DUA KEJADIAN DENGAN DUA PRESIDEN

0
164

INI ADALAH TAFSIR SEBUAH MAKNA FOTO, JADI LIHATLAH DENGAN SANTUY. SEKALI LAGI JANGAN BAPER APALAGI MEMBULLYNYA…..

OLEH AENDRA MEDITA KARTADIPURA *)

ADA dua peristiwa yang menarik dari dua foto diatas. Seorang kawan ahli desain mengirimnya pagi ini. Foto pertama Presiden SBY dengan Jokowi. Ini terjadi 2014, setelah saya riset kecil tentu di mbah google ada banyak dan yang pasti foto itu sejarahnya adalah  saat SBY meresmikan Adhyaksa Loka milik Kejagung, SBY – Jokowi tampak  bersama-sama dan saat SBY jadi pengemudi mobil terbuka VVIP dengan Jokowi duduk di sebelahnya. Peristiwa atawa kejadian itu dalam peresmian fasilitas di Ceger, Jakarta Timur, yaitu Jumat 12 Spetember 2014 saat itu jelang masa jabatan SBY mulai berakhir, sebuah keterngan menuliskan bahwa untuk pertama kalinya Jokowi memakai kemeja safari. SBY juga memakai safari tapi dengan warna berbeda, demikian Jaksa Agung Basrief Arief yang bersafari cokelat, demikina tulis sejumlah media.

Secara serius memang bahwa Jokowi Naik Mobil VVIP disopiri SBY. Gitulah kira-kiranya. Nah untuk foto kedua adalah peristiwa atau kejadian yang beda tapi rada mirip. Yang membuta saya tersentuh ingin membaca  tafsir foto itu. Foto unik dimana ada Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dulu juga Gubernur DKI Jakarta. Kali kini kisahnya adalah Sang Gubernur yang nyopiri Presiden. Jadi memang Jokowi itu selalu di sopiri. Dia akan ikut dengan manut. Ups…!!!

DUA KEJADIAN DENGAN DUA PRESIDEN

Ini foto kedua bisa dikatakan peristiwa luar biasa Presiden Jokowi meninjau sirkuit Formula-E  yang telah menyelesaikan 100 % untuk track balapan pesta di Jakarta yang sering di usilin oleh para buzzer. Tapi kenyataan yang tak bisa dpungkiri bahkan  mengejutkan.

Nampak dlaam foto itu Anies dengan begitu kelihatan akrab dengan presiden yang mantan  Gubernur DKI itu. Jika Rizal Fadiilah menulis pagi ini bahwa, “Sudah menjadi pengetahuan khalayak bahwa keduanya tidak dalam keadaan akur. Khususnya sikap Jokowi dan kubunya kepada Anies,”begitu tulisanya.

Kondisi ini tidak bisa dibaca sepintas dan disederhanakan bahwa Presiden memiliki perhatian terhadap pembangunan sirkuit balap Formula-E Ancol. Adanya aksi interpelasi anggota DPRD DKI yang dilakukan oleh kubu Istana adalah bukti perseteruan yang sulit didamaikan. “Jadi peristiwa kunjungan ini memang aneh,”lanjut Rizal

Rizal bahkan merinci soal ini:

Pertama, Jokowi tidak mau kalah 2-0 oleh Anies. Di sirkuit MotoGP Mandalika NTB Jokowi mengalami kegagalan. Alih-alih mendulang pujian justru yang ramai adalah soal mistik pawang hujan. Itupun tidak sukses. Sebaliknya Anies yang juga hadir saat itu ternyata lebih mendapat sambutan dari masyarakat. Panggung Jokowi diambil Anies.

Kedua, Jokowi sedang galau karena kubunya diobrak abrik oleh Megawati. Soal mafia minyak goreng dikutak-katik oleh Jaksa Agung yang kebetulan adik dari petinggi PDIP. Luhut kalang kabut atas serangan kepada teman-temannya itu. Jokowi bermanuver mendekat kepada Anies untuk menggertak Mega dan mengganggu Puan PDIP dalam Pilpres ke depan.

Ketiga, upaya mempertahankan kekuasaan mentok. Awal Ganjar Pranowo menjadi kepanjangan tangan, akan tetapi hasil survey yang mengunggulkannya tercium rekayasa. E-KTP dapat menghadang. Belum lagi PDIP yang marah. Lalu Jokowi-Prabowo digelindingkan, namun Prabowo bukan jagoan yang dulu. Pasangan ini dipaksakan. Dijamin jeblok. Apalagi untuk hal ini harus melalui amandemen Konstitusi dahulu.

Keempat, Anies menjadi pilihan atas popularitas dan elektabilitas yang ada padanya. Anies perlu didekati dan dilobi agar sekurang-kurangnya mau menjadi protektor pasca lengser. Atau secara spektakuler siap berpasangan dengan Jokowi untuk Pilpres 2024. Jokowi tak punya pilihan selain menempel pada Anies Baswedan.

Kelima, manuver pemulihan citra dunia. Melalui Formula-E dan peresmian JIS yang megah, Jokowi berharap namanya akan ikut naik dan terputihkan. Anies mampu menggendong siapapun untuk meningkatkan reputasi. Ini yang diinginkan Jokowi. Jokowi harus terlihat “cool” dan harus berhasil merayu Anies untuk mulai “bersahabat”.

“Manuver keputusasaan Jokowi ini bukan tidak berisiko. Para buzzer tentu kecewa dan dibuat mati kutu,” tulias Rizal.

Tapi saya melihat ini visual yang unik dan menarik. Jika analisa Rizal penuh dnegan kecerdasan politik saya ingin yang sederhana saja ke masa depan adalah apakah gambaran ini akan mewujudkan dsang Gubernur DKI Jakarta ini akan mendapat tempat di kursi Istana?

Kok bisa mirip peritiwa kejadian ini dengan dua presiden yang lama. Lalu saya ingin senior syaa bilang bahwa dunia dan Indonesia adalah circle kehidupan inilah mungkin circle itu.

Saya hanya ingin sampaikan mungkin ini kode dua foto kepercayaan itu ada dan tercatat atau dua pilihan yaitu dua foto itu sebagai pengantar bahwa kode keras yang jadi bagian terpenting dan semua ini itu juga kawan saya yang kirim kok bintangnya 8, diajawab ya kode bahwa ini mungkin presiden ke 8 yang hadir demi bangsa yang bermartabat dan siap membela rakyat.

*) Jurnalis senior, Pemred Jakartasatu.com