Anies, Sang Kandidat (Bagian 5)

428

Oleh Imam Wahyudi (iW)

PRASYARAT “Bibit Bebet Bobot”, tentu penting dan perlu. Dalam kekinian tentang calon pemimpin Indonesia. Anies Baswedan, sebutlah Sang Kandidat — terbilang sarat prasyarat.

Pilpres bukan cuma artian tradisi demokrasi lima tahunan. Hendaknya dimaknai sebagai elektoral tentang masa depan Indonesia. Harapan seluruh lapisan warga. Lebih dekat pula pergaulan dunia yang kian global. Anies Baswedan dirasa mampu menjawab sederet harapan dan tantangan.

Sosok Anies Baswedan dengan sendirinya, menjelaskan asal-usul. Terlahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang sarat atribut pendidikan. Itulah tentang “bibit”.

Lahir di Kuningan, Jawa Barat, 07 Mei 1969 — Anies kecil tumbuh dan berkembang di jalur pendidikan. Ayahnya, Drs. Rasyid Baswedan adalah dosen Fak. Ekonomi dan pernah Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Sang ibu, Prof. Dr. Aliyah Rasyid, M.Pd. dikenal sebagai guru besar dan dosen pada Fak. Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Perhatian dan pengabdian orangtua dalam dunia pendidikan, menginspirasi Anies Baswedan. Langkah demi langkah dilalui dengan prestasi. Di Yogyakarta. Dia harus melonggarkan waktu setahun kelulusan SMA (1985-1989). Terpilih ikut Pertukaran Pelajar Indonesia-Amerika lewat program “American Field Service” (AFS). Setahun tinggal di Milwaukee, Winconsin, AS. Pengalaman pertama usia muda, yang kelak mengantarkan Anies muda berselancar pendidikan tinggi di negeri Paman Sam itu. Melulu berbekal prestasi berwujud beasiswa. Kini, tertulis namanya : H. Anies Rasyid Baswedan, SE, MPP, Ph.D.

*
TAK sulit menelusuri tapak jejak Anies Baswedan. Sarat pengalaman organisasi dan prestasi pendidikan. Lewat sentuhan awal di organisasi intra sekolah (OSIS), ketua senat mahasiswa hingga ekstra universitas HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Anies menginspirasi lahirnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Sejauh itu, dia sudah unjuk peran “leadership”. Memimpin delegasi 300 siswa SMA Yogyakarta dalam pelatihan nasional di Jakarta 1985. Praktis, saat tahun pertama di SMAN 2 Yogyakarta — sebelum (setahun kemudian) terpilih ikut program AFS ke Amerika.

Usai rampung studi Fak. Ekonomi Universitas Gajahmada 1995, Anies muda tak surut melangkah. Beasiswa demi beasiswa diraihnya. Diawali dari Japan Airlines Foundation di Universitas Sophia, Tokyo. Studinya tentang kajian Asia. Berikut terbang (kembali) ke Amerika Serikat. Program magister dan doktor di School of Public Affair, Universitas Maryland, College Park, AS (1997). Anies menempa studi bidang Keamanan Internasional dan Kebijakan Ekonomi. Sejalan itu, Anies beroleh anugrah “William P. Cole III Fellow” dari Maryland itu dan lanjut Asean Study Award.

Selanjutnya program S-3 di Universitas Northern, Illinois, AS, 2005. Anies berhasil pertahankan desertasi berjudul “Otonomi Daerah & Pola Demokrasi Indonesia”. Prestasinya membuka ruang lebar sebagai pembicara di berbagai konferensi internasional. Bersamaan itu, mahir menulis artikel untuk media publik.

Kembali ke Indonesia, Anies menjadi National Advisor bidang desentralisasi & otonomi daerah di Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, Jakarta. Pun sebagai peneliti utama Lembaga Survei Indonesia (LSI). Mulai menapak ke puncak. Anies unjuk Rektor Termuda di Universitas Paramadina, mulai 2007. Lembaga pendidikan tinggi prestisius di Jakarta yang digagas Nurcholis Madjid (Cak Nur) pada 1998. Majalah “Foreign Policy” merilis Anies Baswedan sebagai “100 Intelektual Dunia”. Luarbiasa!

Serbalintas tapak jejak di atas menggambarkan anak tangga prestasi mumpuni sosok Anies Baswedan. Tapak Sang Kandidat yang hebat dan tak perlu diperdebat. Dia mengalir apa adanya dan nyata. Istimewa di jalur pendidikan. Bagai jalan tol bebas hambatan.

*
Hari-hari ini, kita sejatinya tengah mewacanakan tentang Indonesia masa depan. Jawaban mutakhir adalah Anies Baswedan.

Tak sekadar prestasi pendidikan yang bagai semburat harapan. Anies memancarkan cahaya bersinar. Tak kecuali dalam alur politik sebagai pendekatan utama menuju kepemimpinan nasional.

Niat dan tekad mengisi kemerdekaan lewat pendidikan formal semata, tidaklah cukup. Anies merasa perlu melibatkan banyak orang. Gagasannya, “Gerakan Indonesia Mengajar” mengantarkan Anies Baswedan ke pentas politik.

Menjadi bagian Tim Transisi kepemimpinan Jokowi – Jusuf Kalla 2014, menempatkan Anies ke kursi Mendikbud. Meski hanya dua tahun, Anies lanjut melangkah. Lewat pilkada 2017, Anies Baswedan terpilih Gubernur DKI Jakarta. Selama jabatannya, dia melanjutkan komitmennya. Bahwa bangsa Indonesia haruslah diisi manusia-manusia berkepribadian dan berbudaya unggul. Demi kemajuan dan kesejahteraan Indonesia.

Anies Baswedan kian menasional. Gaunnya meliputi seluruh negeri. Sang Kandidat mumpuni. Sarat prestasi.*

*) Penulis, Ketua Komunitas Wartawan Senior (KWS) Jawa Barat.