BANGKRUTNYA PLN BUKAN KARENA HUTANG MAUPUN KARENA RUGI !

395

Oleh Ahmad Daryoko
Koordinator INVEST.

Kalau Garuda dng hutang Rp 90 triliun sudah “klimpungan”, ada kemungkinan di aquisisi Emirate, terpaksa menutup beberapa rute dst, terakhir ada informasi dengan putusan Pengadilan kemudian bisa menunda hutang dan sementara bisa terbang lagi.

Berbeda dng PLN ! Meskipun tersiar kabar berhutang Rp 649 triliun, tetapi disana sini masih berseliweran berita terkait PLN yang masih perkasa bisa meng akuisisi pembangkit “captive” milik pabrik2 besar. Terjadi Laporan Keuangan yg simpang siur. LK PLN 2020 mengatakan untung Rp 5,99 triliun (terkesan surplus) , sementara diberitakan Repelita Online 8 Nopember 2020 , Kemenkeu mengatakan PLN masih hrs di subsidi Rp 200,8 triliun (terkesan devisit besar). Mana yg benar dari dua institusi Negara tersebut ?

Membaca berita2 PLN khususnya serta berita Sektor Ketenagalistrikan pada umumnya, kita seperti melihat lukisan “mozaik” yg samar2 dan bisa disimpulkan dengan berbagai macam penafsiran. Terkesan “bombastis” dan seolah PLN baik baik saja ! Padahal sebenarnya PLN Jawa – Bali saat ini sdh dikuasai Aseng/Asing serta Taipan 9 Naga, dalam kondisi “Unbundling vertikal”, sudah terjadi mekanisme pasar bebas kelistrikan dng tarip listrik riil yang sebenarnya sudah diatas Rp 3.000,- per kWh. Tetapi semuanya masih bisa di tutup dengan ratusan triliun subsidi listrik dari hutang LN ! Dan semua seperti berjalan lancar lancar saja ! Bagaikan Negara kaya raya ! Ya syukur kalau demikian ! Tapi benarkah ada hutang gratisan ??

Dan indikasinya “sandiwara” diatas mulai terkuak, dimulai dng penerapan kenaikan tarip listrik tahun depan dng alasan “Adjustment” tariff.

KESIMPULAN :

Bangkrutnya PLN itu bukan krn hitung2an untung/rugi. Tetapi karena assetnya yg sudah di privatisasi/dijual oleh Oligarkhi “Peng Peng” seperti JK,Luhut BP, Dahlan Iskan dan Erick Tohir ke Aseng/Asing dan Taipan 9 Naga ! Dan kedepan akan berakibat kenaikan tarip listrik yang dahsyat (spt Philipina dan Kamerun) manakala terjadi pergantian Rezim. Dan tahun depan adalah “pemanasan” kenaikan tarip listrik, paralel dng penjualan jaringan transmisi dan distribusi lewat strategi SUB HOLDING PLN yg sedang dirintis Menteri BUMN !!

MAGELANG, 14 DESEMBER 2021