UAS, Singapura dan Islamophobia

347

UAS, Singapura dan Islamophobia

(Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle)

Bakal Calon Wakil Presiden Prabowo 2019, Ustad Abdul Somad (UAS), merasakan kegetiran, setelah diusir dari Singapura beberapa hari lalu. Menurutnya dalam sebuah video, Singapura adalah tanah Melayu, tanah nenek moyang UAS, yang dikuasai pendatang. Malah dia, UAS, sebagai orang Melayu terusir dengan biadab dari tanah itu. Ini lebih buruk dari apa yang diceritakan STING, dalam lagunya Englishman in New York. Lagu satir seorang Inggris di negara yang dia dirikan.

Inggris, melalui tangan Sir Stamford Rafless, membangun Singapura pada tahun 1819, sebagai kota pelabuhan, setelah mendapatkan konsesi penggunaan lahan dari Sultan Johor, Malaysia. Setelahnya, 1842, Inggris membangun Hongkong. Kedua kota ini menjadi kekuatan keuangan dunia dan pelabuhan raksasa. Pada 1917 Inggris membangun Israel, negara untuk orang Yahudi yang terusir berabad-abad di Eropa. Sebelumnya, tanah Israel itu dijanjikan Inggris dan Perancis, kepada Arab Saudi agar Arab Saudi melawan Ottoman dalam perang Dunia I. Ternyata setelah menang perang Dunia I, tanpa sepengetahuan Prancis, Inggris, melalui Deklarasi Balfour, secara sepihak memberikan tanah Israel ke Yahudi-Zionis.

Peranan Jahudi (Zionis) atas koloni Inggris, khususnya dalam bidang keuangan, sangatlah besar. Sebab, orang-orang kaya Jahudi menguasai perekonomian di eropa, setidaknya, sejak abad ke – 19. Singapore, sejak merdeka sampai saat ini, menjalin kerjasama strategis yang dalam dengan Israel, baik dalam bidang pertahanan maupun keuangan.

Hendrajit, dalam “Singapura:Basis Regional CIA dan Mossad di Asia Tenggara”, The Global Review, 8/4/2010, menuliskan bahwa sitem pertahan Singapura dikembangkan oleh militer dan intelijen Israel. Dia menjelaskan Israel dan Singapura mempunyai ancaman strategis yang sama, yakni bangsa-bangsa Islam tetangganya.

Salah satu alasan penolakan UAS di Singapore adalah bagian tanya jawab dalam ceramahnya, tentang hukum fikih bom bunuh diri kelompok pejuang Islam di Palestina, terhadap tentara Zionis Israel. UAS tidak menyerang Singapura, bahkan dia menjadikan negeri jiran itu tempat pilihan rekreasi. Beberapa negara lain yang menolak, memang tidak mengungkapkan alasan, namun benang merahnya, terhadap isu Isarel, pasti akan terlihat nantinya.

Apakah UAS radikal?
Dalam tulisan saya pada Januari 2019, The Somad Power, berbasis kehadiran saya menyaksikan ceramah UAS, saya telah melukiskan bagaimana spektrum pemikiran UAS dan daya pikatnya pada rakyat jelata. Spektrum pemikiran UAS bersifat holistik dari sifatnya kesalehan individual kepada kesalehan sosial dan peranan negara. Dalam tulisan itu saya menyinggung pandangan UAS tentang menjaga kesalehan prempuan dan lelaki dalam konteks pernikahan remaja. Menurutnya mahar pernikahan jangan menjadi beban pria sehingga dia terjerumus ke zina.

Dalam kesalehan sosial UAS mendorong agar ummat Islam membeli produk pedagang muslim meskipun kurang kompetitif. Sebab, dominasi pedagang muslim diperlukan untuk melindungi kestabilan ekonomi ummat Islam. Dalam doanya dia mendoakan kemenangan Islam atas Israel, suatu saat nantinya, khususnya mendoakan agar para anak-anak lelaki Islam menjadi seperti Muhammad Al-Fatih yang mampu menaklukkan, Konstantinopel, Romawi Timur, di era lalu.

Uraian UAS dalam sebuah ceramah di atas, yang saya saksikan langsung, adalah ajaran standar sebuah agama, khususnya Islam, di mana jawaban-jawaban atas persoalan sosial merujuk pada sejarah dan keyakinannya. Sekarang, misalnya, jika orang-orang Ukraina melakukan bom bunuh diri mempertahankan negaranya dari invasi Rusia, apakah itu sebuah kesalahan? Orang-orang Palestina dalam pandangan Islam adalah orang yang diinvasi oleh Israel dan bersikap mempertahankan diri. Dan itu mempunyai legitimasi keagamaan kata UAS. Perspektif seperti ini, mempertahankan diri, adalah wajar dan tidak radikal. Dan pula UAS adalah penceramah, buka seorang aksioner.

*Konflik masa lalu, masa kini dan Islamophobia*

Pada masa lalu, konflik Indonesia vs. Singapura terjadi ketika Sukarno, Aidit dan Nyoto melakukan gerakan “Ganyang Malaysia”. Singapura adalah bagian Malaysia. Tiga tentara Indonesia, pada tahun 1965, dikirim untuk membom berbagai tempat vital di Singapura, sebagai upaya penciptaan kepanikan. Harapannya, pembentukan Federasi Malaysia, yang dituduh Sukarno sebagai antek imperialisme Inggris, bisa digagalkan.

