Memanusiakan Manusia Menyusuri Jalan Ketuhanan

0
173
Yusuf Blegur /ist

Oleh: Yusuf Blegur

Tidak ada refleksi sekaligus evaluasi paling penting dan utama dari seluruh rakyat Indonesia, kecuali menyangkut spiritualitas kebangsaan. Terlebih saat uang, jabatan dan kekuasaan telah menjadi “agama baru”. Betapa usaha yang keras dan sungguh-sungguh diperlukan untuk menyelamatkan negara bangsa ini, terutama ketika para pejabat dan pemimpin ingin menggantikan peran Tuhan, sebagai pemilik kebesaran dan kekuasaan yang abadi.

Kemuliaan Islam terpatri saat dinul haq yang bersumber dari wahyu Ilahi itu mengangkat tema habluminallah dan habluminannas. Tidak sekedar hubungannya pada Sang Pencipta dan sesamanya, Islam bahkan juga memberikan tuntunan kepada umat manusia tentang bagaimana berhubungan dengan semesta alam. Begitu paripurnanya Islam sebagai sebuah agama, seperti yang Allah azza wa jalla tuangkan dalam Al Quran di sebagian surat Al Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah aku ridhoi Islam sebagai agamamu”.

Pilihan-pilihan hidup masyarakat yang meninggalkan keyakinan-keyakinan dan ajaran agamanya demi kepentingan sesat duniawi, bukan saja menyebabkan terjadinya kemerosotan ilmu dan akhlak. Lebih dari itu, perilaku liberal dan sekuler terhadap nilai-nilai agama telah merusak dan menghancurkan konstruksi bangunan dan relasi kemanusiaan, Ketuhanan dan semesta alam. Apa yang menjadi dasar dari semua kehidupan manusia itu, perlahan namun pasti menggerus iman dan aqidahnya hingga nyaris lenyap, khususnya yang terjadi pada umat Islam.

Koreksi total dan menyeluruh menjadi begitu mendesak bagi umat Islam. Terutama ketika sistem politik yang memisah relasi agama dari negara, gagal membawa kemakmuran dan keadilan bagi rakyat. Fenomena-fenomena distorsi penyelenggaraan negara yang terlanjur terstruktur, sistemik dan masif itu. Telah menyebabkan terpuruknya keadaan rakyat dalam negara gagal baik secara lahiriah batiniah maupun mental spiritual. Keadaan Indonesia yang terpolarisasi dari keadaan dunia yang tak kunjung menemukan titik ideal, bahkan karut marut jika tak bisa disebut kekacauan. Pada akhirnya mendorong pikiran dan jiwa setiap manusia untuk mengakui dan menerima Islam, sebagai solusi dari pelbagai problematika kehidupan.

Islamophobia dan Deislamisasi

Sistem pemerintahan kapitalistik yang melahirkan para pejabat korup, tiran dan menindas rakyat. Semakin menyuburkan gerakan Islamophobia dan Deislamisasi. Regulasi kebijakan ekonomi, politik dan hukum dibuat sedemikian rupa untuk mengokohkan konsep dan praktek-praktek materialisme. Seiring itu skenario dan “grand design” anti Islam dan penghancuran umatnya terus berjalan.

Mirisnya, situasi dan kondisi itu diperburuk dengan perilaku sebagian umat Islam sendiri. Selain meninggalkan Al Quran dan sunah, banyak umat Islam yang berduyun-duyun mengejar dunia yang notabene dominan menganut sistem nilai yang justru bertentangan dengan nilai Islam itu sendiri. Alih-alih menegakkan amar maruf nahi munkar sebagai salah satu pilar esensi Islam, umat justru bangga dan pongah berdiri di barisan lawan yang begitu memusuhi dan membenci Islam.

Rezim yang dzolim, pengianatan terhadap perjuangan Islam, perilaku hedon dan banyaknya penjilat dan penghamba kekuasaan. Terus menyuburkan stigma negatif dan stereotif Islam. Umat Islam benar-benar dihadapkan pada memilih kehidupan yang bergelimpangan kenikmatan dan kemewahan dunia dengan kebebasan tanpa batas, atau ikhtiar dan tawaqal serta istiqomah di jalan Islam yang diridhoi Allah Subhanallahu wa ta’ala.

Islam yang mengusung Al quran sebagai pedoman dan tuntunan hidup umat manusia, seharusnya dapat menjadi cermin cara dan gaya hidup umat Islam. Kandungan kalam Ilahi yang menjadi petunjuk dan pembeda bagi umat islam dalam mengarungi kehidupan dunia dan akherat itu. Sepatutnya dapat menjadi visi dan persfektif umat Islam, untuk mengambil garis batas lurus dan tegas terhadap apa yang menjadi kemaslahatan dan kemudharatan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

Kesempurnaan dan kemuliaan Islam telah melampau batas-batas kehidupan umat manusia yang terintegrasi dan komprehensif. Islam dengan gamblang dan lugas , telah memaparkan bagaimana keberadaban relasi manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan sesama manusia. Bahkan Islam juga mengindahkan dan menaruh perhatian penuh bagaimana terciptanya keselarasan manusia dengan semesta alam yang sesungguhnya menjadi washilah yang memenuhi kehidupan manusia dan seluruh mahluk.

Dengan kata lain, umat Islam menjadi tidak kafah ketika sebagai manusia memisahkan kehidupannya dengan kehadirat Ilahi, eksistensi sesamanya dan keberlangsungan lingkungan alam. Multi relasi yang sarat sosial dan spirtual yang demikian menjadikan terlebih umat Islam dapat hidup dalam keteraturan, kebenaran dan keselamatan baik dunia dan akherat. Perjalanan kesadaran rasional menuju kesadaran trasedental yang berangkat dari kemanusiaan menuju Ketuhanan.

Akankan umat Islam memandang Islam sebagai agama dari rahmat Allah yang mencukupi seluruh kehidupannya?. Dapatkah sisi-sisi kemanusiaan yang menghasilkan kebaikan itu menuntunnya menghadap Tuhannya, Kelak dengan kebahagiaan?. Betapa sejatinya Islam menjadi agama Ketuhananan Yang Maha Esa sekaligus menjadi agama kemanusiaan. Menarik bagi umat Islam, untuk menempuh jejak spiritualitas kemanusiaan dan Ketuhanan yang terkandung dalam agamanya. Menjadi perjalanan spiritual keumatan dan kebangsaan.

Sebuah upaya memanusiakan manusia demi menyusuri jalan Ketuhanan.