Pertamina Harus Melepas Kembali 10 Miliar Liter Minyak Sawit untuk Menstabilkan Harga Minyak Goreng

0
226
Salamuddin Daeng, Pengamat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)/IST

Oleh Salamuddin Daeng

Program Bio Diesel pemerintah melalui Pertamina patut diduga sebagai penyebab kelangkaan minyak goreng belakangan ini. Sebagaimana diketahui Bio diesel Indonesia merupakan suatu usaha menghadapi isue climate change. Walaupun Uni Eropa menganggap Bio diesel indonesia bukan energi terbaharukan dan bukan bagian dari isue perubahan iklim tersebut.

Konsumsi Pertamina sebanyak 10 juta ton atau 10 miliar liter minyak sawit untuk kebutuhan mencampur solar sebagai bahan bakar Bio diesel. Jumlah kebutuhan Pertamina telah menjadikan Pertamina sebagai konsumen minyak sawit terbesar di dunia. Konsumsi Pertamina mencapai 2 kali volume ekspor minyak sawit ke China dari Indonesia. Volume konsumsi minyak sawit Pertamina juga mencapai dua kali konsumsi seluruh negara uni eropa dari minyak sawit Indonesia.

Konsumsi minyak sawit Pertamina ini berpotensi menjadikan Pertamina sebagai oligopsoni, dapat menjadi penentu pasokan dan minyak harga sawit. Dengan demikian maka Pertamina juga bisa menjadi penentu pasokan dan harga minyak goreng dikarenakan konsumsinya sangat besar. Jika diibaratkan negara maka Pertamina adalah negara konsumen minyak sawit terbesar di dunia.

Oleh karena itu maka usaha menstabilkan pasokan dan harga minyak Goreng di tanah air tidak mungkin bisa dilakukan dengan mekanisme pasar saat ini. Namun hanya bisa dilakukan dengan meminta Pertamina melepas kembali minyak sawit sebanyak 10 miliar liter untuk dijual kembali kepada produsen minyak goreng. Dengan demikian maka harga minyak sawit secara internasional bisa normal kembali dan pasokan serta harga minyak goreng juga bisa normal kembali.

Sebagai informasi sekarang harga sawit internasional senilai 7000 ringgit per ton, atau seharga Rp. 25.500 per liter. Dengan demikian maka ada selisih harga rata rata minyak goreng curah dengan harga bahan baku senilai 10 ribu rupiah. Atau dengan kata lain produsen minyak goreng tekor Rp. 10 ribu jika memaksakan diri memproduksi minyak goreng. Mudah mudahan Pertamina menyadari masalah ini.***