Spirit Papua

280
Yudi Latif /ist

OLEH Yudi Latif

Mengapa Indonesia tanpa spirit Papua ibarat tungku tanpa apinya? Jawabannya terpancar dr buku “Limabelas Tahun Digul, Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea: Tempat Persemaian Kemerdekaan Indonesia”, karya I.F.M. Chalid Salim.

Bumi Papua adlh “tanah spiritual” revolusi kemerdekaan Indonesia. Memasuki 1920-an, Pemerintahan Belanda mulai panik dgn ekspansi dan eskalasi radikalisme. Stelah pemberontakan rakyat dgn stimulasi ideologi kiri pd 1926/1927, Belanda membuang “para perusuh” ke tempat terisolir. Pd 1926, dibangunlah “kamp konsetrasi” (mungkin) yg pertama di muka bumi, di (Boven) Digul, Papua.

Dataran tinggi Digul saat itu kawasan hutan tropis perawan, dgn jarak tempuh sekitar 500 km dr muara Sungai Digul di Laut Arafura. Dlm kesenyapan rimba raya, kehidupan tak bisa istirah dgn tenang. Ancaman nyamuk anopheles, buaya, dan tradisi pengayauan suku ttt (saat itu), mengintai maut setiap saat. Cekikan kesepian memicu dimentia, gangguan ingatan, keputusaan, yg mematikan daya hidup.

Kesanalah “perusuh” politik dr bbg pulau di buang. Awalnya aktivis gerakan kiri, lalu pentolan nasionalis (religius dan netral agama), termasuk Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Di sanalah ujian sesungguhnya perjuangan. Bgmn idealisme dan impian kemerdekaan hrs dipertahankan di tengah ancaman penderitaan, kesepian, dan kematian.

Tak heran, saat batas wilayah negara Indonesia merdeka dibicarakan di BPUPK, arus besar suara, dgn semangat emansipatoris, menghendaki penyertaan Papua. Mohammad Yamin mengatakan: “Di seluruh pergerakan kita di tanah Indonesia, tanah Papua-lah yg memberi bunyi internasional. Digul adlh sbg puncak pengurbanan drpd penganjuran2 kita, shg melepaskan tanah Digul keluar daerah Indonesia melanggar perasaan keadilan, tanah Digul adlah tempat pengurbanan pergerakan kita menuju kemerdekaan. Janganlah mrk yg telah berjuang utk mendapat kemerdekaan itu, pd waktu gembira krn kita mendirikan negara merdeka dikucilkan.”

Demikianlah, kemerdekaan Indonesia baru bisa mencapai visi emansipasinya, manakala Papua sbg tanah spiritual revolusi Indonesia senantiasa kita ingat dan kita muliakan marwahnya.