Buku Biografi Dipo Alam “Dalam Pusaran Adab, Dipimpin dan Memimpin” Legacy yang Jujur

356

JAKARTASATU.COM —  Tokoh nasional Dipo Alam dalam usia ke 72 meluncurkan buku biografinya “Dalam Pusaran Adab Dipimpin dan Memimpin: Biografi Seorang Aktivis” pada Senin, 31 Januari 2022.

Mantan Sekretaris Kabinet era SBY ini dalam buku setebal 978 halaman yang diterbitkan  Penerbit Gramedia digelar  di Ballroom Menara Bank Mega, Jl. Kapten Tendean, Jakarta Selatan.

Selain diluncurkan juga digelar diskusi yang dihadiri oleh mantan aktivis mahasiswa tahun 1970-an, seperti Hariman Siregar, Rizal Ramli, Lukman Hakim, Seto Mulyadi (Kak Seto), atau Maruli Gultom, acara peluncuran buku juga menghadirkan Pembicara  Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI ke 6, Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina, Lukman Hakim, Mantan Ketua LIPI, Mantan Ketua DEMA UI Rocky Gerung, Pengamat Sosial Politik.

Menurut Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengenal Dipo Alam ketika upaya menyelesaikan konflik Aceh yang telah berlansung 30 tahun secara damai. Dipo Alam berhasil menjadi salah satu tokoh yang ikut terlibat dalam panjangnya proses perdamaian di Aceh. Ketika opsi operasi militer ditetapkan, meski terjadi prokontra namun opsi operasi militer hanyalah salah satu cara dan bukan tujuan. Tujuannya konflik selesai, Aceh tetap menjadi baigan NKRI, merah putih tetap berkibar tetapi Aceh punya banyak peluang untuk tetap bisa membangun daerah dengan lebih baik.

“Dipo Alam meski sempat mejadi Sekjen G8 kerjasama ekonomi internasional dan sekretaris kabinet namun jiwa sebagai aktivisnya tidak pernah hilang. Dia bisa benar-benar resah jika ada hal-hal yang dianggap tidak benar dan mengajak bicara empat mata menyampaikan langsung pemikirannya agar SBY tidak keliru dalam menetapkan kebijakan,” jelas SBY.

Dipo Alam aktivis yang berjuang bagi kepentingan bangsanya, juga sebagai bagian civil society yang ingin memastikan bahwa kekuasaan dijalan secara benar dan tidak terjadi abuse of power. Bagi Dipo Alam, Kekuasaan harus didapatkan sesuai konstitusi, dengan cara yang benar, legal dan luhur. Sehingga memiliki legacy untuk mendapatkan kepercayaan rakyat.

“Aktivis dan civil society harus bisa meyakinkan bahwa fungsi check and balances sebagai kontrol kekuasaan benar-benar berjalan dengan efektif,” ungkap SBY.

Rocky Gerung memandang bahwa menulis biografi bagi aktivis amat penting karena bisa dijadikan bacaan berguna bagi para generai penerus, agar mengerti dan memahami naluri berjuang Hariman Siregar, Rizal Ramli, Dipo Alam, Lukman Hakim, Bambang Sulistomo dan seterusnya. Hal itu berguna untuk mengintip peluang-peluang dalam merintis perubahan.
“Berbahayanya aktivis-aktivis yang tidak bisa mendisiplinkan pengetahuan adalah dia akan mudah diangkut-angkut untuk kepentingan kekuasaan belaka. Berbeda dengan aktivis sejati yang selalu memperjuangkan keadilan dan ditandai dengan pemikiran-pemikiran tajam dan cerdas,” ungkapnya.

Dipo Alam membuat biografi dengan rangkaian data yang disampaikan. “Apabila rezim hari ini bisa membuat biofrafi yg jujur, dia akan menghadapi pertanyaa. Buku biografi Dipo Alam disusun menyertakan data,” tegas Rocky.

Didik J Rachbini melihat biografi ini bagus diberi predikat, “Dipo Alam dalam 1000 Halaman Buku”. Mengenal Dipo Alam pada seminar Angkatan Darat ke 2 sepulang Dipo alam dari studi di luarnegeri. Dipo Alam adalah satu sekian banyak aktivis, orang-orang hebat dari kampus yang tidak mungkin punya niat memecah belah bangsa,” ungkapnya.

Dengan biografinya, Dipo Alam semakin menguatkan bahwa semua pemimpin bangsa harus bisa menuis. Bung Karno, Sjahrir, Hatta dan lain-lain semuanya menuis buku. Biografinya juga menjadi rekaman sejarah bagus yang mencatat bagaimana ICMI lahir, pergesekan yang terjadi di tingkat elit terkait alusista, dan banyak hal lain.
“Biografi Dipo Alam layak diberikan penghargaan tinggi, karena amat baik untuk dijadikan referensi bagi mereka yang hendak mendapatkan gelar Doktor,” jelasnya.

Pandangan Lukman Hakim menyatakan bahwa Dipo Alam mengajarkan bahwa membuat buku yang tulus, jujur dan apa adanya amat sangat penting. Apalagi usia buku akan jauh lebih panjang dari umur manusia dan menjadi catatan penting bagi yang membaca. Jika buku dibuat dengan banyak “polesan” atau bahkan pemutarbalikan fakta maka anak cucu bangsa kelak akan mendapatkan kesulitan dari kepalsuan yang tertulis.

“Dipo Alam aktivis yang konsisten, berani mengambil risiko. Masa Dipo Alam menjadi ketua Dewan Mahasiswa UI dia berhadapan frontal dengan Menteri Pendidikan Sjarif Thayeb dan pernah diusir keluar dari ruang pertemuan karena menentang SK 028. Sementara Lukman Hakim berhadapan dengan Menteri Daoed Joesoef. Namun setelah mengusir Dipo Alam, Menteri Sjarif Thayeb kemudian meminta pertemuan dengan Dipo Alam dkk melalui rektor UI, hingga terjadi dialog di masjid Arif Rahman Hakim UI Salemba,”kenangnya. (ahm)