Moral Puasa

0
146

Oleh Yudi Latif

Saudaraku, puasa melatih cara beragama secara dewasa. Beribadah bukan krn apa kata org, tetapi apa kata nurani sendiri. Bermoral bukan krn paksaan dr luar, melainkan krn pancaran ketulusan dr dlm. Puasa melatih daya transendensi dr gravitasi syahwat bumi. Puasa yg masih terintimidasi makanan di warung atau melancarkan “balas dendam” dgn rakus makan saat berbuka pertanda jiwa kekanak-kanakan yg masih melekat pd materi sbg budak nafsu.

Puasa mendekatkan hubungan personal pd Sang Khalik dgn mengeratkan tali kasih thd sesama makhluk. Puasa adlah cara meraih rahmat Tuhan dgn menempuh jalan rahmatan lilalamin dlm kehidupan.

Puasa menanamkan kejujuran utk berani berkata benar pd org lain dgn keteguhan integritas utk berani berkata benar pd nurani sendiri. Kukuh menjalankan kebenaran dan kebaikan dgn sikap ihsan. Sekalipun kita tak melihat Tuhan, sesungguhnya Tuhan senantiasa hadir dlm setiap dengus nafas kita.

Puasa menanamkan sikap ugahari, tahu kapan merasa cukup. Tak begitu memikirkan apa yg diinginkan; dan menyadari benar apa yg tak dibutuhkan. Tak begitu terobsesi dgn legasi perseorangan bila hrs dibayar mahal oleh penderitaan dan beban berkelanjutan banyak org. Menyadari benar kapan hasrat berkuasa dan mengendalikan partai hrs berhenti; hingga batas mana akumulasi kekayaan dan peluang usaha pantas diraih.

Puasa mengingatkan kita ttg hukum keseimbangan. Manakala relasi kuasa berjalan timpang, yg membuat arus balik terus dibendung, maka air yg tak menemukan saluran lama-lama akan meninggi. Dgn satu tiupan topan, gelombang tsunami anarki akan meluluhlantakkan segala dinding keserakahan.

Puasa mengingatkan keharusan berbagi dlm distribusi harta, kesempatan, dan status kehormatan; juga dlm peran dan tanggung jawab mengelola urusan hidup bersama.Tak sepatutnya otoritas tertentu mengintervensi bidang lain di luar kapasitas kewenangannya.

Dengan puasa sejati, derajat manusia ditinggikan melampaui nilai kebendaan-kekuasaan. Bahwa nafsu menimbun harta dan memperluas pengaruh tak pernah puas kecuali dgn “puasa”. Jeda Ramadhan memberi momen refleksi diri, memulihkan tenaga rohani utk membakar benalu yg mengerdilkan moralitas.

(Makrifat Pagi)
https://www.instagram.com/p/Cb3g41Vvn2d/?utm_medium=share_sheet