Mencari Pemimpin Indonesia Yang Bisa Membalikkan Situasi, Belajar Dari (Deng & Putin)

0
171
Muhammad Nur LaponG Direktur ForJIS/ist

OLEH Muhammad Nur LaponG Direktur ForJIS

(I)

Carut marutnya Indonesia hari ini tidak lepas dari kerja, kerja, kerja, para Reformis Tidak Jelas Arah (konsep) pada tahun 98 dan sebelumNya. Ya Kita sukur saja Suharto lengser terlepas dari rekor keberhasilan yg dimiliki, pun noda hitam yg di tinggalkannya, karena sesungguhnya kita tak nyaman dengan otoritarianisme Suharto yg sebenarnya berakar dari Feodalisme yg bertengger sejak lama di republik yg kita cintai ini,,

Cerita2 orang tua tua di Syarekat Islam menyegarkan kita, bahwa akar persoalan bangsa ini beratus tahun betah saja di jajah (mungkin juga merasa tidak di jajah) khususnya di Jawa yg ditindas dengan sitem (Tanam Paksa), karena begitu kuatnya kultur feodal yg melekat pada masyarakat pedesaan yg berbudi halus dan cenderung melemahkan diri pada tuan tuan ndoronya, sabar bahkan ihlas terima nasib apa adanya. Kultur ini pun di makin alot karena dibalut yg begitu kuat kepada kepercayaa-misticsm, pengsakralan yg berbau mistis,,

HOS Cokroaminoto sebagai guru para pendiri bangsa Tokoh Utama SI kemudian menyadarari itu, Tjokro mendirikan gerakan Djawa Dwipa yang bersemboyan “Sama rasa sama rata, satu menderita semua turut merasa, satu senang semua bahagia”. Gerakan ini mempunya lencana berwujud lingkaran segitiga di tengahnya pohon beringin yang diapit oleh padi. Anggotanya rakyat jelata, Untuk memberantas kurang harga diri juga ditanamkan oleh kolonialisme (koloborasi raja2 dan penguasa Belanda) lewat feodalisme, para anggotanya saling menegur dalam bahasa Ngoko, bukan kromo. Tjokro sendiri sudah lama membuang gelar Raden Mas-nya. Gerakan Tjokro radikal, revolusioner, dan terarah pada masyarakat. Cita-citanya kemerdekaan nasional dari penjajah Belanda.

Sejak itu mulailah bermunculan kader kader bangsa yg radikal radikul dan intoleran terhadap penjajah koloniaL mampu merubah tatanan phisikologis sosiologis jiwa rakyat untuk melawan tatanan sosial kolonialisme (koloborasi raja2 dan penjajah Belanda). Kader kadernya yg sangat terkenal karena propoganda dan massa aksinya adalah seperti Sukarno, Semaun, Karto Suwiryo, Muso, Alimin, Darsono, Tan Malaka, Buya Hamka (pendiri MUI) dll. Walaupun pada akhirnya kader2 ini bersimpan jalan pada tiga bentuk konten idiologis, Kiri, Tengah, dan Kanan. Namun pada akhirnya Jalan (Tengah) lah yang dipilih bangsa ini sebagai jalan utama tokoh2 seperti KH. Ahmad Dahlan, Agus Salim, Sukarno, Tjiptomangun Kusumo (Tokoh2 inilah yg kemudian terlibat dalam Tercetusnya SelfbesTuur-Pemerintahan Sendiri dalam Congres Central SI pertama di Bandung 19016), Lahirnya UUD 45 dan Pancasila sebagai Falsafah Bangsa seperti yg sekarang kita pedomani, tentunya tidak termasuk UUD 2002 (yang dikatakan Palsu sebagian Pengamat dan Pakar), tidak terlepas dari peran tokoh tokoh bangsa ini sebelumnya sampai setelah Indonesia Merdeka JumaT 17 Agustus 1945.

