Pidato Revolusioner, Kelakuan Kontra Revolusioner

0
346
Yusuf Blegur, Pegiat Sosial dan Aktifis Yayasan Human Luhur Berdikari/ist

Oleh: Yusuf Blegur,
Penulis, Pegiat Sosial dan Aktifis Yayasan Human Luhur Berdijari.

Memang mahal harga sebuah integritas. Tidak semua orang bisa membeli atau memilikinya. Satunya kata dan perbuatan itu, tak dapat dirasakan dalam sebatas pidato dan hanya beraneka model pencitraan. Media massa dan pelbagai upaya pembentukan opini tak akan mengubah watak seseorang yang sebenarnya. Betapapun topeng digunakan, tetap tak dapat menyembunyikan wajah aslinya. Apalagi cuma mengandalkan kekuatan kapital dan akses politik yang memaksa seorang figur tampil dengan kepalsuan. Kebohongan bersama kejahatan semakin bercampur, mengandalkan rekayasa dan konspirasi, memanfaatkan kepolosan rakyat. jadilah ia boneka oligarki. Ngomongnya ke sana, kelakuannya ke sini.

Segudang janji mulai dari kampanye hingga menjabat presiden. Semua hanya berupa pepesan kosong. Mirisnya lagi, saat mengemban amanat sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Dengan situasi dan kondisi negara yang begitu amburadul. Pemimpin yang cenderung lebih sering cengengesan dan planga plongo itu, terkesan sibuk panjat sosial. Masih gemar pencitraan, terasa masih menjalani kampanye pilpres. Sementara sikapnya selalu diam atau pergi lari menghindar saat menghadapi masalah negara, persoalan di lingkungan pemerintahannya dan atau problem yang terkait dengan dirinya. Entah dalam keadaan tidak sadar atau memang sebatas itu kemampuannya, hanya publik yang bisa menilai.

Rakyat Indonesia belum mengalami amnesia, sehingga mampu merekam jejak rezim selama lebih dari 7 tahun ini. Menjanjikan ekonomi meroket. Membatasi utang negara. Menolak impor pangan dan kebutuhan industri lainnya. Mengadakan mobil nasional ESEMKA berseliweran di tanah air. Rakyat juga menyimak, dengan bangganya presiden mengatakan kangen di demo dan menyimpan uang di kantongnya sebesar 11ribu triliun. Masih banyak lagi bualan presiden yang sampai terbawa dalam mimpi rakyat. Namun kenyataannya tak pernah mewujud. Malah saat rakyat sekarat karena pandemi, rezim semakin bejat memanfaatkanya untuk bisnis menumpuk cuan dan mepanggengkan kekuasaan.

Rasanya, rakyat sudah terlalu kenyang menikmati makanan instan ideologi dan politik. Rakyat butuh makanan pokok dengan nutrisi yang tinggi untuk kemakmuran dan keadilan. Bukan jampi-jampi dan sihir massal kekuasaan. Rakyat memang rapuh dan lemah. Begitu mudahnya terombang-ambing dan dipermainkan rezim. Namun, cepat atau lambat akan ada perubahan. Karena tidak ada yang abadi, selain perubahan itu sendiri.

Seperti boneka dan sekumpulan mainan anak-anak dikeranjang besar yang tersimpan di gudang. Seperti itulah pejabat presiden dan konco-konco-konconya terlihat lucu dan menghibur. Pantas saja rakyat tak bisa berharap banyak. Hanya bisa menikmati hiburan sesaat. Setelah itu usang, rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Boleh disimpan dimasukan dalam kotak kardus atau bisa juga dibuang.

Rakyat semakin jumud dan mendesak untuk menentukan dan memilih pemimpinnya sendiri. Dengan penampilan apa adanya namun jujur dan lebih nyata. Cerdas dan berwibawa, namun lebih utama mampu mengemban amanat penderitaan rakyat. Pemimpin berani dan tegas yang dicintai rakyatnya. Bukan yang pidatonya revolusioner, namun kontra revolusiober tindakannya.***