KETIKA IKN MENJADI OLOK-OLOK DUNIA

0
2860
Presiden Joko Widodo meninjau calon ibu kota baru itu bersama dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Manoarfa, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar serta Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor/IST

by M Rizal Fadillah

Ambisi ingin pindah Ibukota Negara ke Penajam Kaltim bukan saja menjadi gonjang-ganjing di dalam negeri tetapi juga menjadi olok-olok tajam di luar negeri. Di dalam negeri memang mendapat penentangan keras. Dari kritik aspek historis, studi kelayakan, keamanan, hingga keuangan dan bahkan mistisisme. Terakhir dilakukan uji maretiel UU IKN kepada Mahkamah Konstitusi.

Hengkangnya investor potensial Jepang yang menarik kembali komitmennya dipastikan membuat dampak psiko-ekonomik besar terhadap investor asing lainnya. Saudi maupun China masih dalam tahap janji dan membingkai harapan. Opsi “edarkan kencleng” dilempar Kepala Otorita yang tentu saja menjadi bahan tertawaan.

Di media luar negeri juga olok-olok dan skeptisme ditulis secara tajam sebagai efek dari batalnya investasi SoftBank Jepang sebesar US 32,5 Billion. Tulisan Abhioday Sidodia di TFI Global menarik dengan judul “Indonesia wants to build a new capital city. Problem is, it doesn’t have money”. John Mc Beth dalam Asia Times menyatakan “Indonesia’s new capital on shaky financial ground”. Aljazeera mengangkat tulisan Aisyah Llowellyn “Crowdfunding a capital : Indonesia is unusual pitch raises eyebrows”.

Ambisi ingin pindah Ibukota negara ternyata dimodali “teu boga duit” atau “doesn’t have money”. Bak orang miskin yang banyak keinginan. Ketika mengalami kegoyahan finansial “shaky financial ground” sudah pasti kegagalan di depan mata. Apalagi dengan cara tidak lazim, urunan masyarakat “unusual pitch” maka dunia pun ikut tersenyum melihat kebodohan ini dengan mengangkat alis “raises eyebrows”. Hadeuh.

Luhut dan Jokowi mulai bingung atas kemungkinan mangkrak bahkan gagal proyek yang tidak pakai fikiran cerdas ini. Atau program ini memang sekedar nasehat dukun ? Untuk menghibur diri nampaknya perlu mengupload foto “mesra” dengan Pangeran Salman atau Xi Jinping seolah-olah dana akan membanjir dari Saudi atau China. Padahal Luhut dan Jokowi lupa bahwa itu masih janji dan kalau kebanjiran pun artinya dapat menenggelamkan.

Masalahnya Jokowi, Luhut dan konco-konco lainnya itu masa jabatannya tinggal dua tahun. Sementara investor saat ini “kagak punye” atau “belom ade”. Tahapan kini mungkin baru komat kamit dan jampe-jampe. Diprediksi 2024 belum apa-apa baru urug-urug atau menyelesaikan permasalahan lahan. Suku Dayak saja masih minta referendum.

Jokowi selesai masa jabatan, maka ambisi IKN juga selesai. Nanti prioritas bukan masalah pindah Ibu Kota Negara lagi tetapi membenahi hutang jor-joran Pemerintah dan menstabilkan kehidupan ekonomi, hukum, dan politik. Mungkin saja sibuk juga untuk membongkar kolusi dan korupsi rezim Jokowi. Mengubah dari moto “negara adalah aku” menjadi “negara harus memenjarakan kamu”.

Al Jazeera mengutip pandangan Sri Murlianti, dosen Universitas Mulawarman mengenai program urunan “crowdfunding”. Menurutnya “It’s hard enough for people to buy cooking oil and other basic necessities, and now they are going to be asked to pay for the new capital too ? It’s a mess”. Ya berantakan !

Memalukan agenda pindah IKN nyatanya tanpa perhitungan yang matang dan terlebih tanpa persetujuan rakyat secara keseluruhan. Pindah IKN lebih pada kemauan dan kepentingan oligarki semata. Untuk proyek besar tanpa melibatkan partisipasi rakyat dijamin bakal mengalami kegagalan. Rakyat akan masa bodoh atau tidak mau tahu.

Rakyat yang masih mengalami berbagai kesulitan belum merasa perlu akan pindahnya IKN. Undang-Udang diketuk buru buru dan sembunyi sembunyi. Jokowi “ngebet” ingin punya istana baru seperti anak kecil yang perlu “ngebela-belain” dengan bikin kemah-kemahan segala. Badut.

Sementara itu dunia ikut geli dalam mengikuti. Ada yang senyum dan adapula yang ketawa-ketiwi.
Ah, Jokowi..Jokowi.
You really can’t manage your country, sir.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 7 April 2022