KEMANDIRIAN !

0
196
Ahmad Daryoko/IST

Oleh : Ahmad Daryoko
Koordinator INVEST.

Bangsa yang maju, dimanapun, dimulai dari semangat mandiri, tidak mau bergantung dengan bangsa lain, memiliki semangat kompetisi (tetapi bukan kompetisi “palsu” ala “Peng Peng” sebagai modus “menjarah” BUMN).

Contoh Jepang.

Konon filosofi “Bhusido” (semangat Samurai, kesatria, harga diri, yang berujung pada karakter mandiri) dimulai dari pengalaman seorang Kaisar yang sedang keliling kawasan dan berpapasan dengan wanita tua yang sedang menyeret gerobak penuh muatan kayu bakar, kemudian Sang Kaisar berkata kepada para pengawalnya sambil menunjuk ke wanita tua itu sambil berkata “Bhusido….Bhusido” yang maksudnya adalah ,”lihatlah wanita tua ini yang tanpa menyerah dan tidak mau tergantung orang lain bertahan hidup dari mencari kayu !”

Di cerita yang lain, ketika Jepang di bom atom oleh AS di Hiroshima dan Nagasaki pada PD II, sehingga Jepang hancur secara fisik dan ekonomi, namun tidak serta merta Sang Kaisar menyerah. Setelah kejadian itu Kaisar bertanya kepada aparatnya “masihkah ada guru yang hidup ?” (pasca bom atom itu). Dan setelah itu kebijakan Kaisar adalah mengumpulkan para guru dan ahli teknik untuk mendidik SDM nya agar Jepang bangkit kembali.

Berbeda dengan Indonesia, yang untuk kemajuan bangsanya , yang dicari para Pemimpin adalah Investor ! Dan kondisi seperti ini justru dimanfaatkan “Peng Peng ” guna menjadi “makelar” Investor tersebut !

Jepang memang memberdayakan Investor dan hutang untuk membangun negerinya. Tetapi Investor dan hutang yang “bejibun” berasal dari potensi dalam Negeri hasil semangat “Bhusido” gemblengan Kaisar ! Lihat saja seperti adanya ADB (Asian Development Bank) didominasi oleh modal Jepang. Presiden ADB seperti Adao Chino dan Kuroda dll itu berasal dari Jepang. Apalagi JBIC (Japan Bank for International Cooperation) pasti dari Jepang. Investor pun menjamur seperti Sumitomo, Marubeni, Mitsubishi, Hitachi, Kanshai, Kumagai dll semuanya berasal dari Jepang dengan “gemblengan” Nasionalisme Bhusido yang militan didikan dari Pemimpin Jepang yang berposisi sebagai Kaisar.

Intinya kebangkitan sebuah bangsa dari contoh diatas adalah adanya VISI sang Pemimpin !

Di era Bung Karno sebenarnya sudah ada juga semangat kemandirian seperti itu. Namun dampak kemiskinan yang terjadi bukan didorong untuk lebih prihatin dan bangkit mandiri, tetapi justru dimanfaatkan oleh PKI guna mengembangkan Ideologi “pertentangan kelas” seperti adanya istilah “setan desa dan setan kota”, kemudian “Kabir” atau Kapitalis Birokrat dan lain lain, guna menarik simpati rakyat. Dan BK terlihat terperangkap oleh jurus PKI ini ! Sehingga tujuan Berdikari tidak tercapai karena “politisasi” PKI untuk tujuan kekuasaan !

Selebihnya, tidak ada lagi semangat kemandirian . Yang ada semangat “broker” dan menyembah nyembah Investor seperti era Rezim ini , dan politik hutang Luar Negeri yang memegang rekor sejarah !

Dan suburlah komunitas Oligarkhi “Peng Peng” seperti Luhut BP, Erick Tohir, JK, Dahlan Iskan dll, yang memanfaatkan krisis listrik bukan untuk “trigger” kemajuan dan KEMANDIRIAN ENERGI, tetapi justru dimanfaatkan untuk menjadi “brocker” Aseng dan Asing ! Dan sebentar lagi tarip listrik tidak bisa dikendalikan (spt pengalaman negara lain yang mengalami hal yang sama ) ! Lihat saja !!

JAKARTA, 16 DESEMBER 2022.