Namun Reformasi dan Euforianya 1998 telah merobah segalanya oleh apa yg telah di hasilkan oleh para pendiri bangsa di atas, yakni UUD 1945 Proklamasi. Amin Rais dkk nya di MPR dan di amini oleh tokoh tokoh seperti Gus Dus, Adnan BuyunG Nasution, Megawati dan banyak tokoh lainnya lagi yg kemudian ikut dalam dialektika perubahan tersebut.

Jatidiri bangsa yakni UUD 1945 Proklamasi pada Reformasi 1998 telah berobah Total, Demokrasi, HAM yg berjiwa liberal dan sekularism yg baunya tidak bisa lepas mengarah kepada wujud kepentingan mesin kapitalism yang konsepnya jelas di boncengi kepentingan asing. Dan semakin menjadi nyata hari ini apa yang kita lihat tanah tanah kita, ladang ladang kita, tambang tambang kita, nyaris kurang lebih 80% sudah beralih dikuasai oleh para kaum pemodal. Bahkan kekayaan 4 orang Taipan menyamai jumlah total kekayaan 100 juta wong celek. Pemerataan- Gini ratio ketimpangan hidup ditingkat perkotaan bangsa ini sudah tergolong tinggi yakni 0,401%

Bangsa ini relatif tertinggal di bidang ekonomi dibanding negara tetangganya, bahkan jauh tertinggal dari Cina yang ber-reformasi 1978, yg ketika itu Indonesia sudah lebih tinggi GDP nya dari Cina. Terbalik akal sehat kita jika membandingkan potensi sumberdaya alam yG dimuliki bangsa ini yang sangat melimpah dan luar biasa.

Apa yang kita lihat dengan Indonesia hari ini adalah bentuk kegagalan Reformasi yang diarak oleh tokoh tokoh reformisnya yg tanpa konsep yg jelas baik di bidang ekonomi maupun arah kebijakan politik-demokrasi dan HAM nya. Di era demokrasi brengek ini, korupsi kolusi dan nepotisme makin marak dan sulit dibendung lagi, pada hal salah satu tujuan Reformasi justru adalah memberantas KKN. Dan anehnya justru di era demokrasi ini Feodalisme tumbuh justru dikalangan prilaku partai seiring pola rekruitment pilkada, pemilu coprass-capres, dinasty dan oligarki pun makin kuat mencengkram dalam perjalanan pemerintahan negara yg semakin menindas rakyat.

Restorasi ekonomi, hukum, politik sosial budaya dan keamanan makin tidak karu2an, dapat dikatakan dengan pasti bahwa ini semua terjadi setelah UUD 45 sebagai narasi jati diri bangsa yG konstitusional menjadi UUD 45 ala 2002. Tatanan bernegara dan bermasyarakat pun menjadi transaksional nyaris semua demi kepentingan kelompok, dinasti dan kaum pemodal.

Apa yang dikatakan Bung Karno bahwa reformisme hanya akan jadi ajang tukar menukar kepentingan, dan inilah yg terjadi dalam era remormasi kita.

(II)

Sekarang kita mulai membandingkannya dengan serangkaian Reformasi di China ala Deng XioPinG (1978-1989), kita lihat sejak itu ekonomi China tumbuh rata rata tumbuh 10% per tahun. Perekonomian China yang tadinya tertutup di era Mao dengan sistem Komunisme ortodoknya oleh Deng dibuat dengan Pintu Terbuka masuk ke Ekonomi pasar dan membuka kebijakan swastanisasi, ekonomi individu di dorong untuk ditumbuhkan dengan mengambil sistem atau bertumpu kepada sosialisme China. Demokrasi haram dan Mahasiswa di Tiannanmen pun lewat di brondong peluru dan diinjak mobil tank. Mereka belajar dari kegagalan USSR dan negara eropah Timur yg negaranya bubar oleh provokasi demokrasi barat yang di mulai oleh Gorbachov dengan Glanotnya.

