Paradoks “opor ayam”

0
110

MASIH  ingat sebelum berakhir puasa ada seruan yang mengatakan bahwa halal bi halal tak boleh makan-makan. Seruan itu datang dari presiden langsung loh yang disampaikan Airlangga Hartanto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga mengungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengimbau tidak ada makan dan minum saat halal bihalal Idul Fitri atau Lebaran 2022 pada 18 April 2022.

Tak lama berselnag sekitar 22 April 2022 Pemerintah menerbitkan aturan terkait perayaan halal bihalal saat lebaran 2022. Hal ini terkait masih adanya risiko penularan COVID-19.
Dalam Surat Edaran Nomor 003/2219/SJ yang terbit pada 22 April 2022, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyampaikan aturan soal aktivitas halal bihalal kepada gubernur, bupati, dan walikota.

Adanya surat lebaran ini berguna untuk mencegah peningkatan jumlah kasus COVID-19. Adapun, peraturan ini juga disesuaikan dengan level kasus COVID-19 di setiap kota atau kabupaten.

Nah jauh sebelumnya saat puasa bukber dilarang ngobrol, yang dijelaskan pemerintah mengimbau agar masyarakat yang ingin buka puasa bersama atau bukber selama Ramadhan, dianjurkan untuk tidak  berbicara satu sama lain. Hehehe

Namun Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meluruskan mengenai hal tersebut. Lantas, apa maksud aturan pemerintah boleh bukber tapi dilarang ngobrol tersebut? Droplet bisa jadi virus saat berbuka puasa Wiku mencontohkan, saat individu menyantap makanan saat berbuka puasa tentu tidak perlu berbicara agar tidak menimbulkan droplet yang menjadi penyebab penularan virus. “Saat menyantap makanan tentunya tidak berbicara untuk menghindari adanya droplet,” kata Wiku dilaman Kompas.com, Rabu (30/3/2022).

Uniknya aturan dan menjadi polemik ini memang aya aya wae…maka keita ada seruan jangan halal bi halan saat ebaran sebuah seruan dan lantangnya degan alibi utama  mencegah penularan covid 19.

Tapi kenyataannya dalam dua seruan itu banyak yang bukber juga. Ah sudahlah begitu adanya yang realitas pun demikian bahwa halbi itu juga tinggal seruan belaka karena pucuk pimpinan pun lupa bahwa pernah berseru atau memang hanya wacana seruan itu.

Apakah ini gaya paradoks?

Paradoks adalah sebuah pernyataan yang seolah-olah bertentangan atau berlawanan dengan asumsi umum, tetapi dalam kenyataannya mengandung sebuah kebenaran. Dalam ilmu sastra, paradoks termasuk ke dalam kategori ketidaklangsungan ekspresi yang berwujud penyimpangan arti.

Nah jadi bagaimana menurut soal ada yang silaturahmi (halal bi halal) sang Presiden dengan mantan capres yang kini jadi Menhan yang menikmati opor aya itu? Yang jelas ini bukan drama saja atau episode baru dari kisah para pembuat kisah yang akhirnya paradoks “opor ayam” itu dianggap satu episode baru. Atau drama pendek?

Bukan begitu adanya?

Aendra MEDITA, Pemred JakartaSatu.COM

Jakarta, 4 Mei 2022