CABE catetan babe: Mesjid Kebayuran dan Buya Hamka

0
103

CABE catetan babe: Mesjid Kebayuran dan Buya Hamka

(Photo mesjid Al Azhar Kebayuran)

Menulis dan menyebutnya memang kebayUran dari kata BayUr. Bayur jenis jati pterospermum javanicum. Ini jati ringan. Material untuk daun pintu dan jendela juga perahu dan kapal. Di tahun 1905 Belanda tebang 110 ribu batang bayur di Jawa.
Pembangunan Kebayuran dilakukan sejak tahun 1948 di jaman pendudukan Jakarta oleh NICA.
Pembangunan dikelola oleh Centraal Stichting Wederopbouw CSW tahun 1948 hingga 1949, kemudian CSW lanjut sampai periode Walkot Syamsurizal berakhir tahun 1953 di jaman NKRI.

Lahan untuk pembangunan mesjid sudah tersedia di Jl Sisingamangaraja. Pembangunan mesjid dilaksanakan panitia lokal dan selesai sebelum Dekrit Presiden.
Akhir 1950-an Buya Hamka berdiam di Jl Palatehan dekat mesjdid Agung Kebayuran. Begitu sebutannya. Jamaah mengangkat Buya sebagai Imam Besar mesjid.
Suatu hari di awal 1960-an Syekh Al
Azhar Machmud Syaltut dari Mesir ke Indonesia dan shalat Jumat di mesjid Kebayuran. Buya minta Syekh memberi nama pada mesjid Agung Kebayuran. Syekh Syaltut menamakan Al Azhar.

Ketika Orde Lama dengan sokongan PKI makin keras berperilaku terhadap Islam di tahun 1962, umnat tiap Jumat dari mana2 sembayang di Al Azhar mencari kesejukan mendengar khutbah Buya Hamka. Saya pun bersepeda ke Al Azhar dari Sawah Besar

Suatu hari di tahun 1963 jamaah tak lagi dapat mendengar khutbah Buya Hamka. Beliau ditangkap dan di penjara.
Di tahun itu seorang tokoh pejuang dan aktivis Masyumi Kyai Syam’un bikin hajatan di rumahnya di Kampung Mauk Tangerang putranya berkhitan. Tokoh2 Masyumi yang hadir a.l Hamka dan Gazali Syahlan. Badan Pusat Intelejen yang dipimpin Subandrio mendakwa itu bukan hajatan tapi rapat gelap. Petugas BPI tangkap semua tokoh Masyumi yang ada di situ termasuk sahibul hajat Kyai Syam’un. Mereka dijebloskan di tahanan tanpa diadili. Tahanan politik itu juga disiksa. Saya bezoek Gazali Syahlan di tenpat tahanannya di Cipanas. Ia disiksa, mulutnya distroom.
Seluruh tahanan politik baru hirup udara bebas setelah terbit Orde Baru tahun 1966.

Ridwan Saidi.