Yang Tak Bisa Menghargai Adat Bangsa Sendiri,Tak Layak Jadi Elite Negeri

669

JAKARTASATU.COM — “Siapapun yang tak bisa mengindahkan nilai-nilai luhur adat dan budaya bangsa sendiri tak pantas mendapat posisi di jajaran elite negeri. Sebaliknya, mereka harus mendapat sangsi sosial politik yang setimpal untuk pembelajaran bagi masyarakat luas,” kata Budayawan Uten Sutendy kepada wartawan menanggapi fenomena viralnya ekpresi kemarahan masyatakat Sunda dan Kalimantan di berbagai media terkait dengan sikap arogansi anggota dewan Arteria dan Edy Mulyadi, kemarin di Jakarta.

“Itu artinya, dua politisi tersebut tidak mengerti makna dari kata Sunda dan Kalimantan yang diucapkan. Di dalam kata Sunda mengandung nilai -nilai peradaban luhur yang sangat tua. Demikian juga dalam kata Kalimantan di dalamnya terdapat nilai nilai luhur adat lokal yang selama ini berjasa menjaga keseimbangan ekosistim alam,”jelasnya.

Arteria dan Edy Mulyadi juga dinilai Uten tidak faham makna nasionalisme Indonesia yang didalamnya mengandung nilai -nilai luhur bahasa, adat dan kearifan lokal dari berbagai suku bangsa Nusantara.

“Oleh karena itu, siapapun yang mengaku warga Indonesia, apalagi mengaku kaum elite negeri, harus bisa saling menghargai dan menghormati bahasa dan adat istiadat masing-masing suku bangsa,” tegas Uten, yag menulis beberap buku dan novel tentang kearifan lokal Nusantara.

Namun demikian, Uten mengajak masyarakat Indonesia untuk menyikapi fenomena munculnya kemarahan para tokoh dan masyarakat adat di tanah air dengan sudut pandang yang positif. Terlepas siapa dan apa yang memicunya, kemarahan tersebut menunjukkan kemunculan kesadaran eksistensial dari kaum adat saat ini makin kuat dan mengental,. “Dan itu hal yang sangat bagus, “kata penulis novel “Baiat Cinta di Tanah Baduy” ini.

Selama ini, kata Uten, eksistensi kaum adat dan kearifan Nusantara kurang mendapat perhatilan, bahkan sebagian besar elit negeri cenderung mengabaikan, seolah nilai-nilai adat dan kearifan lokal bangsa ini tidak ada, atau dianggap sudah mati. Sebaliknya, mereka makin mendominasi konten narasi di berbagai momentum dan media sosial dengan membawa doktrin dan jargon agama, politik, serta ekonomi dengan bingkai kebudayaan dari luar, seolah kebudayaan dari luar itu lebih baik dan lebih modern serta paling hebat sehingga tak mau mengindahkan keluhuran nilai-nilai kebudayaan bangsa sendiri.

“Mereka mengagungkan budaya luar lewat jargon agama dan modernisasi tanpa sikap kritis. Apakah yang mereka bawa itu murni nilai nilai budaya yang baik entah dari Barat, Cina maupun Arab, atau malah sebaliknya, yakni hanya rongsokan budaya Barat, Cina atau Arab,” tegasnya.

Padahal kearifan lokal dan adat istiadat Nusantara merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai yang tak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Nilai nilai kearifan lokal itu selama ini menurut Uten terbukti menjadi kekuatan penjaga atau benteng pertahanan negeri dari serangan pengaruh kebudayaan asing.

“Coba kita bayangkan, kalau tak ada hukum dan nilai-nilai adat yang terus dipelihara para tokoh adat, entah kerusakan alam dan manusia seperti apalagi yang akan terjadi di bumi Nusantara ini,” kata Uten.

Keberadaan kaum adat Sunda, Kalimantan, dan suku-suku lainnya di negeri ini hadir untuk memelihara keutuhan sumber daya alam dan menjaga ekosisten alam agar harmoni kehidupan manusia dan lingkungannya tetap terpelihara dengan baik.

Sikap arogansi politisi Arteria yang dianggap menghina orang Sunda dan prilaku politisi Edy Mulyadi yang juga dianggap menghina orang Kalimantan, hanya gambaran kecil dari sekian banyak sikap para elit negeri yang kurang menghargai adab dan adat serta kearifan bangsa sendiri.

Karena itu sangat wajar dan perlu jika kelompik masyarakat Sunda marah dan warga Kalkmantam juga marah. Kemarahan masyatakat adat itu bukan hanya bermakna mengkoreksi atau memprotes sikap simbong para elite politisi tersebut, melainkan juga sebagai ekpresi kekeselan dan kekecewaan rakyat bagaimana mungkin para elite politisi tersebut bisa mempertontonkan sikap bodoh di ruang publik.

“Dengan kejadian ini, mari kita ambil hikmahnya, bahwa bangsa ini sudah saatnya balik ke hulu, ke akar. Di hululah kejernihan dan kemurnian nilai-nilai kehidupan masih terpelihara, dan dengan akarlah kita sebagai bangsa akan tumbuh besar dan kuat. Akar dan hulu itu adalah nilai- nilai adat dan budaya bangsa kita sendiri,” ajak Uten menutup pembicaraannya. (AHM/JAKSAT)