Rizal Ramli Siaga Nyapres

0
53

OLEH Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Gak bisa diam! Itulah Rizal Ramli. RR, biasa Rizal Ramli dipanggil, selalu bicara paling depan jika ada ketidakberesan.

Mirip Refly Harun, sudah dikasih posisi komisaris, masih teriak lantang dan mengkritisi pemerintah. Bedanya, Refly suaranya lebih soft, meski akhir-akhir ini agak sedikit tinggi volumenya. Kalau RR, dari orok memang lantang.

Bicara RR, memang gak ada takutnya. Siapapun yang gak beres, dia kepret. Jurus “kepret” jadi ciri khasnya. Publik mengenal RR sebagai tukang kepret.

Cerdas, berani, lantang dan punya pengalaman. Itulah Rizal Ramli, mantan menteri Gus Dur dan Jokowi.

Rizal juga dibully, tapi gak terlalu masif. Kenapa? Pertama, suaranya lebih lantang dari yang ngebully. Gak peduli dia, main hajar aja. RR bisa lebih galak. Kedua, kurang begitu diperhitungkan dari sisi politik, mungkin karena bukan militer, bukan orang partai dan belum jadi ancaman politik. Artinya, potensi nyalon presiden RR oleh banyak pihak belum dianggap serius.

Nah, potensi ini yang sekarang sedang dipupuk oleh RR dengan mendeklarasikan diri jadi capres 2024. Sembari memperjuangkan Presidential Threshold (PT) 0 persen, deklarasi ini juga akan menjadi upaya untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas. RR ingin kasih tahu rakyat, bahwa dia akan nyapres. Ini bentuk keseriusan yang vulgar dari RR yang diajukan sebagai proposal kepada rakyat.

Hai rakyat, aku nyapres. Ini serius! Begitu kira-kira kumandang adzan Rizal Ramli.

Soal integritas, RR gak diragukan. Soal kemampuan, prestasinya terbukti ketika menjadi kabulog dan menteri. Soal pengalaman, sebagai aktifis dan pejabat, sudah dilakoninya. Jaringan? RR alumni dan aktifis ITB, juga jebolan universitas luar negeri. Bahasa inggrisnya, gak perlu diragukan.

Satu hal jadi PR bagi Rizal Ramli, yaitu elektabilitas. Perlu Rizal Ramli ketahui bahwa pemilih di Indonesia itu berbasis emosi. Like and dsilike. Lebih dominan menggunakan perasaan. Siapa yang bisa menyentuh perasaan publik, dia berpeluang untuk dipilih.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) misalnya, masyarakat gak banyak yang paham integritas dan prestasinya. Tapi ganteng, murah senyum, bersahaja dalam komunikasi, dan diam ketika dibilang “jenderal kayak anak TK”, rakyat pun bersimpati dan memilihnya. Jadilah SBY presiden dua periode.

Pak Jokowi, mantan walikota Solo yang gak genap satu periode menjadi Gubernur DKI, terpilih jadi presiden karena simpati rakyat terhadapnya. Mengalah dan tetao rendah hati ketika berseteru dengan Bibit Waluyo, gubernur Jateng saat itu, cium tangan sebagai unggah ungguh anak muda kepada yang lebih tua, blusukan ke warga dan sejenisnya, itu yang membuat rakyat simpati. Soal prestasi, hanya kalangan menengah atas yang paham. Pemilih mayoritas berasal dari kalangan menengah bawah.

Menjadi capres seringkali bukan soal integritas dan prestasi, tapi lebih pada kemampuan menyentuh hati rakyat. Performence, bahkan cara bicara dan gesture tubuh seringkali lebih berpotensi mendulang suara dari pada integritas, prestasi, ketegasan dan keberanian.

Senyum anda, meskipun dibuat-buat dan penuh rekayasa bisa mengelabui hati rakyat untuk melupakan prestasi lawan. Begitulah faktanya ketika masuk masa pemilu.

Ini tantangan buat RR. Baik ketika PT 0 persen, maupun upaya untuk mendapat dukungan partai politik jika PT gagal untuk di-nol-kan. Bagaimana RR bisa meyakinkan rakyat bahwa ia adalah calon presiden yang sesuai dengan aspirasi rakyat. Satu syarat yang harus dipenuhi: PT 0 persen, atau ada parpol yang mau mengusungnya.***