In Memoriam Budi Youyastri: Sosok Bersahaja Anggota DPR RI

0
486
Budi Youyastri/ist

JAKARTASATU.COM – Kamis siang kemarin, 19 Mei 2022 — awan membalut langit Jakarta. Sesaat rintik hujan di belahan timur. Dalam keramaian metropolitan. Bersamaan linang air mata. Kabar duka dari RSUP Persahabatan di kawasan Rawamangun. Sahabat sejati pergi untuk selamanya.

Sosok bersahaja, Budi Youyastri wafat dalam usia 55 tahun. Lahir di Jakarta, 01 April 1967. Mantan anggota DPR RI periode 2014-2019. Representasi Partai Amanat Nasional (PAN). Selama di parlemen bergabung komisi I. Membidangi Pertahanan & Keamanan (Hankam), Luarnegeri, Komunikasi dan Informatika. Beliau mewakili dapil Jabar-X (Ciamis, Kuningan, Banjar & Pangandaran).

Almarhum lebih kerap berbagi kabar suka. Dibanding duka. Rangkaian berbagi kabar suka, yang kerap pula ditandai berbagi dalam arti sebenarnya. Berbagi rizki.

Belum genap setahun di parlemen Senayan, dia meminta saya ke Jakarta. Dua pekan jelang Kongres PAN 2015 Bali. Mang Budi, biasa sy menyapa — menyodorkan uang senilai 5.000 dolar AS. Setara 55 juta rupiah. Karuan, saya kaget dan bertanya: uang untuk apa nih? “Biasanya, saat ada agenda penting partai — Akang suka berkreasi,” jawabnya enteng. Terbitlah 1.700 potong kaos oblong untuk “meramaikan” tradisi 5 tahunan PAN. Desain utama berlabel “2015”. Secara keseluruhan memuat pesan “Kongres PAN 2015 Bali”. Laris manis. Saya pun niat kembalikan uang. Mang Budi malah meminta saya untuk membagikan ke kawan-kawan. Lagi-lagi membuat saya terkaget. Tak kurang rasa gembira.

Cukup banyak yang terkenang, selama perjalanan perkawanan. Tak mudah terlupakan. Saya mengingat dan menyimpan dalam memori. Sosok sahabat seutuhnya. Betapa pun intensitas kami lebih terasa sejak paruh 2014. Dia baru saja terpilih anggota DPR RI hasil Pileg 2014. Persisnya 08 Juni 2014. Belum dilantik. Masih harus menunggu empat bulan lagi.

Sejumlah kali, kami mengisi waktu dengan obrolan warkop. Serupa “killing time”, menunggu pelantikan 02 Oktober 2014. Barengan sobat lain, Ahmad Najib Qodratullah dan Haerudin Amin. Keduanya aleg terpilih juga. Berpindah tempat. Pertama di “coffee shop” Hotel Ibis, Menteng. Pun di Hotel Amaris, Jl. Panglima Polim dan beberapa tempat lain. Maklum belum dapat tiket masuk ke rumah dinas Kalibata. Terakhir, kami bercengkrama di Sate Senayan, Menteng. Bergabung Radar Tribaskoro, mantan komisioner KPU Jabar — yang juga sahabat almarhum. Cukup dekat Gedung KPU, Jl. Imam Bonjol, usai acara pendaftaran Capres & Cawapres untuk Pilpres 2014. Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.

Almarhum mengakomodasi saya dalam kinerja di DPR RI. Tentu, beroleh “gaji” bulanan selama lima tahun. Karuan, saya pun berkesempatan “mengawal” sejumlah kunker. Antara lain ke pendopo Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Rombongan dipimpin Tantowi Yahya (Golkar). Juga ke PT Dirgantara Indonesia, Lembaga Elektronika Nasional (LEN), Pusdiklat Telkom, Universitas Telkom dan PT Pindad. Semuanya di Bandung.

Setiap kunjungan ke luar negeri, selalu ada buah tangan. Minimal kaos, jaket hingga cerutu. Antara lain ke Saint Peterburg (Rusia), Granada (Spanyol) dan Washington DC, AS. Selama di kota Washington, almarhum mendahulukan kunjungan ke tempat berbasis Islam. Mesjid Al-Imaam di KBRI dan Asosiasi Muslim Indonesia.

Alumni ITB 1994 ini, semasa mahasiswa aktif dalam organisasi bertajuk Islam. Menjabat Ketua Presidium Keluarga Mahasiswa Islam (Gamais) ITB 1990-1991. Di internal PAN, sebagai Wasekjen DPP PAN 2010-2015 dan Bendahara periode 2015-2020. Usai jabatan DPR RI, almarhum direkrut sebagai staf ahli Menteri Kominfo, Rudiantara. Dalam dua tahun terakhir, sebelum jatuh sakit — minat menjadi “Youtuber”. Spesifik tayangan masakan tradisi di seputar dapilnya dulu.

***
Sebagai anggota “dewan yang terhormat”, keseharian almarhum tak seperti tampilan “apa adanya”. Hanya pada agenda tertentu mengenakan stelan jas yang tak tampak “wah” juga. Lebih sering tampak mengenakan kemeja lengan pendek. Sepatu? Bukan jenis pantopel yang mengkilap. Lebih sering pakai sepatu serupa “boot” pendek. Kadang cukup model sneaker. Penampilan yang kontradiksi dibanding sebagai pejabat publik. Jauh dari performa legislator. Betul-betul mencerminkan kesehariannya.

Meski saling jumpa, gaya bicaranya tak “ngalor-ngidul”. Pendek-pendek bertutur kata. Menukik hal pokok dan penting saja. Fokus pada kinerja dewan dan perhatian bidang komunikasi dan informatika. Sosok bersahaja. Tipikalnya tak “neko-neko”. Sekali lagi, tak pernah unjuk performa pejabat publik. Tak kecuali, saat resepsi pernikahan anak tercinta. Almarhum memilih tempat resepsi di Gedung Serbaguna Kompleks DPR RI Kalibata. Bukan di tempat yang menjanjikan fasilitas modern dan bergengsi.

Sohib Budi Youyastri telah tiada. Paruh Ramadhan kemarin, seolah firasat datang. Tak ada respons, saat dikirim pesan WA hingga telepon. Tersiar kabar sedang sakit. Belakangan dalam pemulihan. Usai IdulFitri, mendapatkan kabar tengah dirawat di ICU sebuah rumah sakit. Dilarang menerima kunjungan bezuk.

Saya bersaksi almarhum sebagai pribadi yang baik. Peduli sesama. Mudah menyapa dan disapa. Mudah menemui dan ditemui. Itulah kesan dan terekam dari sosok Budi Youyastri. Terasa begitu cepat kau meninggalkan fana. Kami kehilangan pribadi yang tak lekang dalam “perkawanan persahabatan”. Kini, kau dalam keabadian di alam baqa. Kembali ke Sang Khaliq, Allah Ta’ala. Selamat jalan, Sahabat.***

– Imam Wahyudi (iW)