PUISI MASJID YANG HILANG

0
303
M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan. (Foto Ajie Sukma-JAKSAT)

M. Rizal Fadillah

Masjid adalah tempat sujud
Rumah Allah yang mulia dan dimuliakan
Dibangun dengan penuh semangat
Untuk menjadi cahaya dari keikhlasan
Masjid Nurul Ikhlas namanya

Cahaya satu empat sembilan telah sirna
Ditabrak kereta api yang menguasai jalan sendirian
Tidak boleh ada yang menghalangi
Karena semua demi kepentingan negara
Negara kekuasaan dan negara perusahaan

Umat berjuang untuk mempertahankan
Namun keangkuhan mengalahkan, menghancurkan dan meratakan
Tanah itu belum tentu milik kereta dari sang penabrak
Hanya akuan karena negara adalah aku.

Angkara murka tanpa perintah hukum menertawakan ketidakberdayaan
Lalu,
Dibalik negara ada perusahaan yang bersembunyi
Mencaplok hak rakyat dengan memperalat, membayar, dan memaksa

Indomaret tak bisa membangun imperium tanpa kendali
Mendirikan bangunan tanpa izin
Mengeruk keuntungan di atas runtuhan tempat ibadah
Membangun mushola untuk mengelabui
Mengabaikan kritik atas cara-cara tak etik dalam berniaga

Aneh, jika tidak bisa ditutup paksa
Sulit masuk nalar untuk membiarkan Masjid hancur dan hilang
Rasanya hukum dipermainkan dan dinistakan
Oleh konglomerasi, komersialisasi, dan kolonialisasi

Indonesia adalah negara merdeka.
Dan harus tetap merdeka.
Bukan pura-pura merdeka
Ataukah mesti dimerdekakan ?

Allahu Akbar. Merdeka !

Bandung, 25 Maret 2022