BUMN – Badan Usaha Maling Negara ?

0
156
Kantor BUMN Jakarta

by papi_Lapong

Apa iya sih seperti itu sebutan Kepanjangan nama BUMN dimata masyarakat sekarang ini ?

Dulu masyarakat sangat bangga ketika mendengar pekerjaan seseorang yg berhasil masuk bekerja di perusahaan swasta milik negara ini. Perasaan setiap orang tua dan kelurga akan melambung bangga jika anaknya di terima bekerja di jajaran perusahaan BUMN ini. Berbagai cara dilakukan orang perorang agar putranya dan putrinya bisa masuk bekerja di perusahaan swasta milik negara ini?

Karena untuk masuk kesitu sangat alot sebab di butuhkan skill dan persyaratan kualifikasi akademik yg tinggi bahkan rangking Perguruan Tinggi yg diterima juga kadang ikut menentukan. Misalnya untuk BUMN yang bergerak dibidang konstruksi bangunan, diutamakan kualifikasi akademik IP sekian, PT ini dari Fak itu; untuk Teknit elektro, mesin, informatika/Telekomunikasi, Agro/perkebunan, perbankan, Penerbangan, Kapal Laut, industri/pabrikasi dll.-nya pun demikian. Serba hebat dan menteren, dengan maksud mendapat gaji besar dan fasilitas yang mumpuni. Hampir rata2 pun setelah bekerja kehidupan mereka hidup memadai di banding kawan kawan mereka yang bekerja di tempat lain, ada semacam kebanggaan ekonomi dan proud karena mereka bekerja di BUMN.

Kebanggaan itu juga dirasakan oleh masyarakat luas, mulai dari pelayanan transportasi laut, udara, kereta api, telekomunikasi, perbankan, kontruksi, industri dll. menjadi hidup dan berjalan sebagaimana yang diharapkan untuk berkembang menjadi negara maju dan moderen, menjadi negara industri dan jasa yang terbaik minimal di Asia Tenggara sebab di dukung sumber daya alam yang luar biasa dan sumberdaya manusia yang besar.

Saya pernah berkunjung tahun 1993 bersama delegasi Komprensi Islam Internasional ke IPTN (Industri Pesawat Terbang Nurtanio) nama industri pesawat itu masih di jaman orba sebelum reformasi, salah satu industri BUMN dalam lingkup BPIS (Badan Pengolola Industri Strategis) yang ditangani langsung oleh BJ. Habibie di bawa Menristek/BPPT. Bagaimana bangganya saya dan para delegasi di perlihatkan hasil kerja anak-anak STM dan para Insinyur Engginer muda yang rata rata usianya 25 tahunan, membuat peluru rudal sepanjang 12 M pesanan negara-negara maju dan komponen komponen berat pesawat terbang tempur dan sipil, helikopter, sampai pada produk senjata canggih buatan PINDAP. Delegasi pun di buat terkagum kagum dibawa melihat ruangan desain dan pembuatan produksi tersebut sampai kepada ruangan uji coba produk produk tersebut. Yang lebih suprise adalah ketika semua peserta delegasi di bawa melihat Design Prototipe Satelit Indonesia masa depan yang akan di buat oleh bangsa ini. Sungguh mengagumkan saat itu !

Sekarang rakyat Indonesia tiba pada kenyataan sebaliknya melihat nasib BUMN- nya, satu persatu perusahaan BUMN kebanggaaan masyarakat Indonesia bertumbangan, dililit utang puluhan/ratusanTrilyun, dilepas di jual ke swasta/asing. Di era Megawati ada Indosat sampai di era Jokowi makin parah, naik turun bertumbangan dan lepas kepihak lain. Anda semua sudah tahu BUMN mana lagi yang akan lepas, di merger, atau di likiudasi dll ceritanya, silahkan baca di Mbah google.