Pemboman gedung Mac Donald, perkantoran strategis, dilakukan Serda Usman, Kopral Harun dan Gani. Usman dan Harun ditangkap, diadili dan dijatuhi hukuman gantung. Lalu dipulangkan ke Indonesia. Dimakamkan di taman makam pahlawan. Gani selamat.

Dalam berbagai sejarah dilukiskan Sukarno begitu membenci Singapura, karena mereka dianggap mengeksploitasi pulau Sumatra untuk kemajuannya secara tidak wajar. Wapres Hatta, tidak kalah bencinya dengan Singapura. Dalam sumpahnya, “Mohammad Hatta bersumpah tidak menginjakkan kakinya ke Singapura”, dan Hatta tidak menginjakkan kaki ke sana sampai wafat. Disebutkan Hatta tidak terima dengan hukuman gantung kepada dua tentara Indonesia itu. Oleh pemerintahan SBY nama keduanya dijadikan nama kapal perang dan oleh Jokowi, tahun 2016, di jadikan nama jalan menggantikan jalan Prapatan, di Jakarta.

Ketika Suharto berkuasa, pemulihan hubungan dengan Singapura dilakukan. Indonesia dan Singapura mempunyai kiblat politik yang sama, yakni Amerika dan barat. Sepanjang Suharto berkuasa, hampir tidak ada konflik berarti antara kedua negara.

Barry Desker dalam “The Trouble with Indonesia-Singapore Relations”, The Diplomat, 2015, mengetengahkan 3 hal yang selalu menjdi isu kekinian yang dapat memperburuk hubungan bilateral kita. Pertama adalah masalah asap, yang disebabkan oleh pembakaran hutan dari penjahat pembalak hutan di Riau dan Kalimantan, kedua adalah, masalah “air-space”, yakni kontrol penerbangan wilayah di atas Singapura dan beberapa wilayah Indonesia. Dan ketiga adalah masalah “Asset and Corruption”, di mana para koruptor Indonesia, menurut pihak Indonesia, mendapatkan tempat terhormat di Singapura. Memang kita mengalami kegagalan juga dalam hal koruptor-koruptor di atas, sebab budaya korupsi merupakan kesalahan kita sendiri. Namun, menggunungnya uang yang disimpan segelintir elit Indonesia di Singapura, yang mayoritas tidak jelas asal usulnya, tentu menjadi sumber kebencian laten, yang terpelihara bagi hubungan kedua negara.

Fakta sifat kelatenan itu terjadi sebagai berikut, pada saat Indonesia mengklaim beberapa prestasi dalam perundingan kontrol “air-space” beberapa waktu lalu, rakyat Indonesia tidak begitu peduli. Namun, ketika penolakan ulama Indonesia, UAS, masuk ke Singapura, berbagai sumpah serapah nitizen terkait Singapura sarang/surga koruptor Indonesia, menjadi trending pembicaraan. Sedikit saja perasaan Bangsa Indonesia tersinggung, hal laten ini muncul kepermukaan.

Problem yang terkait dengan UAS adalah Islamophobia. Kebencian terhadap Islam. Ini di luar pembahasan Desker di atas. Hal ini tentunya bukanlah hal baru di Indonesia. Gerakan Islamophobia berkembang bersamaan dengan penjajahan Belanda, khususnya ketika Snouck Hurgronje dan Van Der Plass melancarkan taktik melumpuhkan “Islam politik”. Namun, dalam konteks sejarah kedua bangsa, isu Islamophobia belum pernah terjadi. Saat ini, ketika PBB, Amerika dan barat secara umum melakukan gerakan anti-Islamophobia, Singapura malah terjebak dengan hal itu. Ini akan menjadi beban besar bagi hubungan Indonesia dan Singapura ke depan, tentunya.

Pertanyaan besar bagi Singapura adalah kenapa Singapura tidak memi-“block” Jokowi untuk masuk ke Singapura, padahal Jokowi membuat nama Usman dan Harun sebagai nama jalan? Bukankah dalam versi Singapura keduanya adalah teroris? Atau terhadap SBY yang menyematkan kedua tentara tersebut sebagai nama kapal perang? Kenapa Somad yang menyinggung bom bunuh diri di Palestina, bukan di Singapura, malah menjadi persoalan?

Kenapa Singapura tidak melepaskan diri dari pikiran geostrategis masa lalu yang melihat kebangkitan Islam di kawasan pasifik sebagai ancaman? Bukankah era baru ke depan dapat dibangun dengan kebersamaan dan sinergisitas? Bukankah Islam, demokrasi dan kemakmuran bersama dapat tumbuh berkembang di kawasan pasifik?

*Penutup*

Ustad Abdul Somad adalah ulama berkaliber nasional, bahkan multinasional. Organisasi Islam, baik yang disebut modernis maupun tradisional, yang diperkirakan tidak terjebak hubungan dengan Israel, secara besar-besaran mendukung UAS dalam kasus deportasi ini. Pemuda-pemuda Muhammadiyah, Al-Washliyah, Syarikat Islam, dll. rencana menggelar aksi protes atas deportasi ini. Gelombang kebencian Bangsa Indonesia kepada Singapura akan terus membesar. Diperlukan kata maaf pemerintah Singapura untuk hal ini. Setidaknya itu yang diinginkan Bangsa Indonesia.

Kita tunggu permintaan maaf Singapura atau kita tetap melihat hubungan sejarah kedua bangsa tidak akan berubah.***