Elang Ruhani

0
124
Yudi Latif /ist

Oleh Yudi Latif

Saudaraku, elang terbang di langit tinggi, namun tetap bersarang di tanah. Begitu pun manusia luhur: kesadaran rohaninya menjulang tinggi, tapi tak pernah lupa berjejak di bumi.

Seperti elang, setelah lelah berjelajah di cakrawala, melipat sayapnya menukik ke bawah utk rehat di sarang, begitu pun pribadi bersinar. Setelah berjuang sepenuh hati seolah memasuki keadaan tidur tenang; hidup bebas tanpa melekat pada keinginan.

Semua burung mencari tempat berlindung saat hujan. Tak demikian dgn elang. Ia menghindari hujan dgn terbang di atas awan.

Melihat lanskap realitas dari penglihatan burung terbang rendah, yg tampak hanyalah keragaman jenis pohon. Namun, dari ketinggian penglihatan elang, segala perbedaan pohon tampak sbg kesatuan hutan.

Dimanakah elang berhibernasi di negeri ini? Mencarinya keempat penjuru mata angin, yg rampak terlihat hanyalah burung-burung yg suka berkicau menjambul saat cuaca cerah, namun segera mendekam saat mendung mengepung.

Bagaimana bisa memahami keutuhan realitas, tanpa ketinggian tatapan elang? Tanpa keluhuran penglihatan, kita tak bisa memetakan jalan ke depan. Kehidupan diarungi dgn peta buta, berbekal asal blusukan, terantuk dari satu batu sandungan ke rundungan yg lain. Tantangan ke depan disongsong dgn siasat pemadam kebakaran, tanpa kejelasan haluan perencanaan.

Di bawah kepungan langit berkabut, org-org yg memandang segala sesuatu dari kerendahan penglihatan tak bisa memahami kenyataan di luar rumahnya. Satu-satunya kebenaran adalah yg tampak dari sudut pandangnya. Tak bisa menangkap kebenaran lain dari posisi tetangga seberang jalan. Hanya bisa menyalahkan pihak lain, tak bisa menyelami kesalahan pihaknya sendiri. Hanya bisa meratapi derita sendiri, tak bisa berempati pada derita yg lain

Kita hrs melatih meninggikan daya terbang mental-kerohanian agar bisa melihat realitas dari ketinggian tatapan elang. Dari ketinggian penglihatan elang, cakrawala kehidupan tampak terhampar luas, rangkaian aksi-reaksi terdeteksi, ragam realitas tersambung. Kebenaran terhampar di berbagai tempat, semua warna menyatu, semua rasa bersambung, semua rezeki berbagi.

(Makrifat Pagi, Yudi Latif)