang membebaskan gugatan atau tuntutan hukum. Penting pula untuk dibandingkan dengan biaya PCR India yang dapat hanya 500 Rupee atau 96 ribu rupiah.

Mengapa perlu pengusutan dugaan skandal PCR ini, yaitu :

Pertama, penurunan harga yang anjlok jauh dari 2 juta menjadi 300 ribu, berarti selama ini ada keuntungan besar yang “dimainkan” pengusaha fasilitas kesehatan yang tidak lepas dari peran pengambil kebijakan. Said Didu mensinyalir regulasi pemerintah dan beban rakyat itu justru menguntungkan swasta. Swasta tentu tidak bisa bermain sendiri tapi perlu “bantuan” regulator.

Kedua, Mahkamah Konstitusi dengan Putusan no 37/PUU-VIII/2020 tanggal 28 Oktober 2021 mengoreksi UU No 2 tahun 2020 membatalkan hak imunitas pemerintah atas tuntutan hukum dalam hal penggunaan dana APBN sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3). Pembiayaan jor-joran dengan menggunakan dana APBN untuk penanganan Covid 19 yang kemarin aman kini menjadi terancam.

Ketiga, di tengah beban berat yang menyengsarakan rakyat atas berbagai regulasi Pemerintah di masa pandemi, ternyata pengusaha fasilitas kesehatan bersama para pejabat terkait (juga yang tak terkait) justru meraup keuntungan besar dari proyek kesehatan penanganan Covid 19. Kondisi ini tidak bisa ditoleransi karena
mempraktekkan asas “mencari kesempatan dalam kesempitan” adalah suatu kekejian.

Aneh sebenarnya, mengapa Presiden yang justru mengumumkan penurunan harga, padahal penetapan tarif baru tersebut hanya berdasarkan Surat Edaran Dirjen Pelayanan Kesehatan No AK 02.02/1/3843/2021 tentang Batas Tarif Tertinggi Pemeriksaan RT-PCR yang mulai berlaku terhitung tanggal 27 Oktober 2021.

TERHADAP DUGAAN BAHWA TERJADI SKANDAL DALAM PROGRAM PEMERIKSAAN RT-PCR INI, MAKA SEMESTINYA PRESIDEN JOKOWI SEGERA MEMERINTAHKAN JAJARANNYA UNTUK MELAKUKAN PEMERIKSAAN ATAU PEMBENAHAN TATA KELOLA KEUANGAN YANG DINILAI PUBLIK MENCURIGAKAN TERSEBUT.

JIKA PRESIDEN DIAM SAJA, MAKA WAJAR JIKA PUBLIK DAPAT BERPANDANGAN JANGAN-JANGAN PRESIDEN JUGA MENIKMATI KEUNTUNGAN DARI PERMAINAN HARGA PEMERIKSAAN PCR TERSEBUT. AUDIT DAN PEMERIKSAAN MENYELURUH HARUS SEGERA DILAKUKAN. MENARIK DATA KPK BAHWA 70 PERSEN PEJABAT DI MASA PANDEMI TERNYATA MENINGKAT HARTA KEKAYAANNYA, TERMASUK PARA MENTERI APAKAH LUHUT, PRABOWO, JOHNI PLATE, ATAUPUN YAQUT CHOLIL QAUMAS.

Sedang  Rizal mengatakan bagaimana keadaan harta Presiden Jokowi ?

Pernyatsan Agustinus kami kutip yang menyampaikan pesan ke Presiden berikanlah jawaban, supaya masyarakat makin tahu kelompok mana yang sebenarnya Anda lindungi mati-matian sampai detik ini.

Nah dari kami hanya ingin sampaikan beranu jujur itu keren lalu ayo jujur saja dan nyatakan secara jantan ke publik agar kasus PCR Gate ini terkuak jelas. Bukan begitu?  Yuk ah #Ngopimalam dulu kebetulan baru dapat kopi Arabica Santos Brazil yang rasanya selain asyik memang nikmat…Hmmm

AM & TIM REDAKSI  JAKARTASATU.COM