Saya sebagai advocat kadang sudah malas baca aturan aturan hukum mengenai BUMN ini untuk di bedah secara hukum dan di analisa apa peyebab itu semua? Karena aturan rekstrukturisasi, efesiensi dan berbagai aturan untuk mendukung dan menyelamatkan BUMN ini tentu telah di buat, tapi BUMN kebanggaan masyarakat tetap saja – keok! Ada pameo dikalangan kawan kawan advokat yg pesimis dengan bangunan hukum negeri ini, yakni negeri ini rajin membuat aturan hukum tetapi untuk dilanggar dan diabaikan.

Merenung sejenak, dan tiba pada pertanyaan apakah itu salah kinerja para karyawan/pejabat BUMN yang mengelola perusahaan negara ini? Apakah ini juga seringnya intervensi tangan tangan kekuasaan pemerintah atau partai politik yang sibuk minta jatah komisaris dari para relawan relawan copras-capres, dan menjadi bancakan pesta pora di BUMN? Mungkin juga akumulasi dari kinerja malas bin korup BUMN dan intervensi kekuasaan sebagai simbiosa mutualis ?

Saya ingin menceritakan sedikit soal kinerja dan performance Bank Swasta Nasional milik Koh Oe (tak perlu saya sebutkan nama banknya) dibandingkan dengan bank milik BUMN. Saya nasabah bank milik swasta koh Oe sekaligus nasabah bank BUMN, disitu saya melihat perbedaan kinerja dan inovasi bank swasta milik Koh Oe dengan milik BUMN. Di bank swasta milik Koh Oe, sejak dari kendaraan Satpam nya sudah menyapa kita dengan senyum dan mengucapkan “selamat datang” dan sambil membuka pintu masuk, ke pihak telernya pun melayani kita sampai selesai dengan senyum serta cepat dan cekatan melayani nasabah, dan setiap harinya seperti itulah pelayanannya alias SOP mereka. Fasilitas elektronik ATM tarik tunai yang indah dan nyaman bahkan untuk menggangti kartu ATM yang hilang pun bisa melalui mesin yg disediakan, tampak hampir ada di setiap sudut jalan kota. Satu hal yg sangat istimewa adalah isi duit kita di ATM bisa ditarik habis sampai NOL, seakan mereka memuliakan nasabanya, tidak ingin merepotkan karena mengerti situasi yang berbeda dari setiap nasabahnya, menghargai bahwa uang itu adalah hak nasabahnya yang tak boleh ditahan. Mereka ham nilai KeTuhanan YME dan Kemanusiaan Yang Beradab.

Sekarang bandingkan dengan kinerja bank milik BUMN, masya Allah kita tepuk jidat dan banyak urut dada. Dari fasilitas apa adanya, banyak terlihat kumuh, pelayanan kurang memadai, banyak lelet dan menjengkelkan. Seakan ada reasoning dari mereka bahwa uang anda ada sama kami jadi ikut saja dan terima apa adanya pelayanan kami agar uang anda sebagai nasabah aman ditangan kami? Yang paling aneh kalau kita lagi boke mau ambil di ATM sampai habis sebab sangat di butuhkan untuk beli tahu tempe sekedar anak anak bisa tersenyum makan, tidak bisa kita ambil. Luar biasa jengkelnya! Ada teman saya berprediksi, jika saja bank Koh Oe beroperasi sampai ke desa bank BUMN semua bakal gulung tikar kali ya ?

Parahnya BUMN kita hari ini apakah seperti yang kita rasakan dan kita lihat seperti di atas ? Kinerja BUMN yang malas dan korup bersimbiosa dengan intervensi kekuasaan politik korup? Fakta akibat nya jelas terlihat perusahaan BUMN kita bergantian roboh seperti nasib Merpati Nusantar Airlines, PT. Kertas Leces, PT. PANN yang sudah almarhum, dllnya yang sudah beralih pemilik.

BUMN menjadi bancakan Badan Usaha Maling Negara.

PN. 5 Juni 2022