Ridwan Kamil Merindukan Eril

0
142

Ridwan Kamil Merindukan Eril

Rasa duka cita mendalam. Rasa simpati tiada henti. Untukmu, Ridwan Kamil. Hari-hari dalam balut pilu. Sang ayah yang harus berpisah dengan anak tercinta. Pergi dan tak pernah kembali. Innalillahi wa’inna illaihi ro’jiun.

Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat — hakikatnya manusia biasa. Tak kuasa menahan rasa sedih dan pilu dalam hati. Tak sepadan jabatan, ketika harus kehilangan si buah hati. Delapan hari dalam pencarian dan penantian. Tidur tak nyenyak, makan tak enak. Bukan lagi status hilang (hanyut -pen). Hamparan Sungai Aare, Kota Bern, Swiss, masih membisu. Perlu waktu menunggu. Jasad Emmeril Kahn Mumtadz, belum ditemukan. Putra sulung Ridwan Kamil dan Atalia Praratya.

Betapa pun, telah ikhlas menghadapi kenyataan yang menimpa putranya. Tentu, ingin jasad Eril — sapaannya, bisa segera ditemukan. Ridwan Kamil pun “harus” pulang. Tugas memanggil. Cuti jabatan Gubernur Jawa Barat berakhir 04 Juni 2022. Sehari sebelumnya, Sabtu petang — Ridwan Kamil sudah tiba di Bandung. Tak terbayangkan, langkah gontai, tertunduk lesu dan minim gairah. Mungkin pula dengan tatapan kosong.

Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Hampir pasti, berjalan sambil memikirkan jasad anaknya yang belum ditemukan. “Tak ada ujian yang lebih berat daripada orangtua kehilangan anak,” kata Anies Baswedan. Rasa simpati dan empati dari sejawat Gubernur Jakarta.

Ridwan Kamil kembali bertugas, bukanlah keputusan mudah. Pergolakan batin berkelanjutan. Betapa sebagai ayah kehilangan suryanya. Tiba-tiba redup, langit pun kelam. Hati sedih dan merana. Kehilangan buah hati, jiwa pun terguncang. Rasa pedih dalam hati.

Tampak raut wajah Ridwan Kamil dalam kesedihan. Ingin rasanya menyampaikan pesan, sebaiknya berkantor di Gedung Pakuan. Tak mesti segera di Gedung Sate, Kantor Pemprov Jawa Barat. Setidaknya untuk satu dua pekan mendatang. Mengendalikan pemerintahan, sementara ini didampingi keluarga. Sambil memonitor lanjutan pencarian jasad ananda Eril.

Kepergian Eril untuk selamanya, mengingatkan bait awal “Gugur Bunga” karya Ismail Marzuki. “Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku…” Eril adalah pahlawan bagi perjalanan kemandirian. Tak lantaran sang ayah sebagai gubernur. Mengejar prestasi lewat studi. Nun berjarak negeri. Dia pahlawan bagi generasinya. Tak kenal lelah melangkah. Dia pahlawan bagi keluarga dan sang ayah yang tengah mengolah hikmah. Memimpin negeri dengan hati.

Hari-hari berlalu, Ridwan Kamil dan keluarga tersesak rindu. Rindu pada Eril. Merindukan Eril dalam pangkuanNya.***

Imam Wahyudi.
Wartawan senior di Bandung.