EMAK EMAK & MILINIAL REVOLUSIONER MELAWAN KESERAKAHAN OLIGARKI

316
Muhammad Nur LaponG Direktur ForJIS/ist

JAKARTASATU.COM — 7 tahun Presiden Jokowi-Ma’ruf melalui era kepemimpinan di priode keduanya, hasilnya tidak ada yang cukup signifikan bagi rakyat, bangsa dan negeri ini, baik dari sisi index HAM, demokrasi, pemberantasan korupsi maupun pertumbuhan ekonomi, semuanya merosot jika dibanding dengan pendahulunya di era SBY.

Ada memang yang terlihat menonjol dimata rakyat Indonesia, adalah janji kampanye yang disampaikan Presiden Jokowi di priode 1 & 2 yang penuh dengan optimisme dan harapan yang begitu tinggi terhadap perbaikan perbaikan dalam kehidupan berbangsa bagi rakyat Indonesia, pada akhirnya dinilai oleh sebagian besar rakyat Indonesia sebagai PHP ( pemberi harapan palsu).

Di era Presiden Jokowi terlihat mata kekaguman kita terhadap ambisi pembangunan infrastruktur mulai dari ambisi ToL Laut, Kereta Api cepat, dan pembangunan infrastruktur lainnya digenjot habis, walau ada yang berhasil tapi kemudian makin kesini pembangunan tersebut mulai macet satu persatu seperti kekagetan kita terhadap proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung mangkrak yang kemudian menjadi beban APBN melenceng dari rencana awalnya sebagai proyek murni swasta yang melibatkan asing.

Tercatat pula bahwa di era Jokowi dengan ambisi pembangunan infrastruktur dan untuk menggengjot pertumbuhan ekonomi, Jokowi akhirnya menjadi Presiden Tukang Hutang yang spektakuler diantara 6 Presiden sebelumnya, dengan jumlah hutang kurang 6000 T – naik 4000 T dari hutang sebelumnya kurang lebih 2000 T, artinya prestasi hutang presiden Jokowi melampui 2 kali lipat 6 Presiden sebelumnya sungguh luar biasa dan mencengangkan.

Belum lepas kontroversi hutang negara yang makin melambung, kita dikagetkan lagi pembangunan abisius IKN yang secara instan disetujui pula oleh DPR-RI menjadi kebijakan Nasional untuk mengganti Ibu Kota Jakarta menjadi Ibukota Negara Nusantara di Kalimantan. Belum selesai kontroversi itu tiba-tiba rakyat Indonesia dikagetkan lagi dengan mundur salah satu konsorsium Investor Jepang Softbank yang menyatakan mengundurkan diri dari proyek pembangunan IKN tersebut. Sama kontroversinya dengan pembuatan instan UU Cipta Kerja (OmnibusLaw) yang kemudian dibatalkan oleh MK.

Di era Jokowi banyak kemajuan dan kontroversi termasuk, keberhasilan beliau menempatkan anak dan mantunya menjadi walikota Solo dan Medan secara bersamaan dengan mulus. Walau kemudian keberhasilan ini diikuti pula dengan terungkapnya dana besar yang mengalir ke rekening Gibran dan Kesang yang kemudian peristiwa ini menjadi prahara karena tokoh aktivis 98 Ubaidillah Badrun sebagai peristiwa KKN dan melaporkannya ke KPK.

Ada yang spesifik pula di era Presiden Jokowi yang cukup membuat kita pilu adalah peristiwa sosial kemasyarakatan yang tajam terbelah dan lahirnya para buzer yang dibiayai oleh negara (?) yang membuat kehidupan berbangsa semakin menjadi kacau balau.

Rakyat Indonesia menyadari ini semua, mahasiswa, buruh dan emak-emak, mereka tidak hentinya mengkritirisi semua kebijakan-kebijakan di atas sebagai suatu kebijakan yang terburu-buru, kurang perancanaan/instan, korup/KKN, dan banyak dinilai tidak proporsional alias tidak masuk akal.

Rakyat Indonesia menilai, khususnya dimotori emak-emak, mahasiswa, milinial profesional, dan buruh, terlebih para pengamat, kritikus menilai bahwa apa yang terjadi sekarang di era Jokowi semua tidak lepas dari biang keroknya yang bernama OLIGARKI, yang telah menyuburkan KKN/korupsi, kebijakan yang tidak pro rakyat melainkan pro pemodal, rusak dan kroposnya sendi-sendi struktur kekuasaan negara. Trias politica yang seharusnya menjadi pilar bernegara untuk mewujudkan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia telah berubah menjadi Trias Corruptica sehingga keadilan makin terasa jauh bagi rakyat.

Peristiwa hilangnya minyak Goreng di pasaran mengakibatkan antrian ribuan emak-emak seluruh Indonesia sampai ada yang meninggal, serta peristiwa di desa Wadas menjadi bukti nyata betapa kuatnya oligarki mencengkram sendi-sendi kehidupan berbangsa yang telah menjadi monster yang menindas dan menghisap kehidupan rakyat banyak.

Olehnya dimotori emak-emak yang ada di berbagai elemen dalam berapa bulan terakhir ini yang sudah bosan dengan janji palsu dan ketidakbecusan pemerintah mengurus negara, yang tadinya hanya sibuk mengkritisi di medsos, sekarang mereka melakukan dialektika parlemen jalanan karena sudah tidak percaya dengan institusi pemerintah apalagi yang namanya DPR di senayan.

Tak kurang emak-emak ARM (Aliansi Rakyat Menggugat) yang paling menonjol diantara semua elemen emak-emak telah melakukan kurang lebih 20 aksi massa jalanan hingga Maret tahun ini, belum para mahasiswa melawan dan buruh melawan yang juga sudah ratusan kali turun ke jalan soal OmnibusLaw.

Bagi mereka OLIGARKI sebagai sumber bencana harus di LAWAN !!

JumaT 18 Agustus 2022
Guntur 49

LAPONG