Deng berhasil meletakkan Jangkar-pondasi Reformasinya dengan meletakkan jati diri Sosialisme China dengan menolak Demokrasi dan HAM dalam penyertaan reformasi ekonomi negaranya. Mereka lebih memilih mensejahterakan rakyatnya atau memilih keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya ketimbang Demokrasi dan HAM, dan tanpa ampun semua koruptor pun di Hukum Mati.

Setelah Deng dilanjutkan 3 pemimpin kemudian hingga Xing Jiping tetap konsisten melanjutkan reformasi ala sosialisme China nya yang terbuka bin Haram Demokrasi!

Reformasi China tidak menjadikan perubahan yang diinginkan menjadi ajang tukar menukar kepentingan kelompok yang ada dalam negara tetapi menjadikannya sebagai ajang untuk kepentingan rakyatnya secara keseluruhan sebagai manifestasi sosialisme negara/China yang dipilih oleh pemimpin Deng saat itu.

Kebalikan dengan sosok DengXioPing yang meletakkan dasar pondasi bernegara melalui Reformasi yang dicanangkannya untuk menjadi Negara nomor wahid, Vladimir Putin justru membangun kembali negara yg sudah nomor wahid kemudian rusak porak porak poranda akibat 3 pendahulunya yg ngawur akibat Glasnot Gorbachov.

Terlepas pro kontra khalayak dunia terhadap Putin, tapi apa yang digambarkan mayoritas masyarakat Rusia seperti pandangan yang menjadi pandangan Deputi Kepala Staf Kremlin, yakni “Tanpa Putin tidak ada Rusia”, yang telah menempatKan Putin pada empat priode di tampuk Kekuasaan Rusia.

Sesungguhnya ini menggambarkan suasana kebatinan Rakyat Rusia yang selama ini tercabik cabik seperti tercabik cabiknya Negara USSR dulu, hancur secara ekonomi dan keok dari peran Geopolitik dunia.

Rakyat Rusia bangga dengan Presidennya, sekalipun kadang kontroversial namun ekonomi lambat laun mulai bisa diatasi dari keterpurukan, dan secara militer dan kemampuan teknologinya kembali maju seperti dulu sebagai expotir teknologi militer canggih.

Terakhir didepan mata kita tivi seluruh dunia memberi kesaksian akan prestasi Vladimir Putin dalam tempo kurang lebih 2 minggu membuat keok Presiden Ukraina Volodimyr Zelensky, untuk turut urung menuntut menjadi Angota NATO untuk negaranya Ukraina, dan dia siap berunding untuk mengikuti perintah Putin.

Sekalipun Zelensky nantinya berunding dengan petinggi Rusia yang diutus, namun Putin tidak bodoh, karena sasaran berikutnya adalah Zelensky dan kabinetnya.

KeberhasiLan Putin terhadap Ukraina sekaligus membuat tamparan kepada AS NATO dan sekutunya, mereka kehilangan muka karena Putin sudah berhasil membuka mata dunia tentang kebohongan mereka, sebagai negara pengadu domba dan penindas seperti yg di lakukan diberbagai negara selama ini.

Putin juga dalam kasus ini dengan cerdik telah membuat daftar 15 negara yg di Black List oleh Rusia seakan ingin menyampaikan kepada dunia Internasional bahwa musuh rakyat dunia adalah 15 negara ini, kalian warga dunia harus waspada kepada negara negara tersebut.

Mungkin rakyat dibanyak negara sosok Putin dianggap sebagai pahlawan negeri negeri yang tertindas atau lemah.

Deng dan Putin telah memperlihatkan kepada kita tetang sosok pemimpin yang mampu membalikkan situasi negaranya yang terpuruk menjadi negara pemenang.

Pertanyaan saya sebagai penutup tulisan ini. siapakah pemimpin atau kader bangsa di Indonesia baik sipiL ataupun militer yang mampu membalikkan situasi yang membawa negara ini menjadi negara gemilang nan jaya dari keterpurukan? Wait end See!

@BanG_LaponG