Eddy vs Ade, Saling Lapor Polisi

0
118

Babak baru Ade Armando versus Eddy Soeparno. Lewat pengacaranya masing-masing. Berbalas pantun. Saling menempuh laporan polisi.

Tak puas somasi yang tak dihiraukan. Pihak Ade Armando cenderung emosi. Membuat laporan polisi. Pihak yang disomasi hingga laporan polisi, tak tinggal diam. Lantas pihak Sekjen DPP PAN menjawab tantangan. Menempuh jalur laporan polisi pula. Betapa pun diakui bukan merupakan laporan balik. Bakal ramai, deh.

Langkah Muannas, pengacara Ade Armando tampak berlebihan. Mengesankan sikap arogan. Boleh saja, sah-sah saja. Tapi meruntut tapak prilaku medsos Ade Armando sebelumnya, cenderung “membabi buta”. Unjuk bebal dan bagai kebal. Langkah “sakarepe dewe”, mirip “zig-zag” dalam keriuhan.

Bagi publik, inilah ujian (untuk sekian kalinya) aspek penegakkan hukum. Berpihak atau berpijak?! Apalagi, sejatinya Ade Armando masih berstatus tersangka. Sudah lima tahun menggantung. Tanpa perkembangan lebih lanjut dan tanpa penjelasan. Satu aspek yang memicu spekulasi di”peti es”kan. Karuan, terkesan tak jera — untuk kembali bertingkah. Secara tak terpuji, malah tampak menantang.

Publik, tentu berharap penjelasan polisi ikhwal kelanjutan status Ade Armando. Bukan sebatas kewenangan, tapi bersifat wajib. Demi penegakkan hukum yang berkeadilan. Betapa pun saling laporan polisi perkara “cuitan”, haruslah didahului dengan penjelasan status tersangka atasnama Ade Armando. Tak kecuali, sudah tak relevan menyoal penerbitan SP3. Sudah dianulir pengadilan yang sudah berkekuatan hukum, sejak 04 September 2017.

Dalam spasi kali ini, penulis tak hendak mengulas seputar “cuitan”, somasi dan laporan polisi. Secara kasat mata, materi “cuitan” yang jadi pangkal perkara — tidak cukup dijadikan konsiderans dugaan tindak pidana. Lebih pada opini sesaat. Bahkan serupa “peringatan” bagi siapa pun. Malah bagus. Terlebih pernyataan itu dari anggota DPR RI. Tanggungjawab moral di pundaknya. Soal penegakkan hukum yang berkeadilan. Bila kemudian bergulir ke ranah hukum, tentu menimbulkan pertanyaan. Ada apa gerangan? Ada “kesaktian”kah atau khawatir menjadi “pesakitan”?

Mungkinkah, materi “cuitan” Eddy Soeparno yang notabene Sekjen DPP PAN — dinilai semacam “tamparan” terhadap Ade Armando?! Padahal jelas tersurat, sebatas initial AA. Kuat dugaan, pihak Ade Armando memahami ada tapak prilaku sebelumnya. Sepertinya khawatir bergulir lebih lanjut. Untuk itu, pihak mereka berpretensi menyetop arus banjir bandang. Petaka yang bisa menyeret hanyut dirinya. Karenanya, serta-merta mengartikan AA sebagai Ade Armando. Biarlah sengkarut berputar di poros ini. Bukan membuka kembali perkara masa lalu.

Diduga, pihak Ade Armando ingin menggeser issue. Tak berlanjut pada dugaan penistaan agama yang “tenggelam” selama hampir lima tahun. Sebuah langkah “buying time”. Memilih gugatan “cuitan” yang lebih “murah meriah”. Lantas saling laporan polisi. Di antara itu adalah status tersangka Ade Armando. Posisi dalam sebuah perkara yang tak bisa dihentikan begitu saja. Tak cukup dengan penjelasan yang bahkan belum pernah ada penjelasan.***

IW
Ketua Komunitas Wartawan Senior (KWS) Jawa Barat.