CHINA ITU PENGANUT “STATE CAPITALISM”

0
190
Ahmad Daryoko/IST

Oleh : Ahmad Daryoko
Koordinator INVEST.

Dari diskusi dengan para petinggi Kontraktor China saat pelaksanaan Fast Track Program I PLN Proyek 10.000 MW yang semuanya dari China pada 2007, dapat disimpulkan bahwa China itu dalam penggalangan massa rakyat dengan cara Komunis, tetapi ekonomi negara diterapkan secara “State Capitalism” atau cara Kapitalis yang dipimpin oleh Negara (seperti Jepang dibidang Kelistrikan).

Di China operasional kelistrikan dilaksanakan oleh dua Perusahaan yaitu “State Grade Corporation of China” dan “China Southern Power Grid Company” yang dipisahkan oleh Sungai Yang Tse Kiang yang membelah daratan China. Sedang pembangkit dan distribusinya di operasikan oleh CNEEC, Shinomach dan lain lain. Semuanya BUMN China.
Sedang di Jepang (misal di P. Honshu) semua oleh swasta namun dari Perusahaan Jepang, yang sebelah Selatan oleh Kanshai Corporation, dan yang Utara oleh TEPCO (Tokyo Electric Power Company), yang semuanya memiliki Ideologi Nasionalis Bhusido. Yang perhitungan operasional kelistrikannya ber orientasi “Benifit”, bukan “Profit”.

Sedang di Malaysia System kelistrikannya menganut “Single Buyer” System sebagaimana PLN era UU No 15/1985 ttg Ketenagalistrikan , dimana PLN saat itu sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) dengan mengerahkan pembangkit swasta IPP tetapi ritailnya masih oleh Negara(PLN). Sehingga secara System kelistrikan secara keseluruhan Pemerintah masih bisa mengendalikan nya.

Sedang yang terjadi di Indonesia saat ini maunya berkiblat ke China dan Jepang (yang menganut State Capitalism). Tetapi tertular penyakit pragmatisme Philipina yaitu bukan “State Capitalism” tetapi “Peng Peng Capitalism” ! Kalau di Philipina sebagai “Peng Peng” adalah Presiden Arroyo dkk ! Sedang di Indonesia Oligarkhi “Peng Peng” adalah Luhut BP,JK, Dahlan Iskan, Erick Tohir dkk !

KESIMPULAN :

Erick Tohir ini sok mau meniru Negara lain. Sementara “interest” pribadinya sangat kuat !

Orang Solo akan bilang, “Joko Sembung naik Ojeg…gak nyambung Jeg !”

Kata Gus Dur :”Gitu saja kok repot ! He..he” !

JAKARTA, 22 JANUARI 